
Pada akhir pekan Erni mengajak Zarina untuk berbelanja ke supermarket. Ketika sedang asyik berkeliling tiba-tiba mereka dikejutkan oleh suara yang berseru-seru memanggil nama Zarina. Sontak keduanya menoleh ke arah sumber suara tersebut.
Seorang pria yang masih mengenakan kemeja kantoran berjalan ke arah mereka.
"Siapa dia?" bisik Erni kepada Zarina.
Zarina memegang keningnya, sepertinya ia berusaha mengingat-ingat siapa gerangan pria yang berjalan ke arahnya. Semakin dekat, Zarina sangat penasaran karena sepertinya pria ini sangat mengenal dirinya sementara ia sudah tidak ingat siapa pria tersebut.
Pria tersebut mengulurkan tangannya untuk menjabat tangan Zarina dengan senyum mengembang.
Zarina menyambut uluran tangan tersebut dengan ragu.
"Siapa yah?" tanyanya dalam keraguan.
"Hhmmm, kamu nggak pernah berubah yah, masih tetap keras kepala seperti dulu. Tapi, ngomong-ngomong kamu tambah cantik deh, wajahmu nggak sesangar dulu yang bikin laki-laki pada takut mendekat," ucap pria itu dengan derai tawa.
Zarina semakin bingung. Pria ini sangat mengenal pribadinya.
"Tunggu dulu... Ehh..," ucap Zarina yang tampak berpikir keras.
"Ayo, tebak... siapa yang selalu kamu hina dulu waktu kita masih berseragam putih biru?"
Ya, Tuhan... apakah pria ini adalah Hendra, Danu, atau Alex? Zarina masih tetap berusaha mengingat teman-temannya saat duduk di SMP dulu. Ada tiga teman prianya yang suka usil dan mengganggunya namun Zarina selalu menghina mereka dengan kata-kata kasar dan ketika masuk ke SMA mereka masih satu sekolah tapi sudah beda kelas sehingga tidak pernah lagi mengganggu Zarina.
Pria yang ada di hadapannya saat ini memiliki wajah yang tampan tapi tidak setampan wajah Pak Alga. Tubuhnya kekar dan kulitnya sawo matang, mata agak besar dengan bulu mata yang lentik, dan berambut tebal yang hitam pekat.
__ADS_1
Zarina membandingkan dengan teman-temannya pada masa SMP tapi sangat sulit untuk menebak.
"Udah pas yah, kenalin saya Hendra Artawan," ucap pria yang bernama Hendra itu sambil sekali lagi menjabat tangan Zarina dengan erat.
"Hendra... !!!" seru Zarina dengan keras tanpa sadar sehingga menjadi pusat perhatian para pengunjung di supermarket tersebut.
Keduanya pun berpelukan karena saling merindukan tanpa peduli dengan orang-orang yang ada di sekitar mereka. Tak lupa Zarina mengenalkan Erni kepada Hendra lalu mereka pergi mencari tempat yang aman agar bisa leluasa untuk saling bertukar cerita dan pengalaman setelah sekian lama berpisah.
Sambil menikmati minuman segar mereka mulai bercerita dan Erni juga sepertinya langsung akrab dengan Hendra walau baru saja berkenalan.
Hendra itu orangnya humoris sehingga sesekali terdengar gelak tawa dari mereka.
Hendra bercerita tentang pengalaman hidupnya yang datang ke Jakarta untuk mengadu nasib dan benar-benar dimulai dari nol. Ia melalui proses yang panjang penuh dengan lika-liku kehidupan bahkan menurutnya ia pernah bekerja sebagai pemulung sampah selama enam bulan untuk bertahan hidup.
Zarina dan Erni sangat terharu mendengar penuturan Hendra. Mereka sampai menitikkan air mata.
"Sekarang kerja di mana?" tanya Zarina penasaran.
Sebelum menjawab, Hendra menghirup udara dan menghembuskan secara perlahan-lahan.
Ia lalu melanjutkan ceritanya.
Secara tak sengaja ia menolong seorang nenek yang sudah pikun ketika sedang memulung di pinggir jalan. Nenek itu lepas dari pengawasan seorang penjaganya sehingga berjalan tak tentu arah hingga di temukan oleh Hendra dalam keadaan pingsan. Kebetulan rumah kost tempat tinggal Hendra tidak jauh dari tempat di mana ia menemukan nenek tersebut sehingga ia tidak kewalahan saat menggendong tubuh yang sudah renta itu ke kostnya.
Setelah siuman, Hendra memberi makan dan minum ala kadarnya dan nenek itu pun tampak segar kembali tapi susah sekali diajak ngomong karena sudah pikun. Mungkin karena sudah menempuh perjalanan yang jauh membuat kakinya tidak kuat lagi sehingga ia hanya berbaring, kadang duduk sebentar lalu berbaring lagi.
__ADS_1
Hendra merawatnya dengan sepenuh hati dan ia merasa dekat dengan keluarganya yang ada di kampung. Pendapatan dari memulung yang hanya tak seberapa tapi ia dan nenek dapat selalu makan tiga kali sehari dan juga masih mampu membelikan pakaian buat nenek serta kebutuhan lainnya.
Beberapa bulan kemudian uang tabungan Hendra sudsh cukup untuk membeli ponsel yang murah. Ia sangat membutuhkan benda tersebut karena selain dapat digunakan untuk menghubungi ibu dan adik-adiknya di kampung ia juga tidak mau ketinggalan berita yang kebanyakan dapat diakses melalui benda pipih tersebut.
Setelah memiliki ponsel ia mulai belajar kepada teman sesama pemulung yang sudah mempunyai ponsel untuk menggunakan beberapa aplikasi di dalamnya, termasuk Facebook.
Suatu hari dengan iseng ia mengapload fotonya bersama nenek dengan narasi "Nenekku yang gaul". Pada foto tersebut tampak nenek tersenyum manis sambil mengancungkan jari jempol seperti yang dilakukan oleh Hendra dan beberapa menit kemudian ada pesan yang masuk di aplikasi Massenger dan meminta nomor ponsel nya.
Setelah itu ia berkomunikasi dengan seorang laki-laki yang mengaku sebagai kerabat dekat dari nenek itu dan meminta alamat tempat tinggal Hendra.
Pak Heru, seorang pria paru baya datang ke alamat yang dikirim oleh Hendra dengan sebuah mobil mewah. Pajero keluaran terbaru. Meskipun datang dengan kendaraan mewah namun penampilan Pak Heru tampak biasa-biasa saja.
Istri pak Heru meninggal sejak lima tahun yang lalu karena hipertensi hingga pembulu darahnya pecah dan mereka hanya mempunyai seorang anak perempuan yang sudah menikah dengan seorang sultan dan saat ini mereka menetap di Singapura.
Sejak saat itu Pak Hendra tinggal berdua dengan ibunya di rumah lalu menyewa seorang pembantu dan seorang perawat buat ibunya hingga suatu hari ibunya hilang karena kelalain sang perawat.
Hendra pun menceritakan secara detail kronologis pertemuannya dengan nenek hingga merawatnya sampai kini dan ketika Pak Heru tahu apa perkerjaan Hendra ia menangis sejadi-jadinya mengundang perhatian para penghuni kost yang lain.
Hendra pun menangis dengan sedihnya ketika Pak Heru mengatakan bahwa ia datang untuk menjemput sang nenek yang tak lain adalah ibu kandungnya. Ibunya menghilang sekitar kurang lebih enam bulan dan selama itu mereka juga tidak tinggal diam tapi terus-menerus melakukan pencarian hingga mendapatkan titik terang setelah ada seseorang yang melihat postingan Hendra di sosmed.
"Nasib baik berpihak kepadaku sejak saat itu karena Pak Hendrik mengangkatku sebagai anak lalu mengajakku untuk tinggal dan bekerja di rumahnya bahkan semua biaya hidup ibu dan adik-adikku di kampung ditanggungnya. Bukan hanya itu, beliau juga membangun kan sebuah rumah untuk mereka." Hendra mengakhiri ceritanya sambil menyeka air matanya yang meleleh di pipi.
"Cerita nyata yang sangat menginspirasi, semoga Bapak angkatmu beserta ibunya hidup berbahagia dan mendapat rezeki yang berlimpah dari Sang Pencipta!" ucap Zarina.
"Amin!" ujar Hendra dan Erni berbarengan.
__ADS_1