
Menyadari bahwa komunikasi dengan mantan pasangan adalah hal yang penting untuk tetap menyeimbangan peran pengasuhan untuk anak. Zaid pun tetap berusaha untuk memberikan kabar kepada Erina terkait dengan perkembangan Raka. Bahkan, Zaid juga memberitahukan bahwa Raka sudah pulang ke rumahnya. Setidaknya, jika memang Erina ingin menemui Raka, maka tidak perlu ke Rumah Sakit lagi.
Hari ini pun menjadi hari kedua, di mana Raka sudah berada di rumah. Sama seperti yang disampaikan oleh Dokter Sonny bahwa perlahan bengkak di kening Raka mulai berangsur pulih. Wajahnya juga terlihat tidak begitu membengkak, karena keningnya juga mulai pulih.
"Pa, sudah lama ... Mama kok belum pulang sih Pa?" tanya Raka lagi kepada Papanya.
Dari pertanyaan yang ditanyakan oleh Raka sekarang terlihat jelas bahwa Raka masih ingat bahwa dalam ingatannya, Mama itu hanya pergi dari rumah. Akan kembali pulang. Untuk itulah, Raka bertanya-tanya kenapa Mamanya tidak ada berada di dalam rumah.
Tidak berselang lama ketika Raka usai bertanya, rupanya ada mobil hitam yang masuk ke dalam rumahnya. Mobil hitam yang sudah dikenali oleh Raka.
"Hati-hati Nak ... ayo, Papa bantu ke depan," ucap Zaid yang memperingatkan Raka yang hendak berlari.
"Mama datang, Pa ... Mama datang."
Seakan tak lagi mempedulikan bahwa kakinya baik-baik saja dan masih sangat bisa digunakan untuk berlari. Namun, Raka akhirnya memilih berjalan pelan-pelan dan membukakan pintu sebelum sang Mama mengetuk pintu.
"Mama ...."
Raka berteriak ketika Mamanya berjalan ke menuju ke dalam rumah.
"Raka ...."
__ADS_1
Mama dan anak yang sudah berpisah beberapa hari itu pun akhirnya bersua. Saling menyapa, saling memeluk. Sementara Zaid hanya berdiri mematung di belakang Raka. Dia mengamati pertemuan kembali Raka dengan Mamanya setelah beberapa hari berlalu.
Menoleh sejenak ke belakang, Raka pun bertanya kepada Papanya. "Papa, tidak memeluk Mama juga? Dulu biasanya kalau Papa pulang dari luar kota. Kita pelukan bertiga kan Pa?" tanya Raka di sana.
Zaid tersenyum pias. Ingatannya masih mengatakan bahwa Mama dan Papanya masih terikat dalam hubungan pernikahan. Zaid semakin yakin bahwa memori ingatan Raka yang hilang adalah kala dirinya dan Erina memilih berpisah. Kenapa ingatan itu bisa hilang? Mungkin saja itu adalah memori terpahit yang tidak ingin diingat oleh Raka. Memori di mana anak seusianya yang membutuhkan kasih sayang dari kedua orang tuanya, nyatanya harus kehilangan keduanya. Walau ikut dengan Papanya, tetap saja Raka juga membutuhkan kehadiran Mamanya.
Zaid pun sedikit membungkuk dan bergabung untuk memeluk Raka dan Erina. Namun, kala tangan Zaid hendak merangkul bahu Erina, terlihat Erina mengedikkan bahunya, tanda bahwa dia tidak ingin dipeluk oleh Zaid.
"Untuk Raka."
Zaid berucap, hanya bibirnya saja yang bergerak, dan tidak mengeluarkan suara. Namun, terlihat jelas kedua bola mata Erina yang mendelik di sana. Mengurungkan niatnya, Zaid memilih untuk menepuk punggu Raka saja. Tangan satunya hendak merangkul Erina, tetapi tangan itu seolah hanya melayang di udara tanpa mengenai bahu Erina sama sekali.
"Ayo, Ma ... masuk. Mama pergi dari mana sih? Raka nungguin loh," ucap Raka yang langsung menggandeng tangan Mamanya yang membawanya masuk ke dalam rumahnya.
"Hari ini Mama kan sudah pulang. Jadi, hari ini Mama tidak akan pergi lagi kan? Biasanya kan Papa yang bekerja, dan Mama yang ada di rumah. Kok sekarang Papa yang di rumah, dan Mama yang bekerja?"
Rasa ingin tahu dari Raka seolah membuat anak kecil itu mengajukan pertanyaan demi pertanyaan kepada Mamanya. Zaid masih diam, dia menunggu juga waktu untuk memberitahu Erina terkait hilangnya memori di dalam otak Raka. Hanya saja, ketika Raka masih rindu dan mengajukan banyak pertanyaan seperti ini, Zaid memilih untuk menunggu.
"Mulai hari ini, Mama jangan pergi ya Ma ... biar Papa saja yang bekerja. Kan Papa kepala rumah tangga, Ma ... katanya Mama kan seorang Papa harus bekerja," ucap Raka lagi.
Erina pun tersenyum di sana, "Mama banyak pekerjaan sekarang, Raka," jawabnya.
__ADS_1
Erina pun seakan tidak bisa menjawab dan memberitahu secara frontal bahwa dirinya memang sudah lagi tinggal di dalam rumah itu. Hanya saja mengingat Raka yang baru saja sakit, Erina mengurungkan niatnya. Dia memilih untuk menyampaikan bahwa sekarang dia bekerja.
"Mama sekarang yang bekerja, Raka ... Papa yang di rumah. Sebab, Papa ingin mengasuh kamu dan menjaga kamu," sela Zaid di sana.
Raka dengan bola matanya yang bening mulai menatap wajah Mamanya sekarang. "Mama bekerja sekarang? Mama kan bukan kepala keluarga ... kata Mama dulu yang harus bekerja itu Papa," balas Raka.
Terlihat jelas bahwa Raka ingin mendapatkan jawaban yang pasti. Jawaban yang bisa dia terima. Namun, seakan jawaban itu sangat tidak jelas untuknya.
"Mama, jangan bekerja, Ma ... biar Papa saja yang bekerja. Raka janji akan menjadi anak yang baik dan tidak nakal lagi Ma," ucap Raka di sana.
Kedua bola mata itu hanya menatap Mamanya dan sudah berembun di sana. Hingga akhirnya, Zaid memilih beranjak. Dia hanya ingin memberikan waktu untuk Raka dan Erina. Mungkin saja Mama dan anak itu membutuhkan waktu untuk berbicara dari hati ke hati.
"Tidak bisa, Raka ... Mama harus bekerja sekarang. Mama janji akan sering menjenguk kamu di sini. Oke?"
Raka kemudian menggelengkan kepalanya, "Di Rumah Sakit saja Mama tidak menjaga Raka setiap hari loh, Ma ... yang selalu menjaga Raka adalah Papa. Papa sampai tidak bekerja berhari-hari," balasnya.
"Nanti Mama akan sering ke sini yah," balas Erina lagi.
Raka tampak menunduk. Nyaris saja dia menangis. Akan tetapi, Papanya kembali ke sana dan merangkul putranya itu. Dia hendak memberikan pengertian lagi kepada Raka.
"Raka ... jangan sedih, nanti kalau Raka sedih, kepalanya bisa sakit lagi. Yang dikatakan Mama benar. Sekarang Mama yang bekerja, dan Papa yang akan mengasuh dan menjaga Raka di rumah yah. Kalau perjalanan bisnis Mama selesai, pasti Mama pulang," ucap Zaid dengan mengusapi punggung Raka.
__ADS_1
"Raka kangen Mama, Pa ... kangen Mama."
Anak kecil itu akhirnya menyandarkan kepalanya di dada sang Papa. Ketika pertanyaannya tidak dijawab dengan benar. Ketika dia mempertanyakan kenapa Mamanya tidak berada di rumah. Namun, Raka hanya bisa terkulai dan menerima semuanya. Ingatannya hilang, tapi perasaannya bisa merasakan bahwa kedua orang tuanya sedang bermasalah sekarang.