
Sore hari Ssyla datang bertamu ke rumah Ibu Gita. Ia ingin bertemu dengan Alga karena tidak sempat bertemu di kantor tadi.
Ibu Gita yang sedang menyiram bunga di taman menghentikan aktifitasnya dan menemui calon mantunya itu dengan ramah.
"Gimana perkembangan hubungan kalian?" tanya Ibu Gita setelah basa-basi.
"Baik-baik aja, Tante," sahut Seyla sambil tersenyum. Ia selalu berusaha tampil sempurna di hadapan calon mertuanya ini.
"Tahun ini juga kami siap nikahkan kalian," ucap Ibu Gita bersemangat dan Seyla sangat senang mendengarnya.
Atas izin dari Ibu Gita, Seyla masuk ke kamar untuk menemui Alga yang sedang istirahat. Dengan mudah ia menerobos ke dalam karena pintu kamar tersebut tidak terkunci.
"Hay, Sayang... Maaf saya ganggu!" Seyla menghampiri Alga yang sebagian tubuhnya tertutup selimut.
Alga yang baru saja hendak memenjamkan mata setelah bercakap-cakap dengan Zarina melalui telepon sangat kaget mendengar suara Seyla yang tiba-tiba berada di sampingnya.
Ingin sekali ia mengumpatnya dengan kata-kata yang kasar namun hal itu diredam karena ia melihat ibunya yang sedang menuju ke kamarnya.
Ide yang bagus muncul seketika di benaknya untuk memojokkan Seyla di depan ibunya.
"Ehhh, Seyla... udah pulang yah, dari hotel?" tanya Alga dengan suara agak keras.
"Buat apa ke hotel? Hmmm, pasti urusan kantor, iya 'kan?" tanya Ibu Gita yang sudah bergabung dengan mereka.
Seyla jadi salah tingkah karena gugup.
"Iya Tante, Alga mengutusku ke hotel untuk menemui seseorang yang akan menjalin hubungan kerjasama dengan perusahaan kita," sahut Seyla berbohong.
__ADS_1
"Bagus, dari dulu saya sudah tahu bahwa calon mantu Ibu ini memang bisa diandalkan! Coba kalau kamu mengutus Zarina yang kampungan itu, bisa jadi ia hanya akan mempermalukan kita!" ujar Ibu Gita sambil tertawa mengejek.
"Tolong Ibu dengar dulu! Tadi itu, Seyla diajak oleh Om Dirga untuk bersenang-senang di hotel," Alga tetap berusaha setenang mungkin meski dalam hati sangat emosi karena Seyla sudah terang-terangan berbohong dan ibunya juga selalu menganggap remeh tentang kemampuan Zarina di kantor.
"Siapa itu Om Dirga? Kok, Ibu nggak kenal yah?"
"Dia itu kerabat saya, Tante," sahut Seyla dengan jantung yang berdebar-debar.
"Kok, bisa yah, seorang kerabat ngajak kerabatnya sendiri buat bersenang-senang di kamar hotel?" sindir Alga.
Ibu Gita jadi bingung. Ia menatap wajah Alga dan Seyla secara bergantian.
"Ada kok, videonya di sini kalau Ibu nggak percaya!" ujar Alga lagi membuat Seyla keringat dingin.
"Saya bisa jelasin, Tante," ucap Seyla memohon.
Setelah keduanya keluar, Alga menutup dan mengunci pintu kamarnya lalu kembali berbaring. Ia tertawa dalam hati mengingat perubahan mimik wajah Seyla ketika diancam untuk memperlihatkan video kepada ibunya tadi. "Lambat laun ibu akan tahu siapa Seyla sebenarnya." gumamnya.
Sekarang ia baru tahu juga kalau perempuan itu adalah seorang yang pandai berbohong. Terbukti dengan apa yang diucapkan tadi tentang Om Dirga dan juga saat ini Alga merasa terusik mendengar derai tawa mereka dari ruang tamu. Entah kebohongan apa lagi yang disampaikan oleh Seyla kepada Ibu Gita sehingga dengan gampangnya melupakan kejadian tadi.
Seyla berada di rumah Ibu Gita hingga magrib dan ia baru pamit setelah ponselnya berdering. Ada panggilan dari Om Dirga tapi ia sengaja tidak menjawab tapi langsung pamit dengan alasan bahwa ibunya sudah menunggu di rumah.
Seyla tidak pulang ke rumahnya melainkan mendatangi sebuah penginapan mewah yang ada di kota tersebut dan seperti biasanya ia selalu menyembunyikan wajahnya dengan masker dan kaca mata hitam lalu masuk ke penginapan tersebut. Di kamar, Om Dirga sudah menunggunya dengan tidak sabar.
Pak Dirga adalah seorang pengusaha yang sukses sehingga ia tidak pernah kekurangan uang, malah kelebihan. Istinya juga cantik tapi super sibuk hingga jarang sekali ada waktu untuk berduaan dengan suaminya. Mereka punya toko besar yang menyediakan bahan bangunan dan mempekerjakan banyak karyawan. Di kota tempat tinggal mereka terdapat tiga toko miliknya dan masih ada tiga toko lagi yang berada di luar kota.
Kurangnya perhatian dan pelayanan istrinya membuat Pak Dirga mencari hiburan di luar hingga bertemu dengan Seyla yang membuat ia selalu mabuk kepayang.
__ADS_1
Ia menyambut Seyla dengan kedua tangannya yang terbuka lebar dan Seyla dapat mencium bau parfum yang mahal dari tubuh Om Dirga.
Pria yang sudah tua itu tidak membiarkan waktu berlalu tanpa melakukan sesuatu karena yang ditunggu-tunggu sudah di depan mata.
Ia membantu mencopot jaket tebal yang melekat di tubuh Seyla dan menyisahkan dalaman yang sangat tipis sehingga sesuatu yang ada di dalam dapat diterawang dengan jelas.
Sentuhan demi sentuhan kini dilancarkan oleh Om Dirga hingga tak sehelai kain lagi yang menutupi tubuh indah dan seksi itu. Om Dirga yang sudah tua tapi masih mampu membuat Seyla mendesah karena marasakan kenikmatan dari setiap sentuhan pada bagian-bagian tubuhnya yang sensitif.
"Akkkhhh... Akkhhh... Akkhh...,"
Suara yang dikeluarkan oleh Seyla membuat Om Dirga semakin bersemangat. Mulutnya yang sedang terpaut dengan bibir Seyla ia lepaskan dan berpindah ke bagian bawah, ke benda yang sedari tadi dielus dan diremas-remas dan membuat sang pemilik semakin mendesah kenikmatan.
"Kamu jangan cepat-cepat cari suami yah, biar Om selalu punya kesempatan seperti ini!" bisik Om Dirga yang sudah melangkah lebih jauh.
"Nggak apa-apa Om, biar udah punya suami kalau Om mau main lagi, saya selalu siap kok," sahut Seyla yang mulai menggeliat ke sana ke mari.
"Gimana kalau ketahuan sama suamimu?"
"Om juga punya istri, gimana juga kalau istrinya tahu bahwa Om sering dipuaskan oleh wanita lain?"
" Biar aja dia tahu, salah istriku sendiri, siapa suruh nggak mau melayaniku dengan baik dengan alasan selalu sibuk pada hal sebagai laki-laki yang normal, Om ini masih sangat butuh belaiannya,"
Pak Dirga memenjamkan mata ketika Seyla meraba-raba dengan lembut dada bidangnya dengan jari-jarinya yang lentik.
Seyla rela melakukan semua itu karena matanya tertuju pada sebuah amplop berwarna cokelat di meja yang tentunya berisi uang. Ia sedang membayangkan akan berbelanja barang-barang bermerek incarannya selama ini. Setiap kali ia meminta uang kepada orang tuanya ia hanya diberi sedikit dan tidak cukup untuk membeli barang-barang yang mahal. Kedua orang tua Seyla tergolong hemat dan tidak mengeluarkan uang secara sembarang tanpa mengetahui tujuannya dengan jelas sehingga Seyla sering men 'cap' mereka sebagai orang tua pelit.
"Terima kasih sudah memuaskan ragaku!" ucap Pak Dirga dengan mata yang masih terpejam.
__ADS_1
"Sama-sama, Om!" sahut Seyla dengan senyum mengembang karena tidak cukup setengah jam ia melayani pria tersebut tapi bayarannya sangat mahal.