
Zarina merasa sangat terganggu karena Pak Ando selalu menghubunginya, kadang lewat chat dan kadang pula langsung menelepon.
(Maaf Pak, saya tidak bisa karena lagi sibuk menjahit!)
Zarina mengirim pesan yang telah diketik kepada Pak Ando yang sejak kemarin selalu menelepon dan mengajaknya untuk ketemuan.
Usai mengirim pesan, ponselnya ia letakkan begitu saja di meja lalu kembali memotong kain sesuai dengan pola yang sudah dibuat sebelumnya.
Sedang asyik dengan pekerjaannya, tiba-tiba ponselnya berdering tanda ada orang yang sedang menelepon namun ia tidak mau angkat karena sangkahnya yang menelepon adalah Pak Ando tapi ponselnya terus berdering hingga panggilan ketiga akhirnya ia merasa terusik dan menyuruh Yolan agar menjawab telepon tersebut.
"Halo!" suara di seberang sana menyapa dengan sangat riang.
Yolan menyodorkan ponselnya kepada Zarina dan memberi kode bahwa si penelepon bukanlah Pak Ando melainkan nama Erni yang tertera pada layar ponsel. Zarina segera marai ponsel tersebut dan bicara hampir satu jam. Sejak ia pulang ke kampung, baru kali ini Erni menghubunginya dan sekaligus memberi informasi bahwa pernikahannya dengan Roy akan digelar pada bulan depan, tepat di hari ulang tahunnya yang kedua puluh lima.
"Semoga saja tidak ada halangan!" sahut Zarina lalu mengakhiri pembicaraannya karena ponselnya juga sudah terasa panas.
"Ok, kami tunggu dan jangan lupa datang bersama pasangan!" goda Erni sambil cekikikan lalu memutuskan sambungan telepon.
Zarina melanjutkan pekerjaannya sambil senyum-senyum mengingat candaan sahabatnya. Belum selesai juga memotong satu baju tiba-tiba sebuah mobil berhenti di depan rumah membuatnya kembali menghentikan aktifitasnya dan selanjutnya melihat siapa yang datang.
Ia kaget setelah melihat Pak Ando turun dari mobil dan menenteng kresek yang entah apa isinya. Bisa jadi pakaian yang akan dipermak atau jahitan baru. Ia datang sendirian membuat Zarina bertanya-tanya dalam hati.
"Selamat siang!" sapanya dengan ramah.
"Selamat siang juga!" sahut Zarina dengan sopan.
Zarina mempersilahkan Pak Ando duduk di kursi yang memang sengaja disiapkan bagi para pelanggan yang datang berkunjung ke tempat ini.
"Ada yang bisa saya bantu, Pak?" tanya Zarina.
__ADS_1
"Maaf jika kedatangan saya mengganggu, kebetulan saya lewat jadi sekalian mampir untuk mengecek jahitan kami!" jawab Pak Ando dengan alasan yang tepat dan masuk akal padahal tadi ia berangkat dari rumah dengan satu tujuan yaitu ingin bertemu dengan Zarina, si tukang jahit yang sudah membuat ia selalu gelisah dan menumbuhkan sebuah rasa yang sulit untuk dijelaskan dengan kata-kata.
"Ohh, mungkin seminggu lagi jahitannya akan kelar," kata Zarina.
"Terima kasih sebelumnya!" ucap Pak Ando.
Sementara itu Yolan terus sibuk dengan tugasnya, mengobras kain yang sudah dipotong oleh Zarina dan sesekali ia mencuri pandang ke arah Pak Ando yang wajahnya berbinar-binar tanda bahwa ia menyukai Zarina.
"Eh, hampir lupa, nih ada kue buat kalian, semoga aja kalian suka!" kata Pak Ando sebelum berpamitan untuk meneruskan perjalanan.
"Aduh, Bapak repot-repot segala," ucap Zarina sambil tersenyum.
Rasa rindu Pak Ando sedikit bisa terobati karena sudah bertemu langsung dengan Zarina. Ia pulang ke rumah dengan semangat baru dan mengemudikan mobil sambil bersenandung.
Setelah Pak Ando pergi, Yolan mengganggu Zarina lagi dan meyakinkan bahwa si Bapak itu benar-benar sedang jatuh cinta.
"Bilang aja kalau kamu mau menikmati kuenya! Sana buka plastiknya, siapa tahu kuenya enak!" ujar Zarina yang mengerti dengan lirikan mata Yolan.
Yolan berhenti dari aktifitasnya lalu segera membuka plastik yang berisi kue itu.
"Hhmmm, baunya aja udah harum bangat, pasti kuenya enak!" kata Yolan.
Benar dugaannya, kue itu ada tiga macam. Semuanya kue basah dan masih hangat.
Zarina menyuruh Yolan untuk menyeduh teh terlebih dahulu kemudian keduanya duduk santai sambil menikmati kue tersebut.
"Andaikan setiap hari Pak Ando mampir ke sini untuk mengecek jahitannya pasti kita akan kenyang makan kue," Yolan berangan-angan membuat Zarina tertawa.
"Kamu tahu nggak, kue ini harganya mahal loh, nggak mungkin juga Pak ando mau bawa kue setiap kali datang ke sini!" kata Zarina.
__ADS_1
"Jangan dulu Kak, namanya juga orang yang sedang jatuh cinta, apa pun akan dilakukan untuk mendapatkan apa yang ia mau!" Yolan tidak mau kalah dalam berdebat.
"Terserah kamu aja deh!" ucap Zarina lalu menyeruput teh dengan nikmatnya.
Sebenarnya Zarina juga sudah merasakan bahwa perhatian Pak Ando kepadanya sudah berlebihan. Bayangkan saja setiap malam sebelum tidur ia selalu mengirim chat hanya untuk mengucapkan selamat malam dan selamat beristirahat. Demikian juga di pagi hari, chatnya selalu masuk dan mengucapkan selamat pagi dan selamat beraktifitas.
Apakah Pak Ando benar-benar serius dan mencintai Zarina?
Beberapa hari kemudian, tepatnya di malam minggu, Pak Ando benar-benar datang ke rumah Pak Adnan untuk bertamu dan sekaligus memperkenalkan diri. Sebenarnya Pak Adnan dan Ibu Dina sudah mengenalnya karena ia sudah beberapa kali datang mengecek jahitannya tetapi hanya sebatas mengenal sebagai salah seorang pelanggan yang mempercayakan jahitannya kepada Zarina.
Sikap dan caranya yang begitu sopan membuat Pak Adnan dan Ibu Dina simpati kepadanya. Mereka terlihat akrab walau baru sebentar saja mengobrol.
"Bolehkah saya izin keluar bersama Zarina?" tanya Pak Ando dengan hati-hati.
"Ngomong langsung aja, Zarina 'kan udah dewasa!" sahut Pak Adnan. Ibu Dina tersenyum dan menganggukkan kepala tanda setuju dengan ucapan suaminya.
Tak lama kemudian Zarina datang menghampiri mereka dengan berpenampilan yang cantik. Rupanya ia sudah saling mengirim pesan dengan Pak Ando sebelumnya.
"Pak, Bu, kami jalan dulu!" Pak Ando pamit untuk mewakili.
"Hati-hati!" ucap Pak Adnan dan Ibu Dina berbarengan.
Setelah deru mobil Pak Ando sudah tidak kedengaran lagi, kedua orang tua Zarina berbincang-bincang mengenai Zarina, anaknya yang akhir-akhir ini sering jadi bahan cerita orang-orang kampung sebagai perawan tua dan tentu saja hal ini membuat mereka merasa kasihan.
"Semoga anak kita mau menerima Pak Ando sebagai calon suaminya walaupun pria itu adalah seorang duda!" kata Pak Adnan.
"Iya, walaupun sudah punya cucu tapi dia kelihatan masih muda," Ibu Dina menanggapi perkataan suaminya.
Ibu Dina memahami keadaan Zarina yang selama ini selalu menutup diri ketika ada laki-laki yang ingin mengenalnya lebih jauh. Luka yang dirasakan ketika dicampakkan oleh Alga membuatnya enggan untuk mengenal pria lagi hingga Pak Ando muncul dan Zarina tampak kembali mulai bersemangat.
__ADS_1