
Erina sekarang lebih intens untuk mengunjungi Dokter Kandungan. Seminggu sekali, dia sudah datang ke Dokter Indri dan memeriksakan perkembangan janinnya. Dokter Indri mengatakan bahwa posisi janin sudah bagus, tinggal menunggu untuk persalinan saja. Namun, karena Erina menginginkan persalinan secara normal, memang Erina diminta menunggu sampai tanda-tanda persalinan itu datang.
Sementara itu di rumah, Erina sebenarnya gelisah. Dia juga menunggu-nunggu kapan persalinan itu akan datang. Sekarang, Erina sedang duduk di balkon, sementara Zaid memberikan materi enterpreneur dengan menggunakan zoom di ruang kerjanya.
"Sudah 39 minggu, Nak ... kira-kira, kamu mau lahir kapan nih? Beri Mama sinyal yah," kata Erina seorang diri.
Dia berusaha melakukan sounding dengan babynya. Sembari berharap bahwa bayinya juga akan segera memberikan sinyal pembukaan hingga nanti akhirnya bisa bersalin dengan normal dan lancar. Menurut Dokter sendiri, usia kehamilan 39 minggu adalah masa yang cukup dan siap untuk melahirkan seorang bayi. Oleh karena itu, memang Erina sekarang menunggu gelombang cinta dari bayinya itu datang.
Di saat bersamaan, bayi di dalam rahimnya bergerak. Namun, kali ini rasanya sangat kencang. Pinggangnya juga nyeri seperti panas. Usai itu, Erina memilih masuk ke kamar mandi. Sebab, rasanya sekarang ingin buang urin.
Betapa terkejutnya Erina, ketika melihat bercak darah di celananya. Sehingga, Erina memilih untuk mengganti celana dan sekaligus memakai pembalut untuk berjaga-jaga. Namun, di saat bersamaan, rasa sakit itu menjadi-jadi. Interval kontraksi juga terjadi lebih intens. Kening Erina sudah berkeringat dingin karenanya. Dia kemudian mengusapi perutnya.
"Apa Adik bayi akan lahir sekarang?" tanyanya.
Erina menunggu. Setidaknya dia sudah memiliki pengalaman melahirkan saat Raka dulu. Sehingga sekarang, dia membuka aplikasi digital penghitung masa kontraksi. Jika memang kontraksi itu datang lebih intens, barulah Erina akan memanggil Zaid.
Sembari menunggu, Erina kemudian berjalan-jalan, tangannya mengusapi perutnya. Dalam hati, dia terus memberikan afimasi positif kepada bayinya. Selain itu, Erina juga berdoa di dalam hati supaya diberikan persalinan yang lancar.
__ADS_1
Sampai akhirnya, Erina merasakan interval kontraksi kian intens. Wanita itu mengganti pakaiannya terlebih dahulu. Koper juga sudah dia siapkan, setelah itu, dia menuju ke ruangan kerja suaminya. Erina tahu bahwa dia akan menginterupsi suaminya yang sedang sibuk. Akan tetapi, menurut Erina sekarang adalah waktunya untuk ke Rumah Sakit.
Pelan-pelan Erina mengetuk pintu kerja suaminya, dan membukanya dengan hati-hati. Benar, suaminya telah memberikan materi presentasi. Hingga akhirnya, Zaid meminta waktu break sejenak. Dia tahu kedatangan Erina ini tak biasanya, karena sebelumnya tak pernah Erina menyusul ke ruangannya.
"Kenapa, Sayang?" tanya Zaid.
"Aku sudah mulai keluar bercak darah. Interval kontraksi juga lebih intens. Kayaknya, sekarang waktunya bersalin deh, Mas. Kalau Mas Zaid masih sibuk, aku ke Rumah Sakit diantar supir aja," kata Erina.
Erina bisa memahami kesibukan Zaid. Sebab, pemberian materi itu masih berlangsung, dan masih terus berlanjut sampai setengah jam kemudian. Erina tidak masalah jika di diantar supir saja, nanti suaminya bisa menyusul kalau sudah selesai dengan presentasinya.
Erina juga mengakui bahwa sinyal babynya ini tidak tepat waktu. Di saat suaminya masih bekerja, menjadi nara sumber, justru gelombang cinta itu datang. Zaid kemudian meminta Erina menunggu lima menit. Dia akan menyelesaikan semua.
Erina menganggukkan kepalanya. Dia memilih menunggu di dalam kamarnya. Sementara Zaid menyampaikan kondisi darurat sekarang dan juga meminta maaf. Untuk setiap pertanyaan dari peserta bisa dikumpulkan dan lusa, dia akan menjawab khusus untuk semuanya.
Setelah itu, Zaid berlari ke kamarnya dia mencari Erina. "Sudah, Sayang ... ayo, kita ke Rumah Sakit."
Zaid sangat panik. Ini memang pengalaman kedua, tapi kepanikan itu seolah datang dan melanda begitu saja. Erina menganggukkan kepalanya. Dia juga sudah menahan dengan berjalan hilir-mudik dengan mengusapi perutnya. Sebisa mungkin Erina menahan supaya tidak menangis.
__ADS_1
"Kuat jalan?" tanya Zaid.
"Iya, masih kuat kok, Mas," balas Erina.
Zaid pun menunggu Erina, dan dia berpamitan dengan ARTnya, sekaligus menitipkan Raka yang masih sekolah. Nanti supir yang akan menjemput Raka ke sekolah. Sementara Zaid langsung melajukan mobilnya ke Rumah Sakit.
"Sabar yah ... sakit banget?" tanya Zaid.
"Ya, sakit," balas Erina dengan tersenyum. Dia masih berusaha untuk menahan rasa sakit.
Hingga akhirnya, tiba di rumah sakit. Erina langsung dibantu bidan dan perawat di sana. Sementara Dokter Indri sedang dalam perjalanan. Dengan seorang bidan, Erina melakukan pengecekan dalam terlebih dahulu. Rupanya sudah pembukaan lima. Terhitung cepat.
"Sudah pembukaan lima Bu Erina, sudah membawa pakaian dan perlengkapan bayi? Soalnya pembukaan lima itu termasuk dalam pembukaan aktif," jelas sang Bidan.
"Sudah," balas Erina.
Kemudian Erina dipindahkan ke kamar rawat inapnya dulu. Jarum infus pun dipasang di tangannya. Selain itu, bidan memberikan instruksi untuk berjalan-jalan kalau masih kuat dan juga berbaring ke kiri.
__ADS_1
Erina menganggukkan kepalanya. Semoga tak terlalu lama, babynya akan segera lahir. Erina terus berharap yang terbaik. Selain itu, ada Zaid di sisinya yang memberikan Erina semangat dan tidak panik untuk menghadapi persalinan yang sudah ada di depan mata.