
Melihat keadaan di rumah yang sangat berantakan, Pak Gunawan jadi bosan dan kadang kala ia malas untuk pulang ke rumah setelah mengajar. Namun ia mau ke mana? Mau bersenang-senang juga tidak bisa karena semua itu butuh uang, sementara keuangannya lagi sedang tidak baik-baik saja.
Tidak lama lagi Tini akan ujian tutup dan tentunya akan butuh biaya yang tidak sedikit, kemudian Irfan dan Fajar juga akan membayar uang semester membuat Pak Gunawan pusing tujuh keliling.
Sore ini ia tiba di rumah dan langsung disambut dengan wajah cemberut istrinya di depan rumah. Istri biasanya menyambut sang suami yang pulang bekerja dengan senyum manis tapi tidak bagi Ibu Elis.
Mukanya muram karena Mak Ela tidak mau lagi melayaninya untuk ngutang dengan alasan yang tepat. Tadi Mak Ela mengatakan bahwa dia tidak punya modal lagi untuk diputar sehingga hanya memberi pinjaman barang kepada pelanggan dengan batas satu juta rupiah.
Pada bulan lalu, Ibu Elis hanya membayar setengahnya dari sekian utangnya di warung Mak Ela karena uangnya tidak cukup.
"Mas punya uang nggak?" tanyanya setelah sang suami sudah memarkir motor.
"Buat apa?" Pak Gunawan balik bertanya.
"Buat beli sayur dan lauk," sahut Ibu Elis.
"Bukankah dari awal kita sudah sepakat? Urusan dapur urusan Ibu dan biaya anak sekolah adalah urusanku!" ujar Pak Gunawan dengan tegas.
Ibu Elis diam karena apa yang dikatakan oleh suaminya memang benar. Ia meraih ponselnya dan menghubungi Zarina untuk pinjam uang tapi ia sengaja ke belakang agar tidak kedengaran sama suaminya.
__ADS_1
"Halo, ada apa, Tante?" suara Zarina dari ponsel.
"Kenapa kamu nggak pernah jalan-jalan ke rumah?" tanya Ibu Elis basa-basi.
"Maaf Tante, kapan-kapan saya luangkan waktu soalnya akhir-akhir ini selalu lembur di kantor," sahut Zarina.
"Kamu ada simpanan, nggak? Boleh pinjam Rp 300.000 aja, nanti kalau Tante gajian, uangnya langsung diganti," kata Ibu Elis dengan serius.
"Maaf Tante, tapi adanya cuma Rp150.000 soalnya baru-baru ini adik di kampung juga minta uang buat bayar biaya sekolahnya!"
"Yah, itu aja, kirim ke nomor rekeningku sekarang!"
Setelah menerima bukti dari Zarina bahwa uangnya sudah ditransfer, ia ke warung yang berhadapan dengan warung Mak Ela untuk menarik uang karena di warung tersebut terdapat BRI Link. Ia pun berbelanja dan pulang ke rumah.
Mak Ela yang melihat Ibu Elis, mencebikkan mulutnya karena kesal. Giliran punya uang, belinya di warung sebelah tapi kalau mau ngutang, warung Mak Ela yang jadi sasaran. Mak Ela mengomel panjang lebar.
Empat hari kemudian Ibu Elis kirim chat lagi ke Zarina dengan tujuan yang sama yaitu meminta uang dan Zarina pun mengirim sebanyak Rp 200.000. Kemarin ia menerima uang hasil lembur sebanyak Rp 250.000.
Ibu Elis selalu punya alasan untuk meminta pinjaman kepada Zarina dan ia sangat senang karena ponakannya itu tidak pernah mengecewakan dia.
__ADS_1
Setelah gajian ia tidak pernah mau menggantikan uang yang telah dipinjamnya dari Zarina. Sebenarnya ia ingat tapi sengaja pura-pura lupa dan memasuki minggu ke tiga setelah gajian ia mulai lagi meminta pinjaman kepada Zarina dengan perjanjian bahwa nanti sekalian dibayar dengan utang yang lalu pada bulan berikutnya. Begitulah seterusnya dan Zarina selalu percaya dengan janji yang diucapkan oleh tantenya.
Enam bulan kemudian Zarina tidak mau lagi meladeni permintaan Ibu Elis sesuai dengan saran dari sahabatnya. Erni meyakinkan dia bahwa Ibu Elis pasti tidak akan pernah mengembalikan uang yang sudah dipinjamnya.
"Apa kamu nggak percaya lagi sama Tante, kenapa nggak mau pinjami kami lagi uangmu?" suara Ibu Elis melalui telepon.
"Bukannya begitu Tante tapi baru-baru ini saya kirim uang kepada ayah dan ibu karena mereka juga sangat butuh," kata Zarina.
"Tapi pasti masih ada sisanya 'kan? Nggak mungkin juga kamu kirim semuanya kepada orang tuamu," seru Ibu Elis karena tidak percaya dengan ucapan Zarina.
"Maaf Tante, saya nggak punya lagi!" ucap Zarina.
"Pelit amat, sih!" gerutu Ibu Elis. Ia langsung memutuskan sambungan telepon.
Erni yang sedang baring-baring di tempat tidur mengarahkan jari jempolnya kepada Zarina.
"Nah, gitu dong, jangan terlalu lembek dan selalu iya-iya saja! Ingat, kamu itu capek cari uang lalu mereka enak-enak mau memorotimu!" ucap Erni dengan tegas.
Zarina baru sadar bahwa selama ini tantenya sudah memeras dirinya. Ucapan Erni telah membuka mata hatinya. Ia pun mulai menghitung-hitung uangnya yang sudah ia berikan kepada Ibu Elis yang besarannya sudah hampir tiga jutaan.
__ADS_1
Kini ia berjanji untuk berhenti meminjamkan uang kepada tantenya itu.