Sadar Setelah Harta Terkuras

Sadar Setelah Harta Terkuras
Saya Mencintaimu


__ADS_3

Pak Ando mengajak Zarina pergi ke warung yang terletak di ujung perbatasan desa tempat tinggal mereka. Warung itu agak jauh dari pemukiman warga dan menjadi tempat persinggahan bagi yang melakukan perjalanan jauh. Warga desa setempat juga sekali-kali mengunjungi tempat tersebut, utamanya pasangan muda-mudi.


Suasana di sana lagi sepi dan menurut pemiliknya biasanya menjelang subuh baru ramai karena para sopir dan penumpangnya yang melakukan perjalan dari luar kota akan singgah sehingga pemilik warung tetap terjaga secara bergantian.


"Pesan nasi putih dengan lauk ikan bakar!" Pak Ando memesan makanan setelah meminta persetujuan dari Zarina.


"Iya Pak, silahkan menunggu, kami akan mengolahnya sekarang juga!" kata Pak Marno pemilik warung tersebut.


Warung tersebut menyajikan makanan dalam keadaan segar dan panas sehingga banyak pelanggan yang menjadi ketagihan dan selalu ingin mampir untuk menikmati masakan di tempat itu.


"Dari mana dan hendak ke mana?" tanya Pak Marno basa-basi dengan ramah.


Keramahannya ini jugalah yang menjadi daya tarik tersendiri bagi pengunjung. Ibu Asti, istrinya juga sangat ramah dan selalu melayani dengan tulus. Begitu juga dengan dua orang ponakannya yang mereka pekerjakan untuk bantu-bantu pekerjaan di situ. Mereka semua punya sikap yang sopan dan ramah.


"Kalau saya berasal dari desa tetangga dan teman saya ini asli orang sini juga," sahut Pak Ando.


Pak Marno manggut-manggut mendengar penjelasan dari pelanggannya lalu pamit ke dapur untuk mengolah makanan yang dipesan oleh mereka.


Setelah Pak Marno menghilang di balik tirai pembatas antara dapur dan tempat mereka duduk saat inj, Pak Ando jadi gelisah karena kalimat yang sudah lama ia susun untuk disampaikan kepada Zarina tiba-tiba hilang dari ingatannya.

__ADS_1


"Mmm, ehhh, eh...," ucap Pak Ando tidak jelas.


"Ada apa, Pak?" tanya Zarina heran melihat wajah Pak Ando yang keringatan.


"Mengapa kamu belum menikah?" Kalimat tersebut tiba-tiba meluncur dari mulut Pak Ando padahal tidak pernah ada dalam rangakaian dari sejumlah kalimat yang sudah ia persiapkan sebelumnya.


Ia menghela nafas dengan berat dan menyesal karena telah mengucapkan pertanyaan itu. Jangan-jangan pertanyaan tersebut menyinggung perasaan wanita yang ada di hadapannya saat ini karena Zarina diam dan menundukkan kepala.


Bayangan Alga dan Tini seketika muncul dalam benak Zarina. Pasti mereka sudah punya momongan sekarang! Batinnya dalam hati, sedangkan dirinya hingga saat ini masih sendiri dan sudah sering ia mendengar sindiran dari orang-orang yang menjulukinya sebagai perawan tua.


"Maaf seribu maaf jika pertanyaanku tadi telah menyinggung perasaanmu. Saya tidak bermaksud lain dan anggaplah sebagai angin lalu!" ucap Pak Ando yang merasa sangat bersalah.


"Nggak apa-apa, kok," ujar Zarina sambil tersenyum dan senyum itulah yang selalu mengganggu hari-hari Pak Ando dan membuatnya selalu gelisah.


"Katakan saja, apa yang Bapak sedang pikirkan!" kata Zarina.


"Tapi kamu janji nggak akan marah yah?"


"Ihh, emangnya anak TK,"

__ADS_1


Pak Ando tertawa mendengar ucapan Zarina.


"Sebenarnya saya mencintaimu dan jika kamu bersedia saya akan segera menikahimu!" Akhirnya kalimat itu keluar juga di bibir Pak Ando dan dengan hati berdebar-debar ia menunggu reaksi Zarina untuk menanggapi ucapannya tersebut.


"Sebelumnya saya minta maaf karena telah lancang untuk mengungkapkan semua ini tapi dorongan dari hati saya yang paling dalam memaksaku untuk melakukannya, meskipun saya tahu pasti berat bagi kamu karena saya adalah seorang duda yang punya banyak anak bahkan sudah punya cucu pula. Jadi saya beri kesempatan agar kamu bisa berpikir dan ini bukan paksaan. Satu hal yang sudah membuatku lega karena hari ini saya sudah berterus terang kepadamu tentang perasaanku yang telah menjadi beban pikiranku sejak pertemuan kita beberapa waktu yang lalu," tutur Pak Ando panjang lebar.


Zarina mencerna penuturan Pak Ando dan ia berpikir, mungkin ada baiknya juga agar ia bisa mengubah statusnya.


Baru saja ia hendak menanggapi tiba-tiba ponakan Pak Marno sudah muncul dari balik tirai sambil membawa makanan pesanan mereka. Aroma ikan bakar yang harum menggugah selera membuat mereka ingin segera melahapnya.


"Silahkan menikmati, mumpung masih panas!"


"Terima kasih!"


Keduanya pun menikmati makanan tersebut sambil sesekali mengomentari masakan yang benar-benar gurih.


"Gimana, kamu suka?" tanya Pak Ando.


"Sangat suka, terima kasih sudah mengajakku ke sini!"

__ADS_1


"Jika kamu nggak keberatan, besok kita ke sini lagi!"


Zarina tersenyum lalu mengangguk. Pak Ando sangat senang karena ia sudah bisa menyimpulkan bahwa wanita yang ada di hadapannya ini memberinya peluang.


__ADS_2