
Sejak Zarina dan Hendra bertemu, keduanya sering berkirim pesan bahkan kadangkala berkomunikasi melalui telepon. Mereka begitu akrab sebagai teman, tidak lebih dari itu karena Hendra sudah punya tunangan dan Zarina juga sudah punya seorang kekasih.
Dasar dari keakraban mereka hanya sebatas sahabat dan dan merasa diri senasib karena berasal dari desa yang sama dan datang ke Jakarta dengan tujuan yang sama. Zarina merasa seolah punya keluarga yang bisa melindungi dan membantu jika suatu waktu diperlukan.
Namun siapa sangkah bahwa persahabatan mereka telah menyalakan api cemburu di hati Alga.
Kejadian bermula ketika Alga berkunjung ke rumah kost Zarina tanpa menghubungi sebelumnya. Kebetulan saat itu Hendra juga datang membawa kiriman dari kampung yang dititip oleh Ibu Dina buat Zarina.
Tanpa pikir panjang, Alga marah dan menyerang secara membabi buta hingga Hendra babak belur.
Zarina mencoba menjelaskan siapa Hendra, tapi hati Alga sudah tertutup dan lebih dikuasai dengan emosi yang meledak-ledak.
Alga mengambil motornya lalu pulang tanpa peduli lagi dengan keadaan sekitar di mana penghuni kost dan tetangga sudah berdatangan karena mendengar ada suara yang ribut-ribut.
Zarina menangis karena sangat menyesali perbuatan Alga. Ia meminta tolong kepada teman-temannya mengantar Hendra ke rumah sakit untuk mengobati luka pada sebagian tubuhnya.
"Erni, tolong hubungi Alga dan jelaskan siapa Hendra!" pinta Zarina kepada Erni.
Erni juga sangat menyesali tindakan Alga yang telah melukai sahabatnya. Sejak pertemuannya dulu dengan Hendra di supermarket, ia juga menjalin persahabatan dengan pria yang baik itu.
Hendra sudah pernah membawa tunangannya untuk diperkenalkan kepada Zarina dan Erni, jadi tidak ada yang perlu dicurigai. Sayang sekali Alga terlalu emosi dan tidak bisa mengontrol dirinya.
"Iya, nanti saya akan coba meneleponnya," sahut Erni.
Keesokan harinya Alga memanggil Zarina masuk ke ruangannya. Zarina mencoba bersikap tenang seperti biasa walaupun sikap Alga sangat berubah hingga seratus delapan puluh derajat. Dari tatapan matanya, Zarina menemukan ada kebencian di sana.
__ADS_1
"Ada apa Bapak memanggil saya?" tanya Zarina setenang mungkin walaupun dadanya berdebar-debar tak karuan.
"Mulai sekarang kantor ini tidak membutuhkan lagi tenagamu dan juga di antara kita tidak ada lagi hubungan apa-apa!" kata Pak Alga dengan suara parau namun tegas.
Zarina hampir histeris tapi jiwa mandirinya segera bangkit dan mampu melawan perasaannya yang hancur berkeping-keping serta mampu membendung air mata yang sudah hampir keluar. Ia menghela nafas dan berusaha menguasai keadaan karena pandangannya seketika kabur.
"Baiklah, terima kasih karena sudah memberi ruang kepada saya untuk menjadi bagian dari perusaahaan ini dan mohon maaf jika selama saya bekerja ada kekeliruan yang pernah saya buat. Selamat pagi, permisi!" ucap Zarina.
"Ini sisa gajimu!" kata Alga sambil meletakkan sebuah amplop berwarna cokelat di meja dengan kasar.
Zarina meraih amplop tersebut karena merasa punya hak atas pekerjaannya selama kurang lebih satu bulan terakhir ini. Ia langsung berdiri dan bergegas keluar dari ruangan tersebut.
"Kak Zarina!" sapa Tini yang berpapasan dengan Zarina di luar.
"Selamat tinggal, Dek!" ucap zarina senyum hampa namun ia menyembunyikan kesedihannya.
"Mau pulang kampung,"sahut Zarina.
Ia pun berlalu meninggalkan Tini yang masih bingung. Zarina masuk ke ruangannya dan mengambil tasnya lalu pergi. Ia menelusuri jalan menuju ke tempat kostnya sambil tertunduk dengan pikiran yang kacau.
Zarina sangat menyayangkan sikap Alga yang sangat cepat mengambil keputusan tanpa pertimbangan. Yah, mungkin ini sudah nasibku, mau diapa lagi?
Selama tiga hari Zarina mengurung diri di kamar sambil meratap dengan sedih. Meratapi nasib dirinya yang dicampakkan begitu saja oleh Alga. Ia tidak hanya kehilangan seorang kekasih tapi juga kehilangan pekerjaan.
Erni sangat sedih ketika mengetahui nasib sahabatnya. Ia datang ke kamar Zarina untuk menghibur setiap ada kesempatan.
__ADS_1
Sore ini setelah pulang dari kantor, Erni datang membawa makanan buat Zarina dan ia sangat senang karena Zarina sudah mulai makan dengan lahap, berbeda dengan beberapa hari yang lalu.
Tak lama kemudian ponsel milik Erni berdering. Ia memeriksa dan tampak nama Hendra yang sedang memanggil.
"Halo!" sapa Erni setelah mengusap layar ponselnya.
"Halo, bagaimana keadaan Zarina sekarang?" suara Hendra terdengar khawatir. Kemarin Erni memberitahunya tentang keadaan Zarina dan menceritakan semua apa yang telah menimpanya.
"Syukurlah, keadaannya sudah mulai membaik dan sekarang saya sedang bersamanya di sini,"
"Boleh nggak saya bicara sebentar dengan dia?"
Tanpa menjawab, Erni langsung memberikan ponselnya kepada Zarina yang sejak dari tadi tampak sangat penasaran karena ingin tahu siapa gerangan yang sedang berbicara dengan Erni.
"Dari siapa?" tanya Zarina pelan.
"Angkat aja, entar kamu juga bakalan tahu!" sahut Erni.
Zarina menerima ponsel dengan tangan gemetar dan menjawab dengan gugup karena sangkahnya yang menelepon adalah Alga.
"Ha... halo!" sapanya terbata.
"Halo, bagaimana kabarnya, apa udah baikan?" tanya Hendra.
"Baik," sahut Zarina sambil tersenyum. Ia merasa senang karena yang menelepon adalah Hendra.
__ADS_1
Hendra menawarkan sebuah pekerjaan kepada Zarina tapi bukan di kantor melainkan di sebuah rumah jahit. Calon istri Hendra punya usaha menjahit pakaian dan saat ini masih butuh karyawan.
Awalnya Zarina ragu karena menurutnya ia sama sekali tidak punya bakat untuk menjahit tapi Hendra menyemangati hingga Zarina pun akhirnya setuju.