
Sudah tiga hari Seyla tidak menampakkan batang hidungnya di kantor dan hal ini membuat Tini merasa semakin punya banyak peluang untuk mendekati Pak Alga.
Usahanya beberapa hari yang lalu untuk menjebak Pak Alga dengan membubuhkan obat perangsang ke dalam gelas minumannya tidak berhasil lantaran seorang pelayan datang dan sengaja menyenggol gelas tersebut. Pelayan itu melihat gerak-gerik Tini yang mencurigakan, apalagi ia melihatnya saat menaruh sesuatu pada gelas yang masih setengahnya berisi.
Pagi ini Tini datang ke kantor lebih awal dan sambil menungu Pak Alga ia bersolek secantik mungkin. Tadi make up yang dipasang di rumah terasa kurang maksimal karena terburu-buru.
Ketika derap langkah Pak Alga terdengar, ia sengaja duduk dengan posisi yang menantang.
"Selamat pagi, Pak!" sapanya dengan suara yang dibuat manja.
"Ehh, selamat pagi juga!" sahut Pak Alga.
Tini menghampiri tempat duduk Alga dan memberanikan diri untuk merapikan kerah bajunya yang sebagian tergulung ke dalam.
"Ada apa, Tini?"
"Maaf, kerah baju Bapak menyusup ke dalam!"
Bau parfum tercium dari tubuhnya persis dengan bau parfum yang biasa dipakai oleh Zarina dan momen ini mengingatkan Alga kepada masa-masa indah dulu bersama dengan gadis desa yang ia cintai.
Anehnya, Alga makin mendekatkan wajahnya bahkan menghirup bau parfum dalam-dalam sambil memenjamkan matanya. Melihat sikap Alga, Tini sengaja mengacak kembali kerah baju yang sudah ia rapikan dengan tujuan agar bisa berlama-lama dekat dengan Pak Bos.
Pak Alga membuka matanya setelah merasa puas mencium aroma parfum dari tubuh Tini tapi wajahnya tidak dijauhkan karena melihat benda yang sangat menarik di balik kemeja yang sudah terbuka di bagian depan.
Tini sangat lincah melepas satu buah kancing bajunya tadi ketika Alga menutup mata dan ternyata usahanya ini tidak sia-sia karena mata Pak Bos hampir-hampir tak berkedip dengan sebuah pemandangan gratis.
"Udah rapi?" tanya Alga yang merasakan tubuh Tini yang semakin merapat ke tubuhnya.
"Sabar, sebentar lagi!" sahut Tini. Ia sengaja meliuk-liukkan tubuhnya di hadapan Alga hingga dua gunung kembarnya sesekali menggesek dada bidang milik Alga.
Pak Alga adalah pria yang normal dan tentunya merasakan sesuatu yang bangkit dalam tubuhnya. Tangannya bergerak dan menyentuh salah satu benda yang menantang itu dan mengelus dengan lembut hingga Tini memenjamkan matanya karena barusan benda miliknya itu dielus oleh seseorang. Tangannya tak lagi merapikan kerah baju tapi kini ia kalungkan pada leher.
__ADS_1
"Tok, tok, tok!"
Suara ketukan di pintu membuat keduanya kaget. Alga menarik tangannya dari balik kemeja Tini lalu bergegas duduk di kursinya dan berpura-pura membuka map yang terletak di meja.
Demikian pula dengan Tini, ia merapikan bajunya lalu membuka pintu.
"Selamat pagi, Bu!" sapa seorang pengantar makanan buat Pak Alga.
Tini hanya tersenyum dan mengambil makanan tersebut lalu menutup pintu kembali.
"Bapak belum sarapan?" tanya Tini.sambil meletakkan makanan tersebut di meja.
"Iya, terima kasih!" sahut Alga tanpa menoleh ke arah Tini. Ia merasa malu karena telah berbuat lancang terhadap sekretarisnya.
"Maaf yah, untuk yang tadi!" ucap Pak Alga lagi sebelum Tini berbalik ke tempatnya.
"Tidak apa-apa, Pak," sahut Tini dengan senyum menggoda.
Senyum mengembang di bibir Tini. Ia melangkah ke meja kerjanya dengan penuh semangat dan sambil bekerja sesekali ia melirik ke arah Alga. Sentuhan yang diberikan oleh Alga tadi membuatnya bersemangat sepanjang hari.
Sementara itu Alga sedang bingung dengan dirinya sendiri. Di satu sisi ia sangat merindukan sosok Zarina tapi godaan dari Tini tidak bisa ia tolak. Apakah karena ada kemiripan di antara mereka?
Hasratnya kembali mengebu ketika Tini datang mendekat untuk menawarkan makanan kepadanya pada jam istirahat.
Matanya tertuju pada bibir yang seksi dan oleh dorongan dari hatinya ia mendekat dan meraih dagu yang lancip itu sehingga wajah Tini menengadah dengan mulut yang sedikit terbuka.
Alga sedang dikuasai oleh nafsu dan segera mendaratkan ciumannya pada bibir seksi itu. Tentu hal ini membuat Tini semakin senang.
"Apakah Bapak juga mencintaiku?" tanyanya setelah Alga melepaskan bibirnya.
Alga gelagapan mendapat pertanyaan dari Tini karena ia tidak punya perasaan cinta kepada gadis ini.
__ADS_1
"Saya sangat mencintai Bapak, semoga cinta ini tidak bertepuk sebelah tangan!" ucapnya lagi karena melihat Alga yang diam saja.
Alga tersenyum tipis lalu meraih rantang makanan yang ditawarkan oleh Tini kepadanya.
"Kamu yang masak makanan ini?" tanya Alga basa-basi.
Tini mengangguk dengan ragu karena bukan dia yang memasak melainkan ibunya.
"Kalau Bapak suka, biar saya bawain setiap hari,"
"Yahh, suka, tapi nggak usah repot-repot segala!"
Tini merasa semakin punya peluang untuk bisa menggaet Pak Alga menjadi kekasihnya dan sejak saat itu ia selalu membawa makanan ke kantor. Ada kalanya ia harus beli di warung atau rumah makan jika ibunya tidak sempat lagi memasak di pagi hari. Tini rela melakukan semua itu demi mendapatkan simpati dari Pak Alga.
Sedikit demi sedikit, Tini sudah mulai melancarkan aksinya untuk menjerat Pak Alga agar nantinya tidak bisa mengelak dan akan bertekuk lutut di hadapannya.
Ada-ada saja yang ia lakukan pada saat ada kesempatan untuk menyenangkan hati Pak Alga dan Pak Alga sendiri sudah mulai terlena dengan perlakuan Tini yang begitu memanjakan dirinya.
Hingga suatu hari keduanya berada di kantor sampai jauh malam. Ketika dihubungi oleh kedua orang tua masing-masing, keduanya memberi alasan bahwa sedang lembur karena ada pekerjaan yang sangat mendesak untuk diselesaikan malam itu juga.
Alga yang tidak sadar telah minum obat perangsang yang dimasukkan oleh Tini ke dalam gelas minumannya tadi sangat gelisah. Sementara itu Tini pura-pura duduk santai sambil menatap layar ponselnya.
Suasana di kantor sangat sunyi dan Alga sudah mulai kehilangan akal sehatnya. Matanya nanar melihat penampilan Tini yang sangat seksi. Kemeja ketat dengan rok span pendek sangat menggoda.
"Ehhh, Bapak mau ngapain?" tanya Tini ketika Alga mendekat dan hendak merangkulnya.
"Pasti kamu udah mengerti!" sahut Alga yang sudah tidak sabar ingin menggapai gunung kembar yang masih terbungkus dengan rapi.
"Tapi Pak... Gimana kalau misalnya terjadi sesuatu yang tidak diinginkan?" tanya Tini yang sengaja mengulur-ulur waktu karena ia sedang memasang kamera untuk merekam aktifitas malam ini.
"Nggak usah takut, saya akan tanggung jawab, kok!" jawab Alga dengan mata yang sesekali terpejam karena tangannya sudah menggapai sesuatu yang lembut dan kenyal.
__ADS_1
Tini tertawa dalam hati dan malam itu menjadi malam yang panjang dan diakhiri dengan erangan kenikmatan.