Sadar Setelah Harta Terkuras

Sadar Setelah Harta Terkuras
Pelukan Hangat


__ADS_3

Pak Alga mengirim pesan kepada Erni dan meminta kepadanya agar mengatur pertemuannya dengan Zarina.


(Bagaimana kalau Bapak ajak dia keluar nanti malam?)


(Apakah ibu kostnya akan mengizinkan?)


(Tenang Pak, nanti saya yang atur, pokoknya datang aja ke tempat saya sebentar malam!)


(Ok, siap)


Erni yang sudah punya pacar menginginkan agar sahabatnya juga segera punya gebetan biar lebih seru kalau lagi kumpul-kumpul.


Ketika pulang dari kantor, Erni mengganti seragamnya lalu pergi ke tempat Zarina untuk bantu-bantu merapikan kamarnya. Tadi pagi mereka tidak sempat melakukan semua itu karena terburu-buru untuk ke kantor.


Ibu Leni, pemilik rumah kost tersebut juga datang menemani mereka dan bertanya-tanya tentang asal-usul Zarina. Ibu Leni memang harus kenal dengan siapa yang tinggal di rumahnya karena selama mereka tinggal di situ berarti mereka berada dalam tanggung jawabnya.


Setelah semuanya beres, Erni kembali ke rumah kostnya yang jaraknya dari rumah Ibu Leni hanya terdapat dua rumah penduduk.


Zarina juga segera mandi karena tubuhnya terasa gerah setelah merapikan kamarnya. Setelah itu ia berpakaian rapi karena malam ini Erni akan mengajaknya untuk makan di luar. Tadi Erni sudah minta izin kepada Ibu Leni bahwa ia akan mengajak Zarina keluar sebentar dan pulangnya tidak sampai larut malam.


Ketika Zarina tiba di depan rumah kost sahabatnya ia langsung masuk karena pintunya terbuka.


Rumah itu lebih luas dibanding dengan rumah Ibu Leni. Di dalamnya terdapat dua puluh kamar yang dipersewakan dan juga ada ruang tamu sehingga jika ada orang yang bertamu mereka tidak masuk ke kamar.


"Ehh, Zarina... Kamu juga ngekost di sini?" tanya Alga dengan pura-pura tidak tahu.


Zarina kaget karena tidak menyangkah bahwa ada Alga yang sedang bertamu di rumah tersebut.


"Eh, eh... saya tinggal di rumah sebelah," sahut Zarina dengan gugup.

__ADS_1


Dalam hati ia mengira-ngira bahwa Alga pasti punya gebetan yang tinggal di rumah ini.


"Maaf, Pak, saya ke dalam dulu!" ucap Zarina lagi. Ia semakin gugup saja karena Alga memperhatikan dirinya.


Zarina cepat-cepat meninggalkan ruang tamu dan menuju ke kamar Erni yang letaknya agak ke belakang.


"Kok, gugup gitu? Kayak abis dikejar anjing gila aja," kata Erni ketika melihat raut wajah sahabatnya saat membuka pintu.


"Secara tak sengaja saya ketemu dengan Pak Alga di ruang tamu, mungkin ia ingin bertemu dengan pacarnya, kamu kenal nggak dengan pacarnya yang ngekost di sini?" tanya Zarina dengan tatapan yang serius.


"Iya, kenal bangat," sahut Erni.


Hening sejenak dan Erni dapat melihat perubahan di wajah sahabatnya.


"Gimana, apa sudah siap, kita berangkat sekarang!" ajak Erni. Ia meraih tas salempang berwarna hitam yang tergantung di belakang pintu dan memasukkan ponselnya.


Melewati ruang tamu, sontak Pak Alga dan seorang temannya berdiri dan mengikuti mereka keluar.


Zarina heran ketika tiba di luar dan Erni langsung naik ke boncengan pria yang tadi keluar bersama Pak Alga. Rupanya Erni sudah sangat kenal dengan pria tersebut karena setelah berada di boncengan, tanpa ragu ia memeluk pinggang pria itu dengan erat.


"Hey, gimana dong dengan saya?" serunya dengan polos. Ia melihat Erni dan teman prianya itu senyum-senyum ke arahnya.


"Yuk, saya antar!" kata Alga menepuk pundak Zarina dari belakang.


Zarina membalikkan tubuh. Aroma parfum yang menenangkan tercium olehnya dan mata teduh itu tak mampu ditatapnya berlama-lama.


"Erni itu mau keluar sama pacarnya. Apa Erni tidak memberitahumu?" ucap Alga lagi.


Zarina menggelengkan kepala. Ia melihat ke sana ke mari dan mau memastikan bahwa apakah tidak ada perempuan yang sedang bersama dengan Pak Alga tapi setelah beberapa saat ia tidak melihat siapa pun yang ada di sekitar halaman itu kecuali beberapa penghuni rumah kost yang sibuk dengan urusan masing-masing.

__ADS_1


"Ayo, tunggu apa lagi!" kata Alga sekali lagi.


Ekor mata Zarina melirik pakaian yang ia kenakan lalu membandingkan dengan pakaian Pak Alga yang sangat jauh beda. Apakah Pak Alga tidak malu menemani saya? Pikiran itu muncul di kepala Zarina.


Zarina agak repot juga naik ke boncengan yang terbilang lumayan tinggi itu. Ia berpikir bahwa pasti harga motor ini sangat mahal.


Alga tersenyum dan menjalankan kendaraan roda duanya secara perlahan. Sementara itu Zarina duduk di belakangnya dengan posisi yang sangat kaku, takut bersentuhan dengan Pak Bos yang sangat ia segani di kantor.


Perlahan Alga meraih sebelah tangan Zarina dan melingkarkan pada pinggangnya.


"Tangan yang sebelah juga biar tubuh kita hangat dan tolong pegangan yang lebih erat biar saya bisa naikkan gas sedikit solanya kita sudah ketinggalan jauh oleh Roy dan Erni!"


Erni melingkarkan kedua tangannya pada pinggang Alga dengan ragu dan kaku. Ia merasa seolah bermimpi di siang bolong. Dadanya berdebar tak karuan dan lama-kelamaan ia makin merapatkan tubuhnya ke belakang Alga dan merasakan sebuah kenyamanan. Ia tidak sempat lagi menanyakan ke mana tujuan mereka saat ini.


Alga pun merasakan hal yang sama. Ia menyunggingkan senyum sepanjang jalan karena pelukan hangat yang ia rasakan membuat hatinya merasa damai.


Roy, Erni, dan Alga sudah berdiskusi sebelumnya bahwa mereka akan berkunjung ke pantai. Di sana suasana ramai karena kebetulan malam ini adalah malam minggu . Ada banyak pasangan anak muda yang terlihat dan bahkan banyak juga yang datang lengkap dengan keluarganya.


Suasana pantai yang ramai karena ada banyak aneka makanan dan minuman yang dijajakan di sana. Setiap malam tempat ini dibuka tapi lebih ramai pada malam minggu seperti saat ini dibanding malam-malam yang lain.


Roy dan Erni sudah menunggu mereka di gerbang. Keduanya telah hafal tempat ini karena sudah sering berkunjung sejak mereka jadi pasangan kekasih.


"Terima kasih sudah mengantar saya ke sini! Apakah Bapak mau langsung pulang?" tanya Zarina ketika turun dari motor dan segera bergabung dengan Erni.


"Kalau saya pulang, apakah kamu mau jadi obat nyamuk buat mereka?" Alga balik bertanya sambil mendekati ke arah Zarina yang sedang bingung. Apa yang dikatakan oleh Pak Alga itu benar adanya.


Roy dan Erni saling berpandangan lalu tertawa.


Mereka berempat menuju ke suatu tempat yang tersedia untuk memesan minuman hangat. Roy dan Erni menjadi penunjuk jalan dan Alga bersama Zarina mengekor di belakang.

__ADS_1


Erni berpikir, jika mereka terus jalan bersama-sama maka Alga tidak akan bisa menyampaikan isi hatinya dengan leluasa kepada Zarina. Akhirnya ia mencari akal agar bisa terpisah.


__ADS_2