
Selama berada di Kalimantan, Zarina mendapat perlakuan manis dari Pak Ando sehingga ia yakin untuk menikah dengan pria tersebut. Adapun kata-kata miring yang didengar dari Hendra ia sikapi dengan positif.
Usai acara pernikahan Roy dan Erni, mereka tidak langsung balik ke kampung melainkan masih tinggal beberapa hari dengan menyewa sebuah penginapan sedangkan Hendra dan Violyn langsung balik ke kota Jakarta karena tuntutan pekerjaan.
"Saya udah nggak sabar, ingin segera menikahimu, Sayang!" ucap Pak Ando ketika sedang beristirahat di penginapan yang disewanya.
"Sabar, tinggal menghitung hari, kok!" kata Zarina sambil menyeruput teh hangat dengan nikmatnya.
Zarina yang mengenakan pakaian santai tampak cantik dan senyuman yang menawan membuat sesuatu dalam diri Pak Ando terasa bergetar. Ia merasakan dirinya seperti anak muda yang pertama kali jatuh cinta. Wajar saja karena dulu ketika menikah dengan almarhum istrinya, umurnya masih sangat belia bahkan istrinya lebih tua tujuh tahun dari usianya. Waktu itu Pak Ando belum kenal yang namanya cinta tapi entah apa yang ada dipikiran kedua orang tuanya waktu itu sehingga memaksa anaknya untuk menikah di usia yang masih sangat muda dan pada zaman itu, tidak boleh membantah kemauan orang tua karena akan dianggap sebagai anak yang durhaka.
Pak Ando meraih jemari Zarina dan meremasnya dengan lembut mengingatkan Zarina ke masa lalu bersama Alga. Setiap kali Alga menyentuh bagian tubuhnya ia selalu merasakan getaran-getaran yang aneh mengalir ke seluruh bagian tubuhnya dan dadanya bertalu-talu, tapi mengapa saat ini ia sama sekali tidak merasakan sesuatu yang berbeda namun tetap membiarkan tangannya dalam gengaman Pak Ando yang sedang senyum-senyum dengan pandangan berbinar.
Merasa bahwa Zarina merespon apa yang dilakukannya, ia pun mendekatkan wajahnya dan mengecup bibir yang merah merona itu dengan lembut.
Zarina merasa bersalah karena ia terus membayangkan wajah Alga dan berharap bahwa yang sedang mencumbuinya adalah laki-laki yang sudah mengisi hari-harinya.
"Kamu kenapa, Sayang?" tanya Pak Ando karena melihat Zarina tampak sedih.
"Nggak apa-apa, kok," sahut Zarina berusaha tetsenyum.
__ADS_1
Pak Ando meraih kepala Zarina dan merebahkan ke dadanya yang bidang sambil mengelus-elus rambutnya.
Harusnya Zarina merasa senang tapi mengapa perasaannya biasa-biasa saja. Apakah ia akan hidup bahagia bersama Pak Ando? Apakah Zarina hanya ingin mengubah statusnya?
Cukup lama ia merebahkan kepalanya pada dada yang bidang itu dengan pikiran yang berkelana. Beda dengan Pak Ando yang tampak sangat menikmati suasana tersebut.
Usai bersantai di luar, keduanya ingin istirahat sejenak karena sebentar malam rencananya ingin jalan-jalan untuk menikmati suasana kota Kalimantan sebelum kembali ke kampung halaman dan juga mereka ingin membeli cindera mata khas Kalimantan untuk dibawa pulang.
Masing-masing masuk ke kamar untuk beristirahat. Sebenarnya Pak Ando hanya memesan satu kamar buat mereka berdua tapi Zarina keberatan dengan alasan mereka belum resmi jadi suami-istri.
Keesokan harinya keduanya pulang ke kampung meninggalkan Pulau Kalimantan dengan segala kenangan yang tidak akan terlupakan.
Kepergian Zarina beberapa hari ke Kalimantan tidak membuat usahanya mandek karena setiap hari ada Yolan yang melayani pelanggan.
Yolan sangat senang karena mendapat oleh-oleh berupa sebuah tas yang sangat cantik.
"Terima kasih, Kak! Kakak tahu aja kalau dari dulu saya pengen bangat punya tas model begini," ucapnya dengan senyum lebar sambil jalan mondar-mandir layaknya seorang model yang sedang memperagakan berbagai gaya membuat kepala Zarina jadi pusing melihatnya.
"Yah, tahulah, kamu 'kan pernah ngomong, katanya mau nabung buat beli tas yang mirip kepunyaan si Putri, anaknya Pak Desa," ujar Zarina.
__ADS_1
Yolan senyum-senyum mengingat ucapannya tempo hari yang sangat menginginkan sebuah tas kekinian dan sekarang sudah jadi kenyataan.
"Gimana Kak, pengalamannya di sana bersama si Dia? Pasti ada pengalaman yang berkesan, iya 'kan? Cerita dong!"
"Pengalaman apaan, sih?"
"Yah... Misalnya pengalaman saat kencan pertama, saling ini-itu, trus..., "
"Kamu itu masih kecil, nggak usah kepo dengan urusan orang dewasa!"
"Siapa bilang saya masih kecil, orang udah punya calon pacar nih, malah dikatain masih kecil?"
"Yang benar, siapa sih?"
"Ada deh, mau tau aja atau mau tau bangat?"
Yolan tertawa riang melihat Zarina yang tampak kesal. Ia pun kembali duduk di depan mesin lalu menjahit sebuah kebaya yang sudah hampir kelar. Kebaya itu harus selesai ini sore karena sebentar malam akan dijemput oleh pemiliknya.
Hari ini Zarina belum beraktifitas karena masih merasa lelah setelah melakukan perjalanan yang cukup jauh.
__ADS_1