Sadar Setelah Harta Terkuras

Sadar Setelah Harta Terkuras
Tidak Sesuai Harapan


__ADS_3

Sore hari Tini sedang berada di sebuah toko kecantikan. Ia sedang membeli scincare untuk perawatan wajahnya. Secara tak sengaja ia melihat Seyla bersama seorang laki-laki yang tampan baru saja turun dari mobil. Tini buru-buru membayar harga scincare yang dibelinya kemudian mencari tempat yang aman untuk mengintai Selya.


Seyla dan pria itu juga masuk ke toko, mungkin ia juga ingin membeli peralatan make up. Bila dilihat dari cara pria tersebut memperlakukan Seyla, sudah bisa ditebak bahwa di antara mereka ada hubungan sepesial.


Tini tidak menyia-nyikan kesempatan itu. Ia memasang kameranya untuk mengambil gambar dan merekam aktifitas mereka karena akan dijadikan sebagai bahan laporan agar Pak Alga semakin menjauhi Seyla.


Usai membayar di kasir, keduanya keluar sambil bergandengan tangan dengan mesra.


"Terima kasih Kevin, kamu baik bangat!" ucap Seyla.


"Ahh, kamu bisa aja," kata Kevin sambil mencolek dagu Seyla.


"Nah, sekarang kita mau ke mana nih?" tanya Seyla dengan kerlipan mata yang menggoda.


"Tenang aja, Abang akan bawa kamu ke tempat biasa!" sahut Kevin.


Tini merasa puas karena ia juga berhasil merekam percakapan mereka dari dekat. Sengaja ia menyeruak di kerumunan orang banyak sehingga Seyla tidak melihatnya.


Keesokan harinya Tini tiba di kantor lebih awal dari yang biasanya. Kali ini ia kembali mengenakan pakaian seksi karena ia yakin Seyla tidak akan diizinkan lagi oleh Pak Alga untuk masuk ke ruangannya jika sudah melihat gambar dan video mereka yang sempat ia simpan pada ponselnya yang rencananya akan segera dibongkar.


"Selamat pagi, Pak!" sapa Tini dengan sopan dan penuh hormat.


"Selamat pagi juga," sahut Pak Alga pelan.


"Maaf sebelumnya, Pak! Bukannya saya mau mencampuri urusan pribadi Bapak tapi entah mengapa saya juga merasa bersalah jika mengetahui sesuatu yang ada hubungannya dengan pribadi Bapak dan tidak menyampaikan!" tutur Tini panjang lebar.


"Ada apa Tini? Katakan saja, jangan berbelit-belit dan membuat kepala saya makin puyeng!"


Tini mengambil ponselnya dari tas dan membuka rekaman video Seyla bersama Kevin lalu memperlihatkan kepada Alga.


"Udah basi,"

__ADS_1


"Maksud Bapak?"


Alga mengatakan bahwa ia tidak punya urusan lagi dengan wanita yang bernama Seyla itu. Sudah ada beberapa bukti yang ia simpan dan itu akan menjadi senjata yang akan ditunjukkan kepada kedua orang tuanya nanti jika terus memaksanya untuk menikahi wanita tersebut.


Tini sangat senang mendengar semua itu dan ia tertawa dalam hati.


"Saya kirim ke ponsel Bapak yah, biar Bapak punya bukti yang semakin banyak!"


"Boleh juga,"


Kembali Tini mengulum senyum dengan perasaan gembira. Sedikit demi sedikit ia akan terus berusaha agar bisa selalu berkomunikasi dengan Pak Alga.


Tini pamit dan kembali ke meja kerjanya. Ia sengaja berjalan dengan gemulai memperlihatkan panggulnya yang montok berbalut rok yang sangat ketat dan pendek.


***


Kedua orang tua Seyla datang ke rumah Ibu Gita untuk membicarakan rencana pernikahan Seyla dan Alga. Mereka duduk di ruang tamu menikmati minuman hangat sambil berbincang dengan serius.


"Benar sekali soalnya undangan juga baru mau dicetak dan masih banyak yang pekerjaan lain yang harus dibenahi!" sambung Pak Rafi.


Sementara itu Ibu Gita dan Ibu carla juga sedang serius membahas baju seragam untuk penjemput tamu dan kerabat dekat.


Diam-diam Alga menguping pembicaraan mereka dengan menempelkan telinga pada daun pintu kamarnya. Ia pun mulai menyusun kata-kata penolakan agar rencana pernikahan tersebut dibatalkan dan setelah menemukan sebuah ide ia keluar menuju ke ruang tamu.


"Maaf, calon mantu jadi terganggu waktu istirahatnya!" gurau Ibu Carla ketika Alga datang menghampiri mereka.


Alga hanya tersenyum tipis mendengar gurauan Ibu Carla.


"Bagaimana dengan cutinya? Apakah bisa diambil pada awal bulan November?" tanya Pak Rafi kepada Alga.


Alga diam untuk beberapa saat, mengisi rongga dadanya dengan menghirup udara dalam-dalam lalu menghembuskan dengan kasar.

__ADS_1


"Maaf sebelumnya jika apa yang akan saya sampaikan ini tidak sesuai dengan harapan Bapak dan Ibu! Rencana pernikahan saya dengan Seyla tidak bisa diteruskan..., Alga terdiam karena melihat ayahnya Seyla langsung berdiri dengan emosi.


"Ehhh, kamu jangan asal ngomong yah!" Pak Yona memotong pembicaraan dengan suara keras.


"Sabar Pak, Nak Alga belum selesai ngomong! Mari kita dengarkan dulu penjelasannya!" kata Ibu Carla menenangkan suaminya.


"Saya tidak bersedia menikah dengan Seyla karena ia sering gonta-ganti pasangan," sambung Alga.


"Tolong, kamu jangan asal nuduh anak kami seperti itu!" ujar Pak Yona dengan mimik wajah yang menyeramkan.


"Saya nggak asal nuduh, Pak, ada semua kok bukti-buktinya di sini kalau kalian nggak percaya," ucap Alga membuat Pak Yona dan Ibu Carla saling berpandangan.


Pasangan itu sangat tersinggung dengan ucapan Alga karena setahu mereka, Seyla adalah anak yang baik dan patuh. Tidak mungkin melakukan hal yang dituduhkan oleh Alga. Seyla sering keluar rumah tapi ia selalu pamit dengan alasan ingin bertemu dengan Alga, calon suaminya.


"Nak, kamu jangan ngarang cerita yang nggak benar, bisa jadi apa yang kamu lihat itu hanya fitnah. Mungkin ada orang yang iri hati sehingga mau mencari cara agar hubungan kalian hancur!" Ibu Gita memberi nasihat kepada Alga karena ia merasa kurang nyaman melihat kedua orang tua Seyla yang tampak gusar.


"Saya ini ngomong apa adanya," sahut Alga membela diri.


Ia merogoh ponsel di saku celananya dan mencari bukti-bukti berupa gambar dan video lalu menaruh ponsel tersebut di meja.


Ibu Carla yang penasaran langsung meraih ponsel tersebut dan alangkah terkejutnya ia ketika melihat Seyla sedang bergelayut mesra pada pundak seorang laki-laki yang seumuran dengan ayahnya dalam sebuah video yang berdurasi enam puluh detik.


Seakan tak percaya dengan dengan apa yang dilihatnya tapi ia masih penasaran lalu membuka lagi video berikut. Masih sama tapi laki-laki yang sedang bersama Seyla kali ini tidak sama dengan yang ada di video pertama. Hingga pada video selanjutnya, Ibu Carla hanya mampu meneteskan air mata ketika melihat Seyla jalan dengan pria yang sebaya dengan Alga dan pada video tersebut percakapan mereka sangat jelas terekam.


"Tidak mungkin! Ini tidak mungkin!!!" Ibu Carla menangis histeris.


Pak Yona juga penasaran dengan isi video yang membuat istrinya histeris. Ia meraih ponsel tersebut dan tak lama kemudian meletakkan kembali di meja dengan wajah merah padam. Ia sangat malu kepada keluaga Pak Rafi.


Kini ponsel tersebut berpindah ke tangan Pak Rafi. Ibu Gita pun mendekat dan duduk di samping suaminya lalu ikut menonton video tersebut. Kedua tangannnya menutup mulut karena ia sangat kaget melihat laki-laki yang sedang bermesraan dengan Seyla. Hampir saja ia keceplosan dan menyebut nama laki-laki tersebut.


Bagi Ibu Gita, laki-laki yang bersama Seyla itu sangat ia kenal karena pernah mengisi hari-harinya ketika masih muda. Munculnya laki-laki itu pada video itu seolah memutar memori dalam ingatannya yang sudah lama terkubur.

__ADS_1


__ADS_2