Sadar Setelah Harta Terkuras

Sadar Setelah Harta Terkuras
Karyawan Baru


__ADS_3

Sudah setengah tahun ini Alga dan Zarina berpura-pura seolah tidak ada lagi hubungan sepesial di antara mereka namun keduanya tetap lancar berkomunikasi melalui telepon seluler dan sesekali bertemu di luar jam kerja ketika rasa rindu tak dapat dibendung lagi.


Ketika berada di kantor, mereka seolah tidak peduli karena Seyla selalu mengawasi pergerakan mereka dan selalu melapor kepada orang tua Alga. Namun sejauh ini, justru Alga-lah yang sudah menyimpan beberapa gambar dan video kegiatan Seyla di luar sana yang gonta-ganti pasangan. Termasuk Video yang berhasil direkam oleh Erni beberapa waktu yang lalu.


Pak Alga mempunyai anak buah yang bertugas untuk mengawasi Seyla dan mengabadikan semua bukti-bukti yang akan diperlihatkan nantinya kepada kedua orang tuanya jika ia dipaksa untuk menikahi Seyla.


***


Keesokan harinya Zarina kaget saat tiba di kantor karena melihat Tini, adik sepupunya yang berpakaian rapi dan membawa map.


"Tini... !"


"Kak Zarina! Kakak kerja di sini?"


Zarina menganggukkan kepala.


"Ada apa kamu ke sini?"


"Begini Kak, saya mau mencoba melamar pekerjaan di sini karena saya lihat ada lowongan pekerjaaan yang membutuhkan lulusan yang sesuai dengan jurusanku,"


"Ohhh, iya, silahkan dicoba semoga bisa diterima! Oh, ya, bagaimana kabar om dan tante? Udah lama tak berjumpa,"


"Baik, Kak,"


Keduanya berbincang sejenak kemudian Zarina meminta tolong kepada salah seorang karyawan untuk mengantar Tini ke ruangan tempat memasukkan berkas lamaran.


Tini duduk di sebuah kursi sambil menunggu informasi dari seorang karyawan yang tadi menerima berkasnya. Tak sengaja ia menoleh ke luar dan Pak Alga lewat di situ membuat Tini kaget. Ia mengucek-nguvek matanya karena tidak yakin dengan penglihatannya.


"Ada apa, Mbak?" tanya karyawan yang heran melihat tingkah Tini.


"Oh, nggak, hanya sedikit kaget aja melihat orang itu," sahut Tini sambil menunjuk ke arah Pak Alga yang sudah hampir menghilang dari pandangan mereka.

__ADS_1


"Kenapa kaget? Dia itu Bos di sini,"


"Bos? Maksudnya?"


"Dia itu pemimpin di sini sekaligus pemilik dari perusahaan ini,"


Tini melongo mendengar penjelasan dari karyawan tersebut. "Semoga aja saya bisa diterima kerja di sini agar bisa mendekati Bos yang tampan itu," gumam Tini dalam hati sambil senyum-senyum.


Ia masih ingat ketika pria itu bsrkunjung ke rumah, ingin menemui Zarina dan waktu itu dia mengaku sebagai teman kerja tapi ternyata dia adalah Bos.


"Berkasnya sudah kami terima dan selanjutnya akan diperiksa sebagai bahan pertimbangan. Silahkan pulang dulu dan tunggu pemberitahuan dari kami yang akan kami kirim melalui Email!" kata Desi, karyawan yang bertugas di ruangan tersebut.


"Oke, baik, terima kasih!"


"Sama- sama,"


Tini pulang ke rumah dan sepanjang perjalanan ia terus membayangkan wajah Pak Alga yang tampan. Ia berharap bisa menjadi kekasihnya. Tiba di rumah ia menceritakan pengalamannya kepada ibunya.


Irfan dan Fajar masih butuh banyak biaya untuk menyelesaikan pendidikan di bangku kuliah sehingga ibunya menginginkan agar Tini dapat bekerja sehingga bisa meringankan sedikit bebannya.


Dua minggu kemudian Tini mendapat informasi bahwa dirinya diterima untuk bekerja di perusahaan milik Pak Alga. Tini sangat senang dan hari itu juga ia bersama ibunya pergi ke toko untuk membeli kemeja dan rok yang cocok digunakan saat ke kantor dengan menggunakan uang belanja yang sebenarnya disisahkan untuk dua minggu lagi ke depan.


Tini di tempatkan pada ruangan yang berdekatan dengan tempat kerja Seyla yang sebelumnya dihuni oleh Elva yang mengundurkan diri pada bulan lalu karena menikah dengan seorang pengusaha muda yang tinggal di kota lain.


"Karyawan baru yah?" tanya Seyla dengan wajah datar.


"Iya, Mbak," sahut Tini dengan sopan.


"Kerja yang benar karena saya di sini sebagai calon istri Pak Alga, pemilik peruhaan ini juga berhak memecat seseorang jika tidak becus dalam bekerja," ujar Seyla dengan angkuh.


Raut wajah Tini seketika berubah mendengar ucapan Seyla yang mengaku sebagai calon istri Pak Alga. Tadinya ia sangat bersemangat karena punya niat untuk mendekati Pak Alga tapi ternyata dia sudah punya calon istri yang cantik.

__ADS_1


Tapi itu 'kan baru calon istri, artinya masih ada kesempatan untuk bersaing. Soal kecantikan Seyla juga masih bisa tersaingi. Demikianlah pendapat Tini dan mimik wajahnya kembali berubah.


"Iya Mbak, terima kasih sudah diperingatkan!" ucap Tini lalu menyibukkan diri dengan map-map yang ada di mejanya.


Tak lama kemudian Seyla keluar dari ruangannya dan ekor mata Tini mengikutinya ke mana dia hendak pergi. Namun Seyla semakin jauh berjalan dan menghilang di salah satu lorong.


"Maaf, karyawan baru yah?" tanya seseorang yang datang menghampiri Tini ke ruangannya.


"Iya, benar, ada apa yah?" Tini balik bertanya.


"Ayo, ikut saya!" ajak orang itu.


Tini bergegas keluar dari ruangannya lalu mengikuti orang tersebut. Rupanya Pak Alga yang memanggil Tini agar menghadap ke ruangannya.


Tini duduk dengan gugup karena melihat Seyla yang juga sedang berada di ruangan tersebut.


"Terima kasih sudah menghadap, saya hanya mau memastikan bahwa Anda bisa melakukan pekerjaan yang sudah ditunjukkan oleh yang berwenang akan hal tersebut. Silahkan kembali ke tempat kerja dan lakukan pekerjaanmu dengan baik!" kata Pak Alga dengan penuh wibawa.


Sebenarnya tujuan untuk memanggil Tini ke ruangannya karena ingin memastikan bahwa perempuan itu adalah kerabat Zarina yang pernah ia temui kala itu di rumahnya tapi ia tidak mungkin menanyakan hal tersebut karena ada Seyla yang akan menyimak.


"Ada yang perlu dibantu?" tanya Pak Alga kepada Seyla yang duduk dengan santainya sementara pekerjaannya ditinggal begitu saja.


"Saya lagi kangen, nih!" sahut Seyla tanpa rasa malu. Ia mencoba menggoda Alga dengan cara duduknya yang tidak sopan tapi Alga malah membuang muka. Ia tidak mau terperangkap karena sesungguhnya laki-laki mana pun juga yang melihat pemandangan seperti itu pasti akan tergoda.


"Jadi wanita itu harus profesional dong, jangan bertingkah yang aneh-aneh karena ini adalah kantor, bukan kafe!"


Alga membuka pintu dan keluar meninggalkan Seyla sendirian. Lebih baik menghindar dari pada terjerumus.


Seyla sangat kesal karena usaha untuk menggoda Alga tidak berhasil, akhirnya ia kepikiran untuk melakukan cara lain. Ia merapikan pakaiannya lalu keluar dengan senyum menyeringai. "Tunggu tanggal mainnya!" gumamnya dalam hati.


Alga yang berada tidak jauh dari ruangannya bergegas kembali setelah melihat Seyla keluar. Ia membayangkan seandainya Zafina yang datang ke ruangannya ia pasti tidak akan melepaskannya sebelum ia puas mencumbuhinya.

__ADS_1


__ADS_2