Sadar Setelah Harta Terkuras

Sadar Setelah Harta Terkuras
Ada Kerinduan


__ADS_3

Hati Zarina dag, dig, dug ketika mendengar suara ibunya yang memanggil-manggil namanya dari luar dan mengabarkan bahwa keluarga dari Jakarta sudah tiba. Lututnya sampai gemetar saat melangkah keluar dari kamar dan menuju ke teras rumah untuk menyambut keluarga yang baru datang.


"Hai, Kak Zarina, akhirnya dapat jodoh juga, terima kasih sudah mengundang kami ke sini!" seru Tini yang baru turun dari mobil.


"Hai, selamat datang di kampung halaman kita!" sapa Zarina dengan senyum.


Ia mengulurkan tangan kepada mereka satu per satu untuk bersalaman dan setelah itu mempersilahkan mereka masuk ke dalam rumah.


Tini masih balik ke mobil lagi untuk mengangkat sebagian barang bawaan dan tak lama kemudian Alga juga turum dari mobil setelah barang-barang yang menghalangi jalannya sudah diturunkan semua.


Melihat Alga berjalan ke arah mereka membuat tubuh Zarina jadi panas-dingin. Ia bahkan tidak sanggup untuk menatap mata teduh yang pernah membawa ketenteraman dalam lubuk hatinya.


Alga juga merasakan hal yang sama. Tatapan mata keduanya beradu saat bersalaman dan Zarina dapat merasakan bahwa ada kerinduan yang terpancar dari sorot mata yang teduh itu.

__ADS_1


Zarina pun membalasnya dengan senyum yang manis lalu mempersilahkan Alga duduk. Setelah itu ia menggendong Maira untuk menghilangkan rasa kaku.


Sementara itu Ibu Elis dan Tini sibuk membagi-bagikan oleh-oleh kepada warga yang datang menyambut kedatangan mereka.


"Mbak Reni, ke sini dulu!" panggil Tini. Ia menyerahkan ponselnya kepada Reni dan meminta untuk mengabadikan momen tersebut.


Alga yang melihat dari jauh sangat muak karena tahu bahwa pasti tak lama lagi istrinya akan posting di media sosial lagi tentang kegiatannya itu biar semua orang tahu kalau ia kaya.


Melihat kegiatan yang dilakukan oleh Ibu Elis dan Tini, mereka ikut membantu dan tinggallah Alga dan Zarina serta Maira saja yang masih berada di teras rumah.


"Apakah kamu mencintai calon suamimu?" tanya Alga lagi.


Zarina masih tetap diam.

__ADS_1


"Saya turut bahagia jika kamu memang mencintai calon suamimu dan nantinya hidup bahagia bersamanya!" lanjutnya lagi.


"Kakak sendiri bagaimana?" tanya Zarina.


"Cintaku hanya untuk kamu dan saya masih bertahan hidup bersama Tini sampai saat ini hanya karena Maira,"


"Nggak boleh gitu dong, harusnya kamu itu belajar mencintai Tini karena ia adalah ibu dari anakmu!"


Alga menatap Zarina dalam-dalam karena Maira yang berada dalam gendongannya sudah tertidur dengan nyenyak. Sepertinya ia sangat nyaman dalam dekapan seorang wanita yang dicintai oleh ayahnya. "Seandainya Zarina yang jadi ibunya Maira, pasti hidupku akan bahagia." Alga berangan-angan.


Percakapan keduanya berhenti karena para keluarga yang tadinya berkerumun menyaksikan Tini dan ibunya yang sedang membagi-bagikan oleh-oleh kepada warga sudah mulai bubar dan sebagian menuju ke tempat teras rumah.


Untuk mengurangi kagalauan yang sedang dirasakan, Alga menyibukkan diri dengan ponsel dan memainkan salah satu game pada sebuah aplilasi sedangkan Zarina beranjak dari duduknya lalu memberikan Maira kepada Reni untuk dibawa ke kamar yang telah disiapkan buat mereka.

__ADS_1


Tini dan ibunya masih asyik berselfi ria dengan angkuhnya. Keduanya sangat bangga mendapat komentar yang berupa pujian dari warga yang menyanjungnya karena telah berbagi dengan mereka.


__ADS_2