Sadar Setelah Harta Terkuras

Sadar Setelah Harta Terkuras
Menghadiri Penikahan


__ADS_3

Pak Alga ingin sekali memaki-maki Tini karena kehamilannya tapi ia tidak punya alasan. Tanpa tes DNA pun ia juga tahu bahwa janin yang ada di perut Tini adalah anaknya.


"Kita harus segera menikah, Pak!" ujar Tini ketika sudah berada di ruang kerjanya.


Pak Alga masih diam dengan wajah muram. Tini dapat merasakan bahwa Alga sangat tidak menginginkan hal ini terjadi tapi ia tidak akan bisa menolak karena bukti ada di ponsel milik Tini.


"Bapak tidak boleh mengelak apa lagi sampai mau lari dari tanggung jawab karena pada ponsel ini terdapat bukti ketika kesucianku kau renggut!"


"Tapi waktu itu saya tidak memaksamu,"


"Benar, Bapak tidak memaksa saya dan saya pun tidak memaksa Bapak. Intinya kita sama-sama mau dan sama-sama menikmati. Jadi, sekarang saya akan pulang dan memberi tahu keluargaku agar mereka bersiap-siap karena akan kedatangan tamu untuk memyampaikan lamaranmu!"


Tini segera merapikan barang-barangnya yang berserakan di meja lalu bersiap untuk pulang.


"Awas Pak, kalau nggak segera melamar saya, keluargaku akan bertindak!" ucap Tini dengan tegas sebelum keluar dari ruangan tersebut.


Tini sangat kesal melihat sikap Pak Alga yang kurang senang mendengar kabar kehamilannya. Pada hal selama ini laki-laki itu sangat menikmati tubuhnya, walaupun Tini sadar bahwa Alga tidak cinta kepadanya dan pertama kali melakukan persetubuhan dengannya karena pengaruh obat perangsang yang ditaruh pada air minumnya.


Pak Alga stres dan sepanjang hari itu ia tidak bisa bekerja dengan maksimal. Akhirnya ia memutuskan untuk pulang ke rumah setelah mendapat telepon dari Tini bahwa berita kehamilannya sudah sampai ke telinga kedua oramg tuanya.


Tiba di rumah, Alga jadi bingung untuk memulai dari mana ia harus mengungkapkan keinginannya untuk menikahi Tini.


Setiap kali ia mau bicara, tenggorokannya terasa kelu dan akhirnya ditunda lagi hingga malam hari. Setelah menikmati makan malam, ia memberanikan diri angkat bicara.


"Pak, Bu, saya ingin menikah dengan Tini!"

__ADS_1


Pak Rafi dan Ibu Gita saling berpandangan karena tiba-tiba saja Alga ingin menikahi sekretaris barunya pada hal selama ini mereka tidak pernah mendengar bahwa telah terjalin hubungan yang sepesial di antara keduanya.


"Kamu yakin?" tanya ayah dan ibunya hampir bersamaan.


"Iya dan tolong segera lamar dia biar acara pernikahan segera digelar!" sahut Alga.


Ibu Gita dan Pak Rafi senang mendengar kabar ini dan malam itu juga mereka menghubungi beberapa sanak keluarga untuk membahas rencana selanjutnya.


Satu bulan kemudian, undangan pernikahan antara Alga dan Tini sudah diedarkan kepada kerabat dan juga kenalan.


Zarina juga mendapat undangan dari Tini, adik sepupunya. Ia merasakan tubuhnya panas dingin ketika membuka kertas undangan yang diantar oleh seseorang le rumah kostnya. Apakah saya tidak sedang bermimpi? Zarina mencubit lengannya sendiri dan terasa sakit lalu kembali mencermati kata-kata yang tetera serta foto praweding Alga dan Tini yang terdapat dalam undangan tersebut.


Ada luka yang tergores ia rasakan. Luka karena di usir oleh sang kekasih dan saat ini luka itu bagaikan disiram lagi dengan air garam. Mantan kekasihnya yang namanya masih terukir di dalam hati akan menikah dengan adik sepupu. Itu berarti, Alga akan menjadi bagian dari keluarga besar mereka. Tak terasa air mata menetes membasahi surat undangan yng masih ia genggam dengan erat. Sanggupkah Zarina untuk datang menghadiri pesta pernikahan sang mantan kekasih?


Awalnya Zarina berencana untuk tidak hadir pada pesta tersebut tapi tiba-tiba ia mendapat telepon dari kedua orang tuanya yang ada di kampung dan berpesan agar hadir pada pesta pernikahan Tini sebagai perwakilan keluarga karena mereka tidak bisa hadir lantaran tak punya biaya untuk membeli tiket pesawat.


Tiba di rumah Tini, suasana sudah ramai oleh para tamu yang berdatangan. Namun suasana yang ramai itu terasa hampa bagi Zarina. Sekilas ia mengarahkan pandangannya ke pelaminan dan berasamaan itu pula Alga juga menatapnya membuat tubuhnya berkeringat dingin.


Tatapan mata yang masih seperti dulu yang selalu mampu menggetarkan hatinya. Buru-buru ia mengalihkan pandangannya dan mengikuti Roy dan Erni yang berjalan di depannya.


Sementara itu Alga yang duduk di pelaminan merasa sangat bersalah karena terbukti bahwa Zarina tidak punya hubungan apa-apa dengan pria yang dicemburuinya beberapa waktu yang lalu.


Tidak berselang lama, Hendra Artawan bersama Violyn, istrinya yang cantik juga datang ke pesta tersebut. Mereka juga dapat undangan karena ada hubungan keluarga antara Pak Rafi dengan orang tua angkat Hendra tapi hal ini tidak diketahui oleh Alga.


Hendra dan Violyn adalah pasangan yang sangat serasi dan keduanya berjalan sambil bergandengan tangan dengan mesra. Ada banyak pasang mata yang iri melihat pasangan itu, termasuk Alga yang kini sudah duduk berdampingan dengan istrinya tapi ia tidak yakin, apakah nantinya bisa hidup bahagia seperti Hendra dan Violyn yang menikah atas dasar cinta.

__ADS_1


Melihat kedatangan Hendra bersama istrinya, Erni melambaikan tangannya dan keduanya pun menuju ke tempat duduk yang masih kosong tepat di dekat tempat duduk Erni, Roy, dan Zarina.


Mereka tampak sangat akrab. Mereka tahu bahwa sahabatnya sedang terluka, karena itu Hendra berusaha menciptakan lelucon yang sudah jadi kebiasaanya sejak dari dulu sampai sekarang hingga derai tawa mereka terdengar mengundang perhatian para tamu yang lain.


Acara demi acara berlangsung dengan baik dan Tini yang duduk di pelaminan terlihat sangat senang dan bangga bisa bersanding dengan pria tampan yang kaya raya.


Ibunya yang duduk mendampingi juga sangat senang karena mendapatkan seorang menantu dan besan yang memiliki sebuah perusahaan ternama di kota itu. Ia tersenyum membayangkan putrinya yang akan menjadi orang kaya.


Sementara itu pengantin laki-laki menjadi sorotan para tamu karena wajahnya muram sehingga menimbulkan tanda tanya bagi para tamu yang hadir. Sesekali ia mencuri pandang kepada Zarina yang sedang duduk dengan tenang di antara sahabatnya. Ia tahu, gadis itu sedang terluka tapi apa mau dikata, nasi sudah jadi bubur.


Tak terasa waktu terus bergulir dan rangkaian acara sudah tiba pada acara terakhir yaitu bersalaman dengan pengantin.


"Hey, teman-teman, ingat pesan saya tadi, nanti kalau kita naik ke pelaminan, semua harus pasang wajah yang tidak bersahabat dan jangan ada di antara kita yang ngomong sepata kata pun!" kata Erni dengan serius. Rupanya ia sangat demdam kepada Alga karena telah menyakiti hati sahabatnya.


Violyn dan Hendra merasa ragu tapi demi persahabatan keduanya pun mengangguk tanda setuju dengan usul yang disampaikan oleh Erni.


"Tapi saya harus memberikan ucapan selamat kepada adik sepupuku," ujar Zarina dengan jujur.


"Boleh, tapi hanya buat pengantin perempuan!" kata Erni.


"Aduhhh, kamu ini ada-ada, aja," ucap Roy.


"Biar Pak Alga tahu rasa!" ujar Erni dengan emosi.


Mereka lalu berjalan beriringan ke pelaminan dan berjabat tangan dengan pengantin. Erni senang karena sahabat-sahabatnya mengikuti apa yang diperintahkan.

__ADS_1


Zarina sendiri pura-pura melirik ke arah lain setelah memberikan ucapan selamat kepada Tini dan ia tidak sempat menyentuh tangan Alga yang sudah diulurkan untuk bersalaman dengannya karena Erni sengaja mendorong tubuhnya dengan kasar. Untung ia lincah memegang bahu Roy yang berjalan di depannya sehingga tidak terjembab ke lantai.


__ADS_2