
Zarina tidak mampu lagi bertahan hidup di kota Jakarta, bukan karena ia tidak kuat lagi bekerja tapi patah hati yang dideritanya membuat ia ingin pergi jauh. Jauh dari mantan kekasih yang bayangannya selalu mengusik ketenagan hatinya ketika sedang melakukan aktifitas.
Tekadnya sudah bulat untuk kembali ke kampung karena uang tabungannya sudah cukup untuk membeli mesin jahit dan juga ia berencana untuk membuka usaha jahitan di kampung halaman.
Erni meneteskan air mata perpisahan dengan sahabatnya itu di bandara. Sebagai sahabat sejati, ia dan Roy, kekasihnya meluangkan waktu untuk mengantar Zarina ke bandara.
"Jangan lupa datang ke Kalimantan pada hari pernikahan kami!" Roy kembali mengingatkan Zarina ketika gadis itu hendak masuk ke ruang tunggu.
"Siap, saya akan menunggu undangan dari kalian!" sahut Zarina dengan senyum tulus.
Matanya juga berkaca-kaca ketika melihat pasangan kekasih itu berbalik menuju ke parkiran.
Tinggal satu bulan lagi, Erni juga akan pulang ke Kalimantan karena orang tuanya menginginkan agar dia segera menikah mengingat usia yang sudah tidak belia lagi.
Ia juga sudah malas ke kantor karena enggan bertemu dengan Pak Alga. Entah mangapa ia sangat membenci laki-laki itu. Rasa sakit yang diderita oleh Zarina juga sangat berpengaruh dalam dirinya. Ia merasa sangat terpukul karena sejak Pak Alga memecat dan mengusir Zarina, sahabatnya itu berubah menjadi pendiam dan wajahnya tidak pernah lagi berseri.
Banyak karyawan di kantor yang mengeluh karena sejak Pak Alga menikah dengan Tini, wanita itu jadi sombong dan bertindak semena-mena kepada karyawan. Mentang-mentang sudah jadi istri Pak Bos ia pun bebas memerintah bawahan.
Perutnya sudah semakin membesar tapi tiap hari selalu datang ke kantor pada hal sekretaris lama sudah masuk kerja kembali.
Tini selalu menjaga suaminya dengan ketat karena takut jika ada wanita lain yang menggodanya apalagi untuk saat-saat ini ia tidak bisa melayani suaminya dengan maksimal karena perutnya sudah semakin buncit.
Pak Alga memilih untuk tetap tinggal serumah dengan orang tuanya walaupun sudah ada rumah yang siap untuk dihuni, pemberian dari ayah dan ibunya sebagai hadiah pernikahan.
Tini selalu mendesak agar pindah ke rumah baru karena ia sudah tidak sabar lagi ingin menjadi ratu di sana dan ibunya juga selalu mendesaknya agar segera pindah supaya bebas ke sana untuk menjenguk anaknya tapi Alga selalu bersikap dingin dan tidak pernah menanggapi dengan serius setiap kali ia mengutarakan keinginanya itu.
***
Zarina mendirikan usaha menjahit di desa tempat tinggalnya dan pekerjaan ini membuatnya sibuk sehingga sedikit demi sedikit rasa kecewa dan sakit hati sudah mulai berkurang.
Suatu hari ia kedatangan seorang pelanggan yang ingin menjahit. Mereka datang dengan naik mobil dan seorang gadis cantik turun lalu menghampiri Zarina.
__ADS_1
"Mbak bisa jahit kebaya dan kemeja laki-laki buat acara wisuda?"
"Kebaya model bagaimana?"
Gadis cantik itu membuka tas kecilnya lalu mengambil ponsel. Setelah itu ia membuka galeri dan memperlihatkan foto wisuda orang lain yang akan dijadikan contoh.
"Bagaimana, bisa 'kan?"
"Oke, kapan jahitannya akan diambil?"
"Bulan depan dan kami ada sepuluh orang, enam orang dewasa dan empat anak-anak.
Setelah membicarakan soal biaya, Zarina bersama Yolan mengukur mereka sekeluarga. Zarina merasa sangat terbantu karena ada Yolan, tetangganya yang baru saja tamat SMA tapi orang tuanya tidak punya biaya untuk menyekolahkan lagi ke tingkat yang lebih tinggi. Kedatangan Zarina ke kampung membuatnya senang karena ia bisa punya pekerjaan, setidaknya nggak rebahan saja di rumah.
Satu per satu mereka diukur hingga tiba pada giliran seorang laki-laki yang dipanggil dengan sebutan 'Opa' oleh kedua anak kecil yang baru berusia sekitar empat atau lima tahun.
Zarina melingkarkan meter pada tubuh laki-laki paru baya itu dengan gugup karena pria tersebut sedang menatapnya dengan saksama.
"Sudah selesai, Pak," kata Zarina membuat pria tersebut terhenyak dari lamunanya.
"Eh, oh, iya, terima kasih!" sahutnya dengan gelagapan.
Ia melangkah keluar dan naik ke mobil karena anak dan cucunya sudah menunggu.
Malam hari menjelang waktu istirahat, Zarina memeriksa ponselnya dan ada sebuah chat dari nomor baru pada aplikasi WhatsApp. Dengan teliti ia membuka foto profil dan ternyata yang mengirim pesan adalah pria tadi yang datang ke tempat usahanya.
Zarina membalas karena berpikir mungkin pria ini akan membahas soal pakaian yang akan dijahit tapi ternyata pria tersebut sedang curhat dan mengatakan bahwa ia seolah melihat almarhum istrinya ketika bertemu dengam dirinya tadi dan itulah sebabnya malam ini ia memberanikan diri meminta nomor ponsel Zarina kepada anak tertuanya yang sempat menulisnya tadi karena matanya tidak bisa terpejam lantaran selalu dibayangi oleh wajah Zarina.
"Ohhh, istri Bapak sudah lama meninggal?" tanya Zarina melalui telepon seluler karena ia sudah lelah mengetik untuk membalas lewat chat.
"Iya, sepuluh tahun yang lalu karena terserang penyakit jantung," suara Pak Ando terdengar dengan nada sedih.
__ADS_1
"Maaf Pak, sudah bertanya soal itu dan membuat Baoak sedih!"
"Tidak apa-apa, kok,"
"Oh, iya, selamat beristirahat, Pak!"
Zarina memutuskan sambungan teleponnya karena ia sudah mengantuk.
Keesokan harinya ketika baru saja bangun tidur, Zarina mendengar bunyi notifikasi chat masuk di ponselnya.
(Selamat pagi, udah bangun?) chat dari Pak Ando.
Zarina mengabaikan karena pikirnya pesan yang nggak penting. Ia meninggalkan ponselnya begitu saja lalu beraktifitas seperti biasanya, membantu ibu di dapur untuk menyiapkan sarapan buat adik-adiknya lalu segera mandi dan masuk ke salah satu ruangan yang sudah dikhususkan sebagai tempat untuk menjahit.
Di dalam ruangan itu, Yolan sudah beraktifitas. Ia datang pagi-pagi sekali mengingat lagi banyak orderan.
Sambil memotong kain, Zarina menceritakan tentang apa yang dialami semalam.
"Dia menelepon ke ponsel Kakak?" tanya Yolan penasaran.
"Iya, dan anehnya Pak Ando itu menceritakan tentang kehidupan keluarganya kepadaku. Apa hubungannya denganku?" ujar Zarina.
"Iya juga, ya, atau jangan-jangan Pak Andi itu jatuh cinta sama Kakak," ucap Yolan dengan polos.
"Ahh, kamu bisa aja, dia itu udah tua, punya anak enam orang dan udah punya cucu juga, masakan ia masih mau jatuh cinta?" Zarina tertawa.
"Bisa aja kali' soalnya saya lihat Pak Ando itu masih gagah dan perkasa," ucap Yolan lagi dengan jujur.
Zarina hanya terkekeh menanggapi komentar Yolan lalu keduanya kembali serius bekerja. Tugas Yolan adalah menjahit kain yang sudah dipotong oleh Zarina dan kadang kala juga memasang kancing, menyeterika dan mengemas pakaian yang sudah jadi.
Yolan tergolong anak yang cerdas dan lincah sehingga sekali atau dua kali belajar cara menjahit ia sudah bisa mempraktekkan dengan baik.
__ADS_1