Sadar Setelah Harta Terkuras

Sadar Setelah Harta Terkuras
Pengen Nimang Cucu


__ADS_3

Pukul 04.30 WIB Zarina sudah bangun walaupun semalam ia lambat untuk tidur tapi jam bangunnya pagi ini tetap karena sudah terbiasa. Ia selalu bangun pagi ketika penghuni rumah masih terlelap dalam balutan selimut dan mereka akan bangun ketika semua pekerjaan selesai dikerjakan oleh Zarina dan makanan untuk sarapan sudah siap di meja.


Pagi ini ia masih mengerjakan pekerjaan di dapur hingga beres semuanya seperti biasa lalu mengangkat barang-barangnya ke teras rumah karena Erni sudah mengabarkan bahwa orang yang akan menjemputnya sudah jalan.


Mendengar suara pintu utama berderit, Pak Gunawan terbangun dan sambil mengucek-ngucek matanya ia menghampiri Zarina yang sudah siap berangkat.


"Selamat pagi, Om, saya pamit dulu dan tolong sampaikan permintaan maaf saya kepada Tante, Tini, Fajar, dan Irfan karena tidak menunggu mereka sampai bangun soalnya yang mau jemput saya sudah dekat!" ujar Zarina. Ia mengulurkan tangannya untuk menjabat tangan Pak Gunawan dan bersamaan itu pula sebuah mobil berwarna silver sudah berada di depan rumah.


Seorang laki-laki turun untuk membantu Zarina mengangkat barang-barangnya ke mobil. Pria itu mengenakan topi warna hitam, kaca mata riben, dan juga masker. Zarina tidak mau ambil pusing untuk mengatahui seperti apa wajah pria tersebut karena yang paling penting sekarang ada orang yang akan mengantarnya ke rumah kost.


Ada segurat kesedihan yang tergambar pada raut wajah Pak Gunawan melepas kepergian Zarina. Bagaimana tidak, selama gadis itu berada di rumahnya, ia merasa selalu diperhatikan. Zarina yang selalu membuatkan kopi setiap kali ia menginginkan bahkan tanpa diminta Zarina sudah tahu kapan waktunya Pak Gunawan menginginkan minuman kesukaannya itu.


"Terima kasih sudah menjemput dan membantuku untuk menaikkan barang-barang ini ke mobil!" ucap Zarina dengan tulus.


Pria yang menjemputnya itu hanya menganggukkan kepala.


Zarina naik ke mobil tersebut dan melambaikan tangan kepada Pak Gunawan yang masih terpaku di tempatnya.


Tiga puluh menit menempuh perjalanan akhirnya mobil yang ditumpangi oleh Zarina tiba di rumah Ibu Leni. Di teras rumah Erni menyambut kedatangannya dengan senang.


Setelah semua barang-barang milik Zarina diturunkan dari mobil, Erni menghampiri pak sopir dan entah apa yang dibicarakan. Mungkin soal biaya tapi Zarina sudah meminta kepada sahabatnya itu untuk menalangi dulu karena saat ini ia benar-benar tidak punya simpanan. Ia berani meminjam karena dua hari lagi mereka akan terima gaji lagi di kantor.


"Terima kasih Pak sopir!" teriak Zarina dari teras rumah ketika melihat mobil yang datang mengantarnya tadi sudah bergerak. Ia tidak peduli, apakah orang itu dengar atau tidak karena kaca mobilnya sudah ditutup dengan rapat.


"Bagaimana perjalanannya tadi?" tanya Erni sambil membantu mengangkat tas ke kamar yang akan dihuni oleh Zarina.


"Biasa aja, tapi pak sopirnya pendiam amat sih, nggak pernah sekalipun ia menanggapi setiap kali saya ngomong, dia hanya menggeleng dan menganggukkan kepala. Apa teman kamu itu bisu?" tutur Zarina sedikit kesal.


Erni tertawa mendengar komentar sahabatnya.

__ADS_1


"Bukannya bisu tapi dia memang irit bicara. Mungkin karena barusan ketemu dengan cewek cantik soalnya kalau ketemu dengan saya, dia adalah cowok yang paling bar-bar," kata Erni.


"Oh, ya," Zarina manggut-manggut mendengar penjelasan dari Erni.


Setelah semua bearang milik Zarina sudah dipindahkan ke kamar, Erni dan Zarina pamit kepada Ibu Leni karena waktu sudah menunjukkan pukul 07.30 WIB. Keduanya takut telat tiba di kantor.


Sementara itu Alga yang sudah berada di kantor merasa gelisah dan menginginkan waktu berjalan dengan cepat dan jam istirahat segera tiba. Ia ingin membuktikan, apakah Zarina akan melakukan perintahnya atau tidak.


Sepuluh menit sebelum jam istirahat, terdengar ketukan di pintu dan Alga sangat yakin jika itu bukan Zarina karena tidak mungkin gadis itu berani meninggalkan pekerjaannya sebelum jam istirahat.


"Ibu! Ada apa Bu, tiba-tiba datang ke kantor?" tanya Alga setelah membuka pintu. Ia kaget dan heran karena tadi pagi saat pamit mau berangkat ke kantor, ibunya tidak pernah bilang akan menyusul juga.


Ibu Gita belum menjawab pertanyaan anaknya, tiba-tiba Seyla muncul membuat Alga jengkel.


"Hey Tante... apa kabar?" sapa Seyla seramah dan sesopan mungkin.


Tanpa dipersilahkan oleh Alga, Seyla menggandeng tangan Ibu Gita lalu masuk dan duduk di sofa.


Alga semakin geram melihat tingkah Seyla yang selalu berusaha cari muka di depan ibunya.


"Alga, sini duduk dong! Ibu sengaja datang kemari karena mau melihat sejauh mana hubungan kalian,"


"Hubungan apa, Bu?


"Yahh, hubungan kamu dengan Seyla, Sayang. Ibu udah nggak sabar mau nimang cucu soalnya di rumah selalu kesepian, nggak ada teman. Nah, kalau kalian udah nikah dan punya anak, Ibu senang punya teman di rumah,"


Alga menarik nafas dengan berat da menghembuskan secara perlahan. Ia ingin protes dengan apa yang disampaikan oleh ibunya tapi ia sadar, ini bukan tempatnya karena pasti ujung-ujungnya akan ribut lagi. Percuma menantang kemauan ibu, jadi lebih baik diam saja.


Ada banyak nasihat dari Ibu Gita untuk Alga yang intinya menginginkan agar anak tunggalnya itu segera menikahi gadis pilihannya yaitu Seyla karena menurutnya gadis tersebut sangat sempurna. Seyla berasal dari keluarga yang terpandang, wajahnya cantik dengan kulit putih yang bersih dan mulus, baik dan penyayang serta perhatian. Itu adalah penilaian Ibu Gita. Selama ini ia tidak pernah memberi kesempatan kepada Alga untuk menjelaskan seperti apa Seyla di matanya.

__ADS_1


Tanpa sepengetahuan mereka, Zarina telah mendengar semuanya. Ia berdiri di depan pintu ruangan tersebut dengan sebuah map di tangannya sesuai dengan perintah Pak Alga. Dadanya terasa nyeri mendengar kenyataan bahwa Alga akan segera dinikahkan dengan Seyla.


Cukup lama Zarina berada di sana karena tidak mungkin ia akan mengetuk pintu sementara Pak Alga sedang ada tamu, hingga akhirnya bel berbunyi tanda waktu istirahat telah usai.


Ia berjalan dengan gontai menuju ke ruangannya kembali sambil merutuki dirinya. Sudah kubilang, jangan berharap dan cobalah untuk hidup apa adanya dengan tahu diri!


"Dari mana, Za?" tanya Erni.


"Pak Alga meminta saya mengantar map ini ke ruangannya tapi dia sedang ada tamu jadi saya nggak berani ganggu," sahut Zarina.


"Ohhh," Erni menanggapi jawaban sahabatnya lalu masuk ke ruangan untuk melanjutkan pekerjaan yang sudah menanti.


Semantara itu Alga yang berada di ruangannya mengumpat setelah ibunya dan Seyla keluar. Pertemuannya dengan Zarina gagal lagi karena jam istirahat sudah lewat.


Ingin rasanya ia membanting barang-barang yang ada di mejanya.


Dalam kegalauannya ia meraih ponsel dan menghubungi seseorang dan tak lama kemudian Udin, tukang sapu di kantor itu datang mengetuk pintu.


"Masuk!"


Udin masuk dengan membungkuk tanda hormat.


"Tadi waktu jam istirahat, apakah kamu melihat seorang karyawan wanita yang datang di depan ruangan saya?"


"Iya Pak, tadi saya lihat perempuan yang membawa map dan berdiri di depan pintu ruangan ini cukup lama,"


"Ya, sudah, terima kasih informasinya dan silahkan keluar!"


Alga kembali memijit lalu menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Pasti Zarina salah paham lagi! Kenapa sih, selalu ada halangan dan rintangan?

__ADS_1


__ADS_2