Sadar Setelah Harta Terkuras

Sadar Setelah Harta Terkuras
Semua Tinggal Kenangan


__ADS_3

Sore menjelang malam Fajar tiba di rumah. Ia sangat lelah setelah mengikuti kegiatan ekstrakurikuler di sekolah dan perutnya juga sudah keroncongan. Tadi ia hanya membawa sedikit uang jajan pemberian ibu dan makanan yang dibeli tidak bertahan di perut hingga sore hari.


Ia membuka tudung saji di meja dan tak sepotong makanan pun yang ada di sana. Ia ke dapur dan membuka alat-alat masak yang ada di atas kompor tapi semuanya kosong dan tinggal perabot yang kotor dan berserakan di mana-mana.


Fajar kemabli ke ruang tengah di mana ada ibu, ayah, dan Tini yang lagi asik menonton.


"Minta uang!" seru Fajar dengan wajah ditekuk karena merasa jengkel melihat ibu dan Tini yang hanya ongkang-ongkang kaki sementara keadaan dapur sangat berantakan dan makanan pun tak ada. Ia menadahkan telapak tangan di depan ayahnya.


"Buat apa?" tanya Pak Gunawan.


"Buat beli makanan di warung," sahut Fajar dengan ketus.


"Nggak boleh boros-boros, Nak! Makan apa aja yang ada!" kata Pak Gunawan.


Fajar yang sudah kelaparan tidak mau lagi berdebat dengan ayahnya. Ia meraih ponsel ayahnya yang terletak di meja dan memeriksa lalu mengambil uang yang terselip di pengamannya. Selembar uang pecahan lima puluh ribu rupiah sudah berada di tangannya. Ia bergegas ke warung untuk membeli makanan tanpa peduli dengan omelan ayahnya lagi.


Rencananya Fajar mau makan di rumah tapi setelah dipikir-pikir akhirnya ia menikmati makanan yang sudah dibeli itu di warung saja. Sambil makan ia teringat kepada Kak Zarina yang sudah pergi.


Seandainya ia masih ada di rumah pasti keadaan dapur tidak akan berantakan dan pasti makanan juga selalu siap di meja tapi ada baiknya juga ia pergi supaya bisa lepas dari tekanan orang-orang di rumah. Hal itu yang muncul dalam benak Fajar saat ini.


Setelah menghabiskan makanannya ia kembali ke rumah dan mendapati ayah dan ibunya sedang adu mulut.


"Apa-apaan sih, kalian ini nggak siapin makanan, sekarang saya udah lapar, nih!" seru Pak Gunawan.


"Masak sendiri kalau lapar!" sahut Ibu yang masih menonton karena sinetronnya lagi seru.

__ADS_1


"Setahu saya, memasak dan menyiapkan makanan itu adalah tugas istri,"


Ibu Elis terpaksa beranjak dari tempat duduknya dengan malas. Ia menuju ke dapur dan membuka kulkas tapi tidak ada isinya kecuali seikat sayur bayam yang sudah mulai mengering.


Sementara itu perutnya juga sudah melilit karena lapar. Biasanya pada jam begini, Zarina sudah mempersilahkan mereka untuk makan tapi semua hanya tinggal kenangan.


Ia masuk ke kamar dan memeriksa dompetnya. Di sana masih ada terselip selembar uang pecahan dua puluh ribu. Bisa beli apa uang yang hanya selembar ini?


Gaji yang diterima bulan ini sudah ia gunakan untuk membeli pakaian dan perhiasan tanpa menyisahkan untuk belanja kebutuhan dapur sedangkan gaji suaminya diperuntukkan buat bayar biaya kuliah anak-anak.


Selama dua bulan terakhir ini mereka harta mengharapkan penghasilan Zarina dan tahunya hanya makan dan bersenang-senang sambil bersantai.


"Ini semua gara-gara Zarina!" ucap Tini yang juga datang ke meja makan dan membuka tudung saji tapi yang ditemukan hanya piring kosong bekas tempat ikan yang berada di meja sejak kemarin.


"Kenapa Kakak menyalahkan Kak Zarina? Dia itu sudah cukup sabar selama tinggal di rumah ini karena walaupun kalian menjadikan dia sebagai pembantu ia tetap sabar, namun kesabaran seseorang itu ada batasnya," Fajar membela Zarina karena selama ini ia perhatikan apa yang dikerjakan oleh kakak sepupunya itu bahkan pakaian kotor milik Kak Tini juga sengaja ia gabung dengan pakaian ayah dan ibu sehingga ikut dicucikan oleh Zarina.


Tini mencibir ke arah adiknya karena tidak suka dengan ucapannya yang memabela Zarina dan Fajar juga segera berlalu meninggalkan mereka karena tidak mau pusing, yang penting sekarang perutnya sudah kenyang, tinggal mau beristirahat di kamar. Malas mau berdebat terus dengan Kak Tini yang keras kepala.


"Sana, beli mie instan di warung Mak Ela!" Ibu Elis memberikan uang yang didapatnya di dompet tadi.


"Masakan kita hanya mau makan mie instan! Tambain dong uangnya!" ujar Tini.


"Uang Ibu tinggal segitu, udah sana cepat, Ibu juga udah lapar bangat!"


Pak Gunawan duduk termenung menghadap meja makan. Ia mencerna pembicaraan anak-anaknnya dengan istrinya. Jika memang uang yang hanya selembar tadi adalah uang terakhir milik istrinya, trus besok-besok mau makan apa, ini baru pertengahan bulan, jadi masih lama menunggu waktu untuk gajian. Sebagai kepala keluarga, Pak Gunawan jadi pusing memikirkan semua itu.

__ADS_1


Tak lama kemudian Tini sudah muncul di pintu dapur sambil menenteng kresek yang berisi beberapa bungkus mie intan dan bersamaan itu pula Irfan, adiknya juga tiba dari kampus dalam keadaan lapar.


Ibu Elis segera memasak mie tersebut lalu menghidangkan di meja makan.


Tanpa banyak protes lagi, Pak Gunawan segera menyantap nasi yang dicampur dengan mie itu.


"Kok, nggak ada yang lain?" tanya Irfan yang masih duduk bengong karena menunggu ada lauk yang akan dihidangkan tapi ia heran karena semua sudah duduk menghadap meja makan.


"Malam ini kita makan apa adanya," ucap Tini membuat adiknya itu kesal namun karena rasa lapar menderanya akhirnya dengan sangat terpaksa ia memakan nasi yang dicampur dengan mie itu.


Pak Gunawan yang paling cepat selesai makan. Ia meninggalkan meja makan tanpa suara dan meniju ke teras rumah. Biasanya pada saat seperti ini Zarina akan datang membawa segelas kopi hangat untuknya dan sekarang tinggal menjadi kenangan.


Setengah jam ia duduk termenung di teras lalu masuk ke rumah dengan maksud ingin menyuruh Tini untuk membuatkan kopi untuknya tapi setelah tiba di dapur, ia hanya menemui piring bekas makan yang berserakan di meja.


Tahulah Pak Gunawan jika selama ini semua pekerjaan tersebut dikerjakan oleh Zarina.


"Tini! Tini... !" teriaknya dengan keras.


Tini yang sedang bersantai di kamarnya kaget mendengar suara ayahnya yang memanggil-manggil namanya. Ia keluar dengan malas dan menghampiri sumber suara ayahnya yang berasal dari dapur.


Ibu Elis juga kaget karena mendengar teriakan suaminya yang tidak biasa.


"Apa-apaan kalian ini, sudah makan tendang piring! Pantas aja Zarina pergi dari rumah karena kalian benar-benar telah menjadikan dia sebagai pembantu. Sekarang saya baru tahu tentang kelakuan kalian!" Pak Gunawan benar-benar emosi karena ia tidak suka dengan pemandangan yang ada di hadapannya.


Ibu Elis dan Tini saling berpandangan lalu mulai memindahkan piring-piring kotor yang ada di meja ke tempat cucian sedangkan Pak Gunawan pergi meninggalkan mereka dengan hati kesal.

__ADS_1


__ADS_2