
Pak Gunawan tergesa-gesa melakukan aksinya ketika tiba di rumah Seyla. Keadaan rumah yang sepi membuat keduanya leluasa bahkan ruang tamu pun dijadikan sebagai tempat yang ternyaman.
"Sabar Om, yang santai dong!" kata Seyla melihat gerakan Pak Gunawan seperti orang yang kesurupan saja.
Pak Gumawan tidak mengindahkan ucapan Seyla karena ia hendak menyelesaikan aksinya dengan cepat dan setelah itu, dengan terburu-buru mengenakan pakaiannya lalu pulang.
Dalam perjalanan ia berharap bisa tiba di rumah lebih awal sebelum Tini kembali. Ia tidak mau anaknya itu semakin curiga kepadanya.
Hatinya lega karena tidak melihat Tini yang biasanya pada jam-jam begini sedang duduk-duduk di teras rumah sambil main game pada ponselnya. Itu artinya ia belum pulang.
Ia langsung masuk ke kamar mandi sebelum istrinya mencium bau parfum yang beda dengan bau parfum miliknya. Setelah itu mengenakan pakian santai lalu duduk di teras menunggu kopi hangat yang sebelumnya ia pesan kepada istrinya agar dibuatkan.
Tak lama kemudian Tini datang diantar oleh temannya dan setelah turun dari motor, Desi langsung putar haluan untuk pulang ke rumahnya karena sudah hampir magrib.
Tini melewati teras rumah di mana ayah dan ibunya sedang duduk menikmati kopi. Wajahnya ditekuk membuat ibunya heran sedangkan ayahnya terlihat sangat gugup.
"Pulang nggak ngucapin salam, malah nyelonong aja masuk, ada apa sih?" tanya Ibu Elis.
Tini tak menjawab. Ia berlalu dengan cepat dan menaruh di meja barang yang dipesan oleh ibunya tadi kemudian langsung menuju ke kamarnya lalu mengunci dari dalam. Ia kesal melihat ayahnya yang seolah-olah tidak terjadi sesuatu padahal ini adalah masalah besar.
Hari ini merupakan hari buruk yang dirasakan oleh Tini. Hati masih panas karena ulah ayahnya ditambah lagi dengan persoalan utang ibunya di warung Mak Ela.
Dalam kegalauannya ia meraih dompetnya yang ada di meja lalu memeriksa isinya. Masih ada Rp 650.000. "Semoga cukup untuk membayar utang ibu karena sudah cukup saya dipermalukan di tempat umum oleh Mak Ela. Tunggu pembalasanku, Mak Ela yang sombong!" Tini mengumpat dalam hati.
Keesokan harinya sebelum ke kantor, terlebih dahulu ia singgah di warung Mak Ela.
"Mau ngutang lagi?" ucap Mak Ela menyambut kedatangannya.
Tini sangat geram mendengar ucapan wanita paruh baya tersebut tapi ia berusaha mengusai diri karena ada beberapa ibu-ibu yang sedang berada di situ. Ia mengeluarkan dompet dari tas dan membukanya tanpa menghiraukan ibu-ibu yang sudah berbisik-bisik dan sesekali menatap ke arahnya. Tini tahu bahwa Mak Ela pasti sudah menceritakan tentang ibunya yang selalu mengambil barang dengan sistim pinjam.
"Tolong Mak Ela jangan selalu mengungkit-ungkit utang Ibu saya. Ini, ambil dan kalau uang itu lebih dari jumlah utang kami maka anggappah sebagai bunganya!" kata Tini sambil meletakkan uangnya di meja dengan kasar.
__ADS_1
"Iti baru namanya anak yang berbakti!" ucap Mak Ela sambil menghitung uang tersebut dengan teliti.
"Uang segini dikira akan ada lebihnya, helloo... ini belum bisa menutupi sepertiga dari utang ibumu," Mak Ela mencibirkan mulutnya.
Tini jadi bingung karena ia sudah jadi bahan tontonan bagi ibu-ibu yang ada di situ.
Tampak Mak Ela membuka laci tempat penyimpanan unag dan juga sebuah buku utang. Ia membuka daftar pengambilan barang atas nama Ibu Elis yang lengkap dengan tanggal pengambilannya.
"Nih, lihat! Utang ibumu masih tercatat Rp 2.320.000, dan sekarang kamu bayar Rp 650.000, jadi sisanya masih
Rp 1.580.000. Tapi syukurlah karena setidaknya kamu sudah bayar sebagian dari pada tidak sama sekali dan saya harap semuanya dapat kalian lunasi dalam bulan ini!"
"Kok bisa yah, suami istri yang statusnya sebagai PNS dan sudah ada anak yang kerja tapi bumbu dapur aja masih ngutang," kta seorang ibu.
"Coba seperti kami yang hanya pekerja serabutan, masuk akal jika ngutang," timpal yang lain.
"Makanya pintar-pintar atur keuangan dalam rumah tangga, jangan besar pasak dari pada tiang" ucap seorang ibu yang berambut pirang.
Telinga Tini jadi panas mendengar omongan ibu-ibu yang pastinya mereka sengaja untuk menyindir dirinya. "Aduhhh, kenapa saya lagi yang jadi sasaran ibu-ibu kompleks? Harusnya ibu yang dengar biar nahan-nahan diri buat selalu belanja." gumam Tini.
"Hey, dari mana aja, kirain udah ke kantor?" tanya Ibu Elis ketika melihat Tini yang baru tiba di rumah.
"Dari warung Mak Ela," sahut Tini datar tanpa ekspresi.
"Mana belanjaanmu?"
"Buat bayar utang saja nggak cukup, mana lagi mau belanja,"
"Oh, jadi kamu udah bayar utang Ibu? Terima kasih, Nak! Kamu memang anak yang tau berbakti!
Dengan senang Ibu Elis memuji anaknya.
__ADS_1
"Saya bayar utang karena terpaksa soalnya selalu dipermalukan di mana-mana, makanya jadi orang tua itu jangan berbuat macam-macam agar tidak dililit hutang!"
Ibu Elis ternganga mendengar ucapan anaknya yang menurutnya sangat tidak sopan.
"Hey, kamu jangan sok pintar yah, mentang-mentang sudah kerja, seenak jidat saja nomong kasar kepada orang tua!" seru Ibu Elis dengan emosi.
"Bukannya sok pintar tapi ini kenyataan!" Tini membela diri dan sekilas ia melihat ayahnya yang tertunduk. Mungkin karena merasa tersinggung dengan ucapan anaknya. Ia sadar bahwa Tini masih terbawa emosi mengingat peristiwa kemarin di Mall.
"Ayo, ngomong dong Mas dan ajari anakmu sopan santun dan tata krama!" seru Ibu Elis. Ia merasa jengkel melihat suaminya yang mati kutu di depan anak gadisnya.
Pak Gunawan tak bergeming sedikit pun dan hal itu makin memperkeruh suasana.
Tanpa pamit Tini meninggalkan mereka katena di depan Desi sudah lewat dan mereka akan berboncengan ke kantor.
Setelah Tini pergi, ibunya masih mengomel panjang lebar. Rupanya kata-kata Tini juga membuatnya tersinggung karena memang ia selalu boros dan sudah sangat sering ia membeli suatu barang, bukan karena kebutuhan tapi dibeli karena keinginan.
Puas mengomel, ia baru sadar jika pagi ini harus mengajar di kelas sepuluh pada jam pertama. Bergegas ia mandi lalu berangkat ke sekolah dengan perasaan yang masih kacau.
Siang hari setelah pulang dari sekolah, Ibu Elis mampir ke warung Mak Ela yang kebetulan lagi sepi.
"Selamat siang, Mak Ela!" sapanya dengan ramah.
"Iya, selamat siang!" sahut Mak Ela ketus.
Ia sudah tahu dengan kebiasaan Ibu Elis kalau mau meminjam. Suaranya lembut dan mukanya manis.
"Mak Ela jangan cuek gitu dong, toh utang saya udah lunas 'kan?"
"Lunas? Siapa bilang?"
Mak Ela mengambil buku catatan utang lalu menyodorkan kepada Ibu Elis untuk diperiksa sendiri.
__ADS_1