Sadar Setelah Harta Terkuras

Sadar Setelah Harta Terkuras
Tidak Bisa Menolak


__ADS_3

Seyla semakin membenci Zarina karena Alga terlihat sering-sering memanggil gadis desa itu masuk ke dalam ruang kerjanya. Seperti pada jam istirahat kali ini, tampak Zarina dengan santainya berjalan menuju ke ruang kerja Pak Alga karena sebelumnya mendapat pesan dari pria yang telah resmi menjadi kekasihnya itu.


Diam-diam Seyla mengikuti dia dari belakang hingga tubuh Zarina menghilang dibalik pintu yang langsung ditutup oleh Pak Alga.


Dengan perasaan kesal ia menunggu beberapa saat di dekat pintu lalu ia mengetok dengan kasar.


Merasa terusik, Alga membuka pintu dengan kasar pula. Ia sudah bisa menerka bahwa pasti perbuatan Seyla lagi yang tidak tahu sopan santun dan tata krama.


"Ada keperluan apa?" tanya Alga dengan nada datar.


"Nggak, hanya mau pastikan saja bahwa gadis desa yang kampungan itu ada di dalam," sahut Seyla. Ia berusaha masuk ke dalam ruangan tersebut tapi Alga menghalangi.


"Pergi dari sini sekarang! Zarina ada bersamaku karena dia adalah kekasihku. Masalah buat loh!"


"Apa kamu nggak malu punya kekasih miskin yang kampungan?"


"Justru di mataku ini, kamulah yang kampungan,"


"Kita liat aja nanti, soalnya ayah dan ibumu hanya menginginkan saya sebagai calon mantunya!"


Alga menutup pintu dengan kasar lalu mengunci karena ia pikir tak ada gunanya berdebat dengan Seyla. Alga heran dengan jalan pikiran ayah dan ibunya yang punya keinginan untuk menjodohkan dirinya dengan perempuan yang sama sekali tidak membuatnya tertarik.


Sangat berbeda dengan pembawaan Zarina yang selalu tampil sederhana tapi tidak murahan. Seperti saat ini ia mengenakan kemeja berwarna merah maron yang dipadukan dengan rok berwarna hitam yang panjangnya di bawah lutut. Bagi Alga, penampilan Zarina sangat tepat sebagai seorang karyawan di kantor.

__ADS_1


"Tolong jangan diambil hati apa yang kamu sempat dengar tadi dari percakapan saya dengan Seyla karena itu tidak penting, anggaplah sebagai angin lalu!"


"Iya Pak, terima kasih" sahut Zarina.


"Aduhhh, pak lagi, pak lagi...,"


Zarina tersenyum karena ia belum terbiasa dengan sebutan yang lain untuk Pak Alga, apalagi sekarang sedang berada di kantor.


"Ini 'kan kantor, jadi nggak sopan bila menyebut nama Bapak dengan sebutan yang lain,"


Pak Alga mendekati Zarina dan mengecup bibir yang berlapis lipstik warna merah. Wajah Zarina memerah dan mendorong tubuh Pak Alga.


"Kenapa Sayang?" tanya Alga dengan heran.


"Terserah gue dong, kantor... Kantor gue," seru Alga sambil terkekeh.


Ia pun mengulang apa yang sempat terjeda dan Zarina tidak bisa menolak lagi, ia membalas ciuman Alga dan merasakan kenikmatan yang luar biasa.


Mendapat respon dari sang kekasih, tangan Alga mulai menyusup ke dalam kemeja dan menyentuh benda yang masih kenyal tapi terhalang oleh bra yang terpasang dengan erat. Tangan kekar itu meraba-raba benda kenyal secara bergantian dengan susah payah membuat Zarina menggelinjang di atas sofa seperti cacing kepanasan.


Alga punya keinginan untuk melihat secara jelas benda yang tersembunyi itu tapi kembali ia sadar bahwa saatnya belum tepat.


Ditatapnya gadis itu dengan penuh cinta lalu mencium pucuk kepalanya.

__ADS_1


"Ayo, kita makan dulu!" ajak Alga.


Zarina merapikan kemejanya yang agak berantakan lalu menikmati makanan yang ada di hadapannya. Tadi Alga memesan makanan tersebut sebelum memanggil Zarina ke ruangannya.


Keduanya makan dengam lahap dan sesekali saling suap dengan romantis.


"Tok, tok, tok!"


Terdengar ketukan di pintu dengan kasar. Alga segera meneguk segelas air putih lalu membuka pintu. Di sana tampak ibunya dengan wajah yang penuh dengan make up yang berlebihan namun tatapannya kurang bersahabat.


"Ohhh, jadi ini kerjaan kamu di kantor, mengundang karyawan untuk makan! Apakah dia sangat miskin sehingga kamu harus menanggung makannya juga? Ibu sangat kecewa sama kamu, Ibu malu jika nantinya punya menantu yang kampungan dan miskin!"


Mendengar semua itu, Zarina menghentikan kegiatan makannya walaupun ia belum kenyang. Rasa sakit hati atas hinaan ibu Gita membuat tenggorokannya terasa kelu.


"Ibu jangan ngomong gitu, dong!" kata Alga memohon kepada ibunya. Ia khawatir Zarina akan kecewa dengan sikap ibunya dan memutuskan hubungan mereka.


"Ini semua Ibu lakukan demi masa depanmu, Nak. Perempuan desa itu hanya mengincar harta kita dengan berpura-pura lugu di depanmu. Sadarlah kamu Alga dan mulai sekarang berpikir yang jernih agar kami sebagai orang tuamu bisa mempercayakan sepenuhnya perusahaan ini kepadamu di masa yang akan datang!"


Tadinya Ibu Gita hendak menghadiri sebuah pesta pernikahan salah seorang kerabat tapi Seyla meneleponnya dan menyampaikan bahwa Alga sedang berduaan dengan gadis desa di dalam ruang kerjanya. Cara Seyla yang menggembor-gemborkan berita itu sambil menambahkan beberapa kalimat dengan tujuan untuk memanas-manasi Ibu Gita ternyata berhasil. Hal ini dapat dibuktikan karena Ibu Gita lebih memilih datang ke kantor anaknya dibanding menghadiri pesta pernikahan kerabatnya.


"Apa sih, kurangnya dengan Seyla? Selain cantik dengan body yang bagus ia juga memiliki orang tua yang kaya raya," sambung Ibu Gita lagi.


Ingin rasanya Alga memprotes apa yang diucapkan ibunya tapi ada rasa takut jangan sampai terjadi lagi sesuatu yang tidak diinginkan karena jika penyakit ibu kambuh lagi.

__ADS_1


__ADS_2