Sadar Setelah Harta Terkuras

Sadar Setelah Harta Terkuras
Masih Terukir Indah


__ADS_3

Tak terasa waktu terus berlalu hingga besok tepatnya hari pernikahan Pak Ando dan Zarina akan digelar di kediaman Pak Adnan dan Ibu Dina. Sudah hampir dua pekan terakhir ini rumah mereka selalu ramai. Para kerabat sudah mempersiapkan segala sesuatunya demi mendukung lancarnya pelaksaan kegiatan besar tersebut dan saat ini keluarga yang jauh pun sudah mulai berdatangan satu per satu.


Demikian juga dengan Pak Gunawan bersama Ibu Elis serta Tini dan Galy yang juga tak ketinggalan bahkan anaknya yang baru berumur satu tahun dua bulan tidak jadi alasan untuk tidak ikut ke kampung. Tini yang sejak lahir hingga sudah memiliki anak belum pernah menginjakkan kaki di tanah kelahiran orang tuanya, itulah sebabnya ia sangat nekat untuk ikut.


Alga bingung dengan perasaannya saat ini. Ia seakan tak mampu untuk menyaksikan mantan kekasihnya yang akan duduk di pelaminan bersama seorang pria dan di sisi yang lain ia ingin bertemu dengan mantan kekasihnya itu yang sampai kini namanya masih terukir indah dalam sanubarinya.


Selama hidup bersama Tini sebagai sepasang suami-istri tak jarang ia putus asa dengan sifat asli Tini yang muncul setelah hidup selama beberapa bulan. Tini sangat boros dan malas bekerja bahkan ia jarang sekali meluangkan waktu untuk menjaga anaknya sehingga Maira, putri mereka itu lebih lengket dan akrab dengan penjaganya dibanding dengan ibunya. Awalnya Alga tidak mau jika harus menyewa baby sister karena pikirnya, istrinya mau kerja apa di rumah karena sejak menikah ia berhenti kerja di kantor.


Kehidupan mereka mengalir begitu saja tanpa ada romantis-romantisnya di rumah dan bisa di hitung berapa kali Alga tidur sekamar dengan istrinya. Ia lebih banyak menghabiskan waktu rebahan di sofa saat berada di rumah dan tidurnya juga di depan TV.


Bagi Tini, hal tersebut tidak dipermasalahkan yang penting baginya dompet miliknya tidak pernah kosong dan ATM selalu punya saldo untuk dipakai happy-happy bersama teman-teman satu ganknya.


"Mas udah siap?" tanya Tini yang datang menghampiri Alga yang lagi duduk di ruang tamu dan masih santai dengan ponselnya.

__ADS_1


"Dari tadi juga saya udah siap, hanya kalian saja yang masih mondar-mandir nggak jelas, gitu," sahut Alga tanpa menoleh.


Akhirnya mereka berangkat. Mbak Reni, pengasuh Maira juga diikutsertakan untuk mengurus Maira karena tidak mungkin Tini mau turun tangan untuk mengurus anaknya.


Mereka menempuh perjalanan melalui udara dengan pesawat terbang lalu disambung dengan naik mobil selama satu hari perjalanan. Tentu perjalanan ini memakan biaya yang tidak sedikit dan dan semua itu ditanggung oleh Alga. Masih beruntung karena kedua adik Tini, Fajar dan Irfan tidak ikut, keduanya sedang sibuk kuliah.


Selama dalam perjalanan, Alga banyak diam. Hatinya sebal mendengar ibu mertuanya dan Tini yang sibuk dengan rencana yang akan mereka lakukan ketika tiba di kampung nanti . Ada nada-nada sombong tersirat dari pembicaraannya yang ingin memamerkan diri sebagai orang kaya kepada orang-orang yang ada di kampung.


"Tolong, kita singgah sebentar di toko sembako, mau beli oleh-oleh yang banyak buat sanak keluarga di kampung!" kata Ibu Elis kepada pemilik mobil yang mereka rental untuk beberapa hari ke depan.


"Mas sepertinya kartu ATM-ku udah kosong nih, transfer sekarang ke sini dong!" ucap Tini ketika sudah berada di mobil.


Sekilas Alga meliriknya lalu kembali fokus dengan ponsel di tangannya. Tini mengira bahwa suaminya sedang membuka aplikasi BRImo untuk segera memenuhi permintaannya, namun hingga beberapa saat SMS banking yang ditunggu-tunggu tak kunjung berdering membuatnya merasa kesal dan wajahnya cemberut.

__ADS_1


Sementara itu Alga yang sedang fokus ke layar ponsel tapi pikirannya kacau mengingat permintaan istrinya yang sudah di luar kewajaran. Kemarin ia baru saja transfer uang sebanyak Rp 10.000.000 ke rekening istrinya, masakan sekarang minta lagi padahal semua biaya perjalanan, dirinya yang tanggung. Trus uang yang di transfer ke rekening istrinya diapakan?


"Kita udah hampir tiba, mungkin sekitar dua puluh menit lagi," ujar Ibu Elis.


Alga menengok ke luar jendela dan melihat suasana pedesaan yang sejuk. Kendaraan yang lewat hanya satu dua saja, tidak ada suara bising seperti di kota.


Pak Gunawan kagum melihat keadaan desa yang sudah banyak berubah. Rumah-rumah penduduk sudah agak rapat padahal waktu ditinggal dulu, rumah penduduk sangat jarang.


"Mas udah transfer?" tanya Tini lagi dengan tidak sabar.


"Isi ATM-ku juga sudah menipis, tinggal biaya nanti kita pulang ke Jakarta," sahut Alga dengan santai.


"Apa sih susahnya hubungi bagian keuangan di kantor untuk trasfer uang ke rekening, Mas!" seru Tini dengan sewot.

__ADS_1


Alga diam karena tidak mau berdebat lagi dengan istrinya yang tidak pernah puas dengan uang.


__ADS_2