Sadar Setelah Harta Terkuras

Sadar Setelah Harta Terkuras
Terima Gaji


__ADS_3

Keesokan paginya Pak Gunawan bangun seperti biasa karena pagi ini ada mata kuliah yang akan diajarkan pada jam pertama sedangkan istrinya masih ngorok namun ia tidak mau membangunkan karena rasa kesal masih mengganjal di hatinya karena persoalan semalam.


Ia menuju ke dapur dan berharap di sana sudah ada Tini yang menyiapkan sarapan tapi ternyata keadaan dapur masih lengang. Akhirnya ia kembali ke kamar lalu mandi dan siap-siap untuk berangkat ke kampus.


"Udah jam berapa Mas, kok udah siap ke kampus?" tanya istrinya yang baru bangun.


Pak Gunawan hanya berdehem dan meraih tasnya yang ada di meja lalu berangkat menggunakan motor bututnya.


Ia singgah di kios Pak Egar untuk menarik uangnya yang masih ada di ATM karena perutnya sudah mulai lapar, maklum semalam hanya makan sedikit saja pada hal ketika Zarina masih ada di rumah ia selalu teratur sarapan. Rencananya pagi ini ia akan sarapan di kantin sekolah sebelum tiba jam mengajar.


Simpanannya di ATM juga tak uh karena harus membiayai tiga anak sekaligus yang masih kuliah sementara mereka tidak punya usaha sampingan, hanya mengandalkan gaji saja dan penghasilan sang istri sudah disepakati untuk membiayai kebutuhan rumah tangga.


Sementara itu di rumah, Ibu Elis juga sedang pusing karena bahan makanan yang adaby di dapur hanya beras saja dan tidak mungkin mereka akan makan nasi tanpa lauk. Terpaksa ia ke warung Mak Ela untuk ngutang.


"Ehhh, tumben Ibu Elis yang datang ke warung, biasanya Neng Zarina yang selalu datang belanja!" Mak Ela basa-basi.


Ibu Elis hanya tersenyum kaku karena sebenarnya ia sangat malu untuk mengatakan bahwa barang belanjaannya ini akan di utang, nanti gajian bulan depan baru dibayar tapi kalimat itu terpaksa keluar dari mulutnya dan disampaikan dengan pelan agar tidak kedengaran sama orang lain yang juga datang ke warung buat belanja.


Mak Ela mencatat di buku daftar semua belanjaan Ibu Elis dan menuliskan total harga di baris terakhir. Semuanya terhitung sebesar Rp 175.000.


"Sabar ya, Mak Ela, dua minggu akan datang pasti saya bayar!" bisiknya sebelum meninggalkan warung tersebut.


"Iya Bu, nggak apa-apa," sahut Mak Ela dengan ramah.


Tiba di rumah, Ibu Elis mulai membersihkan sayur dan ikan, setelah itu ia memasak.


Ia kaget ketika melirik ke arah jam yang tergantung di dinding dan sudah menunjukkan pukul 07.30. Artinya ia sudah terlambat ke sekolah, sementara ada jam mengajarnya pada jam pertama di kelas XA. Ia pun mandi dengan terburu-buru lalu berangkat ke sekolah dengan jalan kaki karena jarak dari rumah ke sekolah temoat ia mengajar hanya sekitar 75 meter.bm


Tiba di sekolah ia mendapat teguran dari kepala sekolah dan tentu saja membuat wajannya merah padam karena malu.


***

__ADS_1


Hari ini Zarina sangat senang karena tiba saatnya untuk terima gaji. Semalam ia sudah membuat daftar untuk mengatur penggunaan uang yang akan diterimanya.


Ketika pulang dari kantor ia segera membuka amplop yang berisi uang itu dan menghitungnya dengan teliti. Jumlah tidak sama dengan yang diterima pada lalu. Apa ada kenaikan gaji pada bulan ini? Zarina bertanya-tanya dalam hati.


Setelah mengganti seragamnya ia langsung mendatangi sahabatnya ke kamar kost untuk mengganti uang yang sudah digunakan membayar biaya angkut barang-barangnya dari rumah Pak Gunawan ke kost.


"Maaf, saya baru bisa bayar sekarang! Ngomong ya, kalau belum cukup!" katanya sambil menyodorkan uang sebanyak Rp 200.000.


"Nggak usah, tadi orangnya bilang, nggak usah dibayar karena katanya ia iklas mau menolong," ucap Erni dengan serius.


Zarina merasa tidak enak karena telah merepotkan sehingga ia memaksa Erni agar memberikan uang tesebut kepada temannya yang sudah berbaik hati kepadanya.


"Ohh, gini aja, nanti saya pertemukan kalian lalu kamu bayar langsung ke orangnya," usul Erni.


"Boleh, nanti kabari saya kalau dia sudah datang!"


"Siap!"


Ia ingin mengirim sebagian uangnya kepada orang tuanya yang ada di kampung, tetapi mau mengirim lewat siapa yah? Ia berpikir sejenak dan kini ia ingat bahwa adiknya punya nomor rekening. Gegas ia ke konter terdekat setelah menerima balasan chat dari Yudi, adiknya lalu mengirim uang sebesar Rp 1.100.000.


"Titt!"


Zarina membuka ponselnya dan ada chat dari Yudi.


(Kak, yang seratus ribunya buat saya, ya!)


Zarina tersenyum.


(Iya Dek, tapi kamu harus jadi anak yang jujur, silahkan tarik uangnya sekarang dan berikan kepada ayah dan ibu, sebentar saya akan menelepon mereka!)


(Siap Kak!)

__ADS_1


Zarina sangat bahagia karena sudah bisa mengirim uang kepada kedua orang tuanya walaupun hanya sedikit tapi setidaknya gaji bulan yang ke-tiga ini sudah bisa ia kirim sebagian ke kampung sedangkan gaji pada bulan pertama dan kedua tidak bisa ia sisihkan sedikit pun.


Belum juga sampai ke kost, Yudi kembali menghubunginya dengan video call. Ia pun segera menyentuh layar ponselnya dan kedua orang tuanya tampak di layar ponsel. Air mata Zarina menetes karena terharu bisa telponan dengan mereka.


Yudi baru tiga hari ini memiliki ponsel. Kedua kakaknya, Samsul dan Gedi yang membeli ponsel tersebut sebagai hadiah ulang tahun adiknya yang ke tujuh belas. Sudah beberapa bulan terakhir ini Yudi selalu merengek, minta dibelikan HP dengan alasan bahwa benda tersebut sangat dibutuhkan untuk menunjang proses belajar di sekolah dan kedua kakaknya pun sepakat untuk membeli kannya sebagai hadiah ulang tahun dengan syarat, tidak boleh disalahgunakan.


Secara bergantian pak Adnan dan Ibu Dina berbicara kepada anaknya dan tak lupa mereka menyampaikan agar Zarina jaga diri baik-baik di rantau orang.


Mereka mengakhiri pembicaraan setelah Yudi meminta ponselnya karena ia hendak ke sekolah untuk mengikuti kegiatan ekstrakurikuler.


Saking gembiranya, Zarina sampai lupa untuk makan siang. Tadi ia tidak sempat makan nasi di kantor karena ada pekerjaan yang mendesak untuk diselesaikan. Ia hanya makan dua potong roti untuk menunda rasa lapar dan sekarang baru terasa, perutnya sudah keroncongan.


Ia membuka tas yang digunakan ke kantor tadi dan mengambil kotak makanan di dalamnya lalu makan dengan lahap.


"Trrdtt... Trrddttt... Trrddttt...!"


Ada panggilan dari Erni tapi ponsel tersebut dibiarkan saja dulu berdering karena makanannya belum habis. Ia makan dengan tenang hingga ludes kemudian ia membesu tangan lalu mengangkat ponselbya yang masih terus berdering.


"Halo!" sapanya.


"Sekedar info nih, pesan dari teman saya tadi bahwa ia menunggumu nanti malam pukul 07.00 WIB di alamat yang saya kirimkan di WhatsApp!" ucap Erni.


"Kenapa nggak ketemu di sini, aja?" tanya Sarina. Ia sepertinya ragu untuk menemui pria yang menjemputnya dua hari yang lalu karena sikapnya yang pendiam.


"Nggak usah khawatir, dia itu orangnya baik bangat dan mungkin ia ingin berkenalan denganmu!" Erni mencoba meyakinkan sahabatnya.


"Ya, udah, nanti saya temuin dia, tapi tolong sampaikan kepada temanmu itu bahwa saya tidak akan berlama-lama di sana!"


"Oke,"


Sambungan terputus. Zarina segera mandi dan bersiap-siap mau menemui sopir yang menjemputnya tempo hari untuk membayar utangnya.

__ADS_1


__ADS_2