
Tanpa Erina dan Zaid ketahui di luar sana ada yang tengah terbakar. Pria blasteran itu tampak mengusap wajahnya kasar. Dia sangat yakin, suara yang dia dengar barusan adalah suara Erina dan Zaid.
Ya, dia adalah Erick. Pemuda itu mengunjungi butik milik Erina untuk membicarakan kerja sama dan melihat sketsa yang digambar oleh Erina. Namun, ketika dia sudah diperingatkan untuk naik ke lantai dua, Erick bersikeras untuk naik ke atas.
"Maaf, Pak Erick ..., Bu Erina sedang bersama orang penting sekarang. Pak Erick bila berkenan silakan menunggu di bawah," ucap Tina.
Ya, menurut Tina, kedatangan suami Bosnya untuk kali pertama ke sini tentu adalah karena hal yang penting. Tidak pernah sebelumnya Erina datang ke butik bersama suaminya. Lebih dari itu, sang suaminya pun menemaninya bekerja.
"Saya sudah janji sama Erina. Biarkan aku naik ke atas," balas Erick.
Tidak menyangka mendekati pintu ruangan kerja Erina saja sudah terdengar suara-suara erotis dari Erina dan Zaid di dalam ruangan itu. Erick sangat percaya bahwa keduanya sedang bercinta di dalam ruangan itu. Erick seakan tak percaya, semudah itu Erina memberi maaf dan memberi dirinya untuk Zaid.
Hingga akhirnya, Erick memutuskan untuk turun. Dia memilih menunggu di bawah. Tina pun menawari minum kepada Erick, sembari masih menunggu Erina.
"Mau minum Pak Erick?" tawar Tina.
"Tidak usah. Oh, iya ... siapa yang bersama Erina?" tanya Erick.
__ADS_1
"Oh, yang datang adalah suaminya Bu Erina, namanya Pak Zaid."
Mendengar jawaban yang diberikan oleh Tina, semakin yakinlah Erick bahwa di dalam ruangan itu sedang terjadi kegiatan panas antara Erina dan Zaid. Seketika Erick menjadi kesal, hatinya terbakar. Mati-matian dia selalu ada untuk Erina, memenuhi kebutuhan Erina, bahkan menjadi sahabatnya yang selalu ada ketika Erina butuh, tapi sekarang Erina justru kembali kepada suaminya.
Masih menurut Erick, Zaid adalah pria yang fokus dengan bisnisnya dan telah abai dengan Erina. Menurut Erick, apa yang Zaid lakukan benar-benar tak termaafkan.
"Sudah berapa lama?" tanya Zaid lagi.
"Sejak tadi pagi Pak Erick. Saya datang, Bu Erina dan Pak Zaid sudah di sini," balasnya.
Hampir dua puluh menit berlalu barulah, Erina dan Zaid keluar dari ruangan Erina. Wajah Zaid lebih segar, itu juga karena usai mandi di dalam kamar mandi yang ada di dalam ruangan Erina. Sedangkan Erina juga mandi. Untung ada hair dryer di dalam ruangannya sehingga rambutnya tidak basah. Tujuan keduanya turun karena sudah hampir jam 12.00 siang, dan Zaid akan menjemput Raka terlebih dahulu.
"Kita sudah ada janji untuk membahas sketsa desain kita," balas Erick.
Ah, barulah sekarang Erina ingat terkait dengan janjinya dengan Erick. Namun, Erina belum menyelesaikan sketsa itu.
"Sorry, Erick. Aku belum menyelesaikannya. Bagaimana kalau tiga hari lagi," ucap Erina yang sekarang sedang bernegosiasi dengan Erick.
__ADS_1
"Lama-lama kamu menjadi tidak profesional, Rin," balas Erick.
Erina mengakui bahwa yang terjadi hari ini adalah salahnya. Bahkan, Erina juga tak segan untuk meminta maaf kepada Erick.
"Sorry, Rick ... aku memang yang salah. Setelah ini, aku akan pulang, Rick. Jadi, aku berikan hari Kamis nanti," balas Erina.
Erina kemudian berpamitan kepada Tina, memasrahkan butik kepada Tina. Sebab, sekarang dia ingin pulang cepat. Turut menjemput Raka pulang sekolah. Sekarang, Erina dan Zaid keluar dari butik. Erick rupanya mengikuti Erina.
"Rin, kenapa kamu berubah? Aku bahkan mendengar suara kamu dan dia di ruangan itu," ucap Zaid.
Erina menghentikan langkah kakinya, kemudian dia menatap kepada Erick. "Erick, hubungan kita hanya teman. Jangan terlalu ikut campur dengan kehidupan rumah tanggaku. Jadi, kita berjalan sendiri-sendiri saja, Erick. Yang penting pekerjaan bisa jalan," jawabnya.
"Kenapa kamu melupakan semua perilaku suamimu itu, Rin?"
Sekarang seolah Erick menuding Erina. Kenapa semudah itu memaafkan Zaid. Seolah-olah sia-sia usaha Erick untuk menjauhkan Erina dan Zaid.
"Mas Zaid bilang dalam cinta ada maaf, Rick. Aku mencoba untuk melakukannya," jawab Erina.
__ADS_1
Zaid yang banyak diam kemudian berbicara kepada Erick. "Sudah kan Erick? Aku dan Erina akan pulang. Kami baik-baik saja. Saling memaafkan karena itulah hubungan suami dan istri yang sesungguhnya."
Setelah itu Zaid mengajak Erina untuk pulang. Membiarkan Erick yang terlihat begitu kesal, wajahnya juga sangat masam. Sudah pasti sekarang Erick terbakar cemburu. Namun, tidak bisa berbuat banyak karena Erina sudah menegaskan untuk bersama Zaid. Sekarang, Erina tak ingin terperdaya lagi. Akan setia dan komitmen dengan Zaid. Berusaha menjaga dan mempertahankan hubungan mereka berdua.