
Zarina menundukkan kepala karena malu untuk bertatapan dengan Pak Alga yang duduk di depannya.
Tak lama kemudian pelayan datang membawa dua gelas minuman hangat dan pisang goreng yang juga masih panas. Sangat cocok dengan suasana dingin karena tiupan angin pantai seolah menembus hingga sampai oe tulang.
"Maaf sebelumnya, apakah kamu sudah memiliki seorang kekasih?" tanya Alga memulai pembicaraan.
Zarina menggeleng.
"Jujur, hati ini sangat tersiksa sejak pertama kali melihatmu masuk kerja di kantor bahkan saya sering sulit tidur di malam hari karena selalu memikirkan dirimu,"
Alga menghela nafas lalu kembali mengeluarkan isi hatinya.
"Tolong jawab dengan jujur, apakah kamu juga punya perasaan yang sama atau cintaku ini hanya bertepuk sebelah tangan?"
Zarina tetap diam seribu bahasa. Setiap kata yang diucapkan oleh Alga menimbulkan getaran yang aneh dan menjalar di seluruh tubuh.
"Kalau kamu belum bisa jawab sekarang, yah... nggak apa-apa, saya akan sabar menunggu!"
Ia lalu mengajak Zarina untuk menikmati apa yang sudah tersedia di hadapannya.
Zarina tersenyum dan senyum itu pun dibalas oleh Alga lalu keduanya menikmati makanan dan minuman yang ada di hadapannya dengan hati yang berbunga-bunga. Tanpa mereka sadari, Roy dan Erni sedang mengintai dari jarak yang tidak terlalu jauh.
Roy pun tak sadar meremas jari-jari kekasihnya karena gemas melihat Alga dan Zarina yang sedang senyum-senyum.
"Bukannya Pak Alga sudah punya kekasih? Tadi Erni mengatakan bahwa ia kenal dengan pacar Bapak," celetuk Zarina membuat Alga tertawa.
"Trus, bagaimana dengan seyla? Itu hari saya sudah dengar semua tentang keinginan ibumu untuk segera menikahkan Seyla dengan Bapak," sambung Zarina lagi.
"Saya sama sekali tidak punya perasaan kepada siapa pun kecuali kamu, percayalah padaku!"
"Apakah Bapak tidak malu jalan bareng saya?"
__ADS_1
"Aduhhh, kenapa harus malu, justru sebaliknya, saya jadi bangga, bangga sekali jika bisa memilikimu,"
"Saya ini hanyalah gadis miskin yang berasal dari desa terpencil dan datang ke kota Jakarta ini untuk mengadu nasib,"
"Sudahlah, nggak usah merendah lagi harena cinta itu tak memandang status kaya atau pun miskin, cantik atau buruk tapi cinta yang ada di dalam hati ini benar-benar tulus!"
Zarina kadi terharu mendengar pengakuan Alga yang diucapkan dengan serius.
Alga meraih jemari Zarina dan menggenggam dengan erat. Keduanya merasakan sebuah kehangatan yang membawa kebahagiaan dalam relung hatinya. Alga juga merasa lega karena apa yang selama ini mengganjal di hatinya kini telah diungkapkan secara langsung setelah melalui proses yang panjang dan respon Zarina meyakinkan dirinya bahwa gadis ini menerima cintanya
Sepasang mata yang berbinar-binar menatapnya dengan mesra. Bulu mata yang lentik dengan bentuk mata yang indah makin mempercantik wajahnya membuat Alga tidak pernah merasa bosan untuk memandanginya.
Ada beberapa pasang mata yang iri melihat kedekatan mereka bahkan ada yang berkomentar miring karena melihat Zarina yang berpenampilan sangat sederhana sedangkan teman prianya berpenampilan seorang sultan.
Sementara itu Roy dan Erni terus memperhatikan gerak-gerik keduanya.
"Lihat Sayang, mereka sudah pegangan tangan!" kata Roy.
Erni dan Roy sudah enam bulan resmi menjadi sepasang kekasih dan perjalanan cinta mereka juga tidak selalu mulus. Suka dan duka datang silih berganti mereka lalui dan masih bertahan hingga saat ini.
Roy adalah pria asli Jakarta dan ia mengajar di salah satu Sekolah Dasar yang ada di kota itu sebagai tenaga honorer karena baru juga menyelesaikan sekolahnya di bangku kuliah.
Mereka saling kenal karena tidak sengaja bertemu di supermarket dan kebetulan sedang membeli barang yang sama. Erni minta tolong kepada Roy agar diambilkan barang yang ingin dibeli di atas rak yang tidak terjangkau olehnya karena ketinggian dan saat itu mereka tukaran nomor ponsel hingga akhirnya janjian untuk ketemuan.
Tak lama kemudian sepasang kekasih datang dan duduk di meja yang bersebelahan dengan tempat duduk mereka. Wajah perempuan itu tak asing lagi bagi Erni walaupun ia mengenakan kaca mata riben.
Seyla datang bersama dengan seorang laki-laki yang cocok jadi bapaknya tapi sudah bisa dipastikan bahwa pria itu bukanlah ayahnya karena sikap keduanya sangat romantis. Erni berusaha agar Seyla tidak mengenali dirinya. Ia mengambil topi dari kepala Roy dan memakainya, tak lupa juga ia mengambil masker dari dalam tasnya lalu memasang menutupi mulut dan hidungnya. Roy jadi bingung melihat sikap kekasihnya yang tampak aneh tapi ia diam ketika Erni memberi kode dengan meletakkan jari telunjuk pada bibirnya.
Erni mengambil posisi yang strategis lalu mengarahkan kamera yang ada pada ponselnya kepada sasaran dan ada beberapa adegan mesra yang sempat ia simpan dengan rapi.
Setelah dirasa sudah cukup, Erni mengajak Roy untuk menemui Alga dan Zarina lalu mereka pulang.
__ADS_1
"Tadi kita berangkat, rencananya mau makan malam di luar tapi sekarang sudah mau pulang padahal kita belum makan, gimana nih?" kata Roy. Ia merasa lapar karena tadi hanya minum teh dan makan gorengan.
"Tapi ini udah malam loh, takutnya ibu kost tidak percaya lagi sama kita kalau telat pulang," ujar Erni.
"Kalau begitu, kita beli aja makanan dan makannya nanti di rumah aja," sahut Alga.
"Ide yang bagus," puji Roy sambil tersenyum.
Roy dan Alga tampak akrab meskipun baru berkenalan tadi sore setelah dipertemukan oleh Erni di rumah kost. Roy yang suka humor membuat Alga terkesan dan senang karena bisa berteman.
Mereka menjalankan kendaraannya dengan pelan sambil mencari rumah makan yang ada di pinggir jalan dan setelah menempuh perjalanan beberapa menit, mereka berhenti di depan sebuah rumah makan lalu Erni dan Zarina masuk untuk memesan makanan yang akan dibawa pulang setelah menerima uang dari Alga.
Sementara itu Alga dan Roy menunggu di luar sambil berkelakar.
"Gimana tadi reaksi Zarina saat lo tembak?" tanya Roy yang lagi penasaran.
"Ia tersipu malu tapi nggak pernah terucap di bibirnya, iya apa nggak," sahut Alga sambil tertawa.
"Tapi tadi saya lihat kalian pegangan tangan, itu artinya udah jadian. Cie... Cie... udah punya pacar," goda Roy dengan gaya khasnya membuat Alga tertawa riang.
"Besok-besok udah bisa ciuman," lanjutnya lagi sambil ngakak.
Erni dan Zarina keluar dari rumah makan setelah ditunggu sekitar dua puluh menit oleh Alga dan Roy.
Erni mengembalikan uang yang tidak terpakai kepada Alga karena mereka hanya memesan lauk yang sederhana tapi Alga menolak untuk menerimanya.
"Sini buat saya aja kalau kalian nggak mau!" kata Roy. Ia mengambil uang itu dari tangan Erni dan memasukkan ke saku jaketnya.
"Gini aja, kok repot! Lumayan buat beli semangkuk bakso di kantin sekolah!" ucapnya lagi dengan tawa renyah sambil menepuk-nepuk sakunya yang berisi uang.
Mereka tertawa menyaksikan kelucuan Roy.
__ADS_1