
Tiba di rumah, Pak Yona membuka pintu dengan kasar dan langsung mencari keberadaan Seyla.
"Seyla! Seyla! Kamu di mana?" serunya dengan suara keras tapi tidak ada sahutan.
Ia ke dapur dan di sana menemui Bi Ima yang sibuk menyiapkan makan malam.
"Seyla ke mana, Bi?"
"Nggak tahu, Tuan,"
Pak Yona kembali lagi ke depan dan menghempaskan tubuhnya di sofa dengan pandangan lurus ke depan sedangkan istri sudah masuk ke kamar dan di sana ia menyembunyikan wajahnya di bawah bantal sambil menangis. Ia sangat kecewa dengan apa yang dilakukan oleh Seyla dan ia juga merasa takut melihat kemarahan suaminya.
Pak Yona adalah seorang yang pendiam tapi ia tidak segan-segan berlaku kasar ketika ada hal yang membuatnya marah.
Tak lama kemudian terdengar deru mobil di depan rumah. Seyla sudah pulang diantar oleh seseorang yang seumuran dengan Alga. Pak Yona memperhatikan gerak-gerik mereka melalui jendela kaca. Ia melihat Seyla turun dari mobil lalu kepalanya kembali ia julurkan melalui jendela dan pria yang ada di mobil itu memberikan ciuman di bibirnya. Wajah pria itu persis yang ada di video yang diperlihatkan oleh Alga tadi.
Seyla melangkah dengan riang masuk ke dalam rumah sambil menenteng barang belanjaannya dengan merk ternama yang tampak dari tulisan yang ada pada kresek.
"Hey, kamu dari mana, aja?" tanya ayahnya dengan suara keras dan tegas membuat Seyla kaget. Barusan kali ini ia mendengar suara ayahnya yang membentak dirinya.
"Dari rumah teman," jawabnya dengan ragu.
"Jawab yang jujur sekarang! Siapa pria yang mengantarmu tadi?"
"Namanya kevin, Ayah,"
__ADS_1
"Ada hubungan apa antara kamu dengan Kevin?"
"Hanya sebagai teman,"
"Ohhh... Sakarang kamu nggak usah lagi bersandiwara di depan kami karena kartumu sudah terbuka lebar. Alga sudah membatalkan pernikahan kalian karena ternyata kamu tidak lebih dari seorang pelacur! Kamu itu munafik dan telah mengecewakan Ayah dan ibu!" Kamu keterlaluan!"
Seyla tertunduk lesu mendengar makian dari ayahnya. Ia tidak bisa berkutik karena takut bila kemarahan ayahnya akan semakin terpancing jika ia ngomong.
Mendengar suara suaminya yang lumayan keras, Ibu Carla keluar dari kamar dengan mata yang sembab.
"Ini semua terjadi karena kamu terlalu memanjakan dia! Di depan kita ia tampak seperti tikus basah tapi di luar sana kelakuannya sangat memalukan," seru Pak Yona kepada istrinya.
"Kok, saya yang disalahkan?" sanggah Ibu Carla.
Keduanya pun beradu mulut dengan suara yang tidak terkontrol sehingga mengundang perhatian para tetangga. Mereka datang berkerumun karena penasaran namun Seyla bergegas menutup dan mengunci pintu sehingga para tetangga itu hanya bisa mendengar dari luar saja.
Mau tak mau, terpaksa Seyla keluar dan meminta bantuan kepada warga yang masih berdiri di situ.
"Tolong bantu saya untuk membawa Ibu ke rumah sakit!"
"Ibumu kenapa?"
"Dia tiba-tiba pingsan,"
Beberapa warga masuk menghampiri Ibu Carla dan ada di antaranya yang meminta minyak angin kepada Seyla lalu digosokkan pada tubuh Ibu Carla dan beberapa saat kemudian tangannya mulai bergerak sehingga mereka tidak jadi membawanya ke rumah sakit.
__ADS_1
Mereka berbisik-bisik karena tidak melihat keberadaan Pak Yona pada hal tadi suaranya sangat jelas terdenngar ke luar saat beradu mulut dengan istrinya, namun mereka segan untuk menanyakan lebih jauh lagi kepada Seyla.
Salah seorang ibu mengambil air hangat di dapur lalu memberinya kepada Seyla dan selanjutnya mengarahkan ke bibir ibunya menggunakan sedotan. Ibu Carla minum air tersebut dengan mata yang masih tertutup karena kepalanya terasa mau pecah dan ia juga merasa malu kepada para tetangga yang telah mendengar pertekarannya tadi dengan suaminya.
Setelah keadaan sudah membaik, para warga pun kembali ke rumah masing-masing dengan kepala yang dipenuhi tanda tanya tentang apa yang sedang menimpa keluarga Pak Yona karena sudah sekian lama mereka hidup bertetangga dan baru kali ini mendengar ada keributan di rumah tersebut.
"Maafkan Seyla, Bu!" ucap Seyla dengan deraian air mata.
"Apa yang kamu cari, Nak? Kamu kekurangan uang, tinggal minta sama ayah atau ibu! Kenapa kamu malah jalan dengan laki-laki yang seumuran dengan bapakmu?" tanya Ibu Gita dengan lirih.
Seyla tidak bisa menjawab. Air matanya semakin deras mengalir di pipinya.
"Ibu sangat kecewa dan malu karena selalu membagakan kamu kepada orang banyak karena akan segera menikah dengan seorang pria pewaris tunggal kekayaan orang tuanya tapi semua harus berakhir dan hanya menyisahkan rasa malu. Terlalu banyak bukti-bukti kebersamaan kamu dengan laki-laki lain yang Alga simpan di memori ponselnya dan itu yang digunakan untuk membatalkan pernikahan kalian." sambung Ibu Gita lagi dengan mata berkaca-kaca.
Setelah berkata demikian dan mengeluarkan sebagian unek-unek dalam hatinya, ia beranjak dari sofa dan pergi ke belakang. Rencana mau masuk ke kamar tetapi kamar terkunci dari dalam, dikunci oleh suaminya.
Ia keluar melalui pintu belakang. Bi Ima yang lagi beres-beres di dapur tidak berani menyapanya ketika ia lewat.
Di belakang terdapat sebuah kolam berukuran kecil dan di dalamnya ada beberapa ikan peliharaan yang sedang meliuk-liukkan tubuhnya dan dapat dilihat dengan jelas karena airnya sangat jernih.
Ibu Carla duduk pada bangku kayu yang ada di sana sambil termenung memikirkan pergumulan rumah tangganya yang begitu pelik.
Sementara itu Seyla juga masuk ke kamarnya dan mengunci pintu. Ia bingung dan takut kepada kedua orang tuanya karena mereka sudah tahu kedoknya selama ini yang ia selalu sembunyikan rapat-rapat, namun benar kata pepatah 'Sepandai-pandainya orang menyimpan barang yang busuk pasti suatu saat akan tercium juga'.
Malam itu Bi Ima juga bingung karena tidak ada penghuni rumah yang muncul ke meja makan. Suasana rumah tersebut sangat sepi karena masing-masing berada di dalam kamar sambil mengunci diri. Tadi Ibu Carla terpaksa masuk ke kamar tamu karena suaminya tidak mau membukakan pintu untuknya.
__ADS_1
Satu jam telah berlalu, Bi Ima duduk menunggu majikannya di meja makan namun yang ditunggu tak kunjing datang juga. Perutnya yang sudah keroncongan ia isi terlebih dahulu kemudian menutup makanan yang ada di meja lalu masuk ke kamarnya untuk beristirahat.
Tengah malam ia terjaga karena mendengar suara perabot di dapur tanda ada seseorang yang berada di sana. Bi Ima pun bangun dan pura-pura ke dapur untuk mengambil air minum dan di sana Pak Yona sedang makan.