Sadar Setelah Harta Terkuras

Sadar Setelah Harta Terkuras
Mungkin Sudah Takdir


__ADS_3

Zarina membuka hati untuk menerima cinta Pak Ando dan pesta pernikahan direncanakan akan digelar dua bulan kemudian karena dalam bulan ini mereka berencana ke Kalimantan untuk menghadiri pesta pernikahan Roy dan Erni sekalian untuk refresing.


Kehadiran mereka disambut hangat oleh keluarga Erni dan beberapa saat kemudian Hendra dan Violyn juga memasuki gerbang. Kedua orang tua Erni menyalami para tamunya dan mempersilahkan beristirahat di penginapan yang sudah disediakan.


Hendra mengucek-ngucek matanya untuk memperjelas penglihatannya karena sepertinya ia mengenal laki-laki yang berada di samping Zarina.


"Om Ando?!"


Mendengar ada yang menyerukan namanya, Pak Ando sontak menoleh ke arah sumber suara dan ia juga kaget melihat siapa yang memanggilnya.


"Kok, Nak Hendra ada di sini?"


"Om juga, kenapa ada di sini?"


Mereka yang ada di situ jadi bingung dan menatap keduanya secara bergantian.

__ADS_1


Hendra datang menghampiri Pak Ando dan memeluknya dengan erat.


"Maafkan Om karena tidak sempat memenuhi undangan ibumu di hari pernikahanmu dulu!" kata Pak Ando dengan nada sedih.


"Nggak apa-apa, kami mengerti kok, lagian jarak terlalu jauh," sahut Hendra.


"Apakah wanita yang bersamamu itu adalah menantuku?" tanya Pak Ando sambil melirik ke arah Violyn.


Violyn mendekati mereka dan mengulurkan tangannya untuk bersalaman dengan Om Ando sekalian berkenalan.


"Terima kasih atas kehadirannya! Mari, saya antar ke lantai dua!" Erni mengajak mereka menaiki tangga yang menghubungkan lantai bawah san lantai atas sekalian menunjukkan kamar untuk beristirahat.


Mereka mengikuti Erni yang berjalan di depan sebagai penunjuk jalan melewati beberapa ruangan. Rumah orang tua Erni tergolong luas dan memiliki beberapa kamar baik di lantai satu maupun lantai dua.


Mereka duduk di ruang tengah yang terdapat di lantai dua untuk menikmati minuman dingin karena cuaca lagi panas.

__ADS_1


Hendra masih penasaran dengan kehadiran Om Ando dan ia sangat kaget setelah tahu bahwa Om Ando adalah calon suami Zarina. Ia merasa kasihan kepada sahabatnya yang akan menikah dengan duda beranak enam. Harusnya Hendra senang mendengar berita tersebut karena Om Ando adalah pamannya tapi sebagai ponakan ia sangat hafal sifatnya pamannya yang keras kepala dan egois itu dan hal itu pulalah yang sering membuat hubungan mereka dulu tidak terlalu akrab.


"Apakah kamu tidak akan menyesal nantinya bersuamikan dengan pria yang usianya terpaut jauh dari usiamu dan sudah berstatus sebagai duda?" bisik Hendra kepada Zarina ketika ada kesempatan.


"Mungkin ini sudah menjadi takdir saya," sahut Zarina dengan pasrah.


"Semoga semuanya akan baik-baik saja, tapi kamu harus tahu bahwa Om saya itu punya sifat keras kepala dan egois!" Hendra berkata dangan pelan karena melihat Om Ando berjalan ke arah mereka.


"Om dari mana? Kami udah menunggu, katanya kita akan sarapan di lantai satu," ujar Hendra untuk mengalihkan perhatian Om Hendra agar tidak curiga jika mereka sedang membicarakan dirinya.


"Dari toiletm. Yuk, kita ke lantai satu!" ajak Om Ando.


Zarina dan Violyn sudah jalan duluan menuruni anak tangga.


Setelah selesai sarapan mereka berencana menggunakan waktu sehari ini untuk mengunjungi salah satu tempat wisata yang ada di Kalimantan ini, sekalian untuk refresing karena pesta pernikahan Erni dan Roy baru akan digelar sebentar malam.

__ADS_1


__ADS_2