Sadar Setelah Harta Terkuras

Sadar Setelah Harta Terkuras
Kecupan Pertama


__ADS_3

Zarina sudah selesai mandi dan ia memilih kemeja berwarna putih kemudian dipasangkan dengan celana panjang warna hitam lalu memasang make up tipis-tipis pada wajahnya. Tak lupa ia juga menyemprot tubuhnya dengan parfum yang baunya tidak terlalu menusuk indra penciuman.


Ia memperhatikan alamat yang dikirim oleh Erni dan timbul dalam pikirannya untuk membawa uang, jadi sekalian belanja nanti di indomaret yang dekat dengan alamat yang akan dituju.


Zarina memesan grab dan hanya beberapa saat saja, grab yang dipesan sudah datang menjemputnya. Tidak sampai lima belas menit, grab yang ditumpangi sudah berhenti dan Zarina segera mencocokkan alamat yang ada pada ponselnya dengan lokasi tempat grab itu berhenti.


Setelah menyodorkan uang kepada sopir ia mencari-cari keberadaan laki-laki yang akan ditemuinya.


Sebuah mobil mewah memasuki area restoran membuat Zarina senang dan yakin bahwa orang yang dicarinya berada dalam mobil tersebut karena ia masih hafal dengan mobil yang menjemputnya tempo hari.


Seorang laki-laki turun dari mobil dengan penampilan yang sama seperti ketika menjemput Zarina ke rumah Pak Gunawan, memakai topi dan masker hitam.


Laki-laki itu langsung menghampiri Zarina yang berdiri di sudut halaman restoran dan memberi isyarat untuk masuk ke dalam.


"Maaf sebemumnya, Pak, Saya bayar di sini aja soalnya masih ada yang harus saya urus!" kata Zarina dengan sopan. Ia mulai membuka tas dan mengambil dua lembar uang pecahan seratus ribu rupiah.


Pria itu menolak dengan menggelengkan kepala dan ia semakin mendekat ke arah Zarina. Bau parfumnya tercium oleh Zarina mengingatkan dirinya akan seseorang karena bau parfum tersebut persis dengan yang ia sering cium.


Zarina kaget karena tiba-tiba saja laki-laki itu menggandeng tangannya lalu setengah memaksa menarik untuk masuk ke dalam restoran. Perasaan Zarina mulai takut, jangan-jangan orang ini punya niat jahat. Ia pun berusaha menarik tangannya dari genggaman tangan kekar sang pria tersebut tapi kekuatannya tak seberapa bila dibanding dengan kekuatan seorang laki-laki.


Akhirnya Zarina pasrah dan mengikuti pria tersebut dan berpikir bahwa tidak mungkin pria ini akan mencelakai dirinya karena tempat ini sangat ramai.


"Silahkan duduk tuan putriku!" ucap pria tersebut membuat Zarina tercengang.


"Pak Alga!!!" teriak Zarina tanpa sadar. Semua pasang mata melihat ke arah mereka.


"Bukan Pak Alga tapi Pak sopir," sahut Alga sambil mencabut maskernya. Bibirnya menyunggingkan sebuah senyum manis. Ia sangat senang karena berhasil mengerjai sang pujaan hati.


Zarina baru sadar, ternyata Erni dan Pak Alga sudah sepakat untuk mengerjai dirinya dan ia benar-benar tidak mengenali Pak Alga karena sejak bekerja di kantor ia belum pernah melihat Pak Alga membawa mobil tapi ia datang ke kantor dengan mengendarai sepeda motor.


Wajah Zarina masih bersemu merah karena malu ditatap oleh semua pengunjung yang ada di restoran tersebut ditambah lagi dengan rasa gugup karena hatinya selalu berdebar-debar ketika dekat-dekat dengan Pak Alga.

__ADS_1


"Ayo, kita pesan makanan, Sayang!" ajak Alga dengan suara lembut.


Deg! Pak Alga memanggilku dengan sebutan 'sayang'. Zarina tidak dapat menyembunyikan gejolak hatinya. Ia senyum-senyum.


"Bapak aja yang pesan, saya ikut aja!" sahut Zarina.


"Tolong, jangan selalu panggil 'Pak atau Bapak', kalau perlu bilang 'sayang'!" bisik Alga karena tidak mau didengar oleh pengunjung yang lain.


"Baik, Pak!' sahut Zarina.


"Aduhhh, 'Pak' lagi," ujar Alga dengan tatapan yang begitu menggoda.


Zarina tertawa karena merasa lucu dengan ucapannya. Ia sudah terbiasa dengan sebutan 'pak' apalagi Alga adalah bos di kantor.


Sambil menunggu makanan disuguhkan, Zarina membuka ponsel karena ia mendengar ada pesan yang masuk.


(Apakah kamu udah ketemu dengan pak sopirnya?) chat dari Erni.


"Pesan dari siapa, Sayang?"


Zarina mengarahkan layar ponselnya kepada Alga dan Alga pun ikut tertawa setelah membaca pesan tersebut.


(Belum, mungkin saya salah alamat) balas Zarina. Ia juga ingin mengerjai sahabatnya.


Sementara itu Alga juga mengambil ponselnya yang ada di saku jaket.


"Sayang, liat ke sini!" ucapnya.


Zarina menoleh dan Alga langsung mengambil gambar. Setelah itu ia mengirim gambar tersebut kepada Erni dan Erni pun meneruskan foto tersebut kepada Zarina sebagai balasan dari chat yang baru saja Zarina kepadanya.


(Nggak gampang loh, ngerjai saya) satu pesan Erni masuk lagi.

__ADS_1


(Saya ngaku kalah, deh! Kerjasama kalian memang patut dijempol) balas Zarina.


Mereka kembali menyimpan ponselnya karena pelayan sudah datang membawa makanan yang dipesan. Keduanya pun makan dengan nikmat.


Usai makan, Alga membayar di kasir lalu keduanya keluar dari restoran tersebut.


Sesuai dengan rencananya saat berangkat di rumah tadi, Zarina akan berbelanja kebutuhannya di indomaret. Alga pun mengantarnya ke sana dan Zarina merasa kurang enak karena semua barang belanjaannya dibayar oleh Alga menggunakan kartu ATM dan Alga juga mengambil barang-barang secara sembarangan saja lalu memasukkan ke keranjang yang digunakan oleh Zarina.


"Saya juga punya uang, nih," kata Zarina yang tidak setuju belanjaannya dibayar oleh Alga.


"Simpan aja buat kebutuhan lain!" ucap Alga.


Mereka keluar dari indomaret sambil menenteng barang belanjaan yang lumayan banyak dan membawanya ke mobil.


Dalam perjalanan pulang, Alga menyetir mobilnya dengan lambat karena ia ingin menghabiskan waktu berlama-lama dengan Zarina.


Perlahan tangannya sebelah menggenggam jemari gadis itu dengan lembut dan perlahan *******-***** penuh perasaan.


Zarina diam saja dan menikmati sentuhan tersebut hingga di tengah jalan yang agak sepi, Alga meminggirkan kendaraannya lalu berhenti.


"Pak, ada apa? Kenapa berhenti? Apa mobilnya mogok?" tanya Zarina dengan polos.


"Nggak apa-apa, tapi sepertinya Pak sopir yang lagi mogok, nih," sahut Alga sambil tersenyum. Entah mengapa, ucapan Roy tempo hari sangat menantangnya untuk mau membuktikan bahwa dirinya pun bisa melakukan.


Ia menatap wajah dengan tampilan sederhana itu dan perlahan ia menyentuh dagunya hingga wajah Zarina agak mendongak dan tanpa pikir panjang, Alga mengecup bibir yang sedikit terbuka itu. Zarina memenjamkan mata dan merasakan tubuhnya panas dingin. Selama hidupnya ia baru pertama kali mendapat ciuman di bibir sehingga ia tampak begitu kaku ketika Alga mencium lebih dalam bahkan mulai ******* bibir yang ranum itu dengan nikmat.


Sejak beranjak dewasa, Zarina tidak pernah mempunyai seorang kekasih, bukan karena tidak ada pria yang tertarik dengan dia tetapi sikapnya yang keras kepala selalu menolak mentah-mentah jika ada laki-laki yang menyatakan perasaannya terhadap dia.


Kini Alga tahu bahwa gadis yang ia cintai ini adalah perempuan baik-baik karena berciuman saja ia sangat gugup dan tidak bisa membalas permainan Alga yang begitu lihai karena sering nonton di film-film khusus buat orang dewasa.


Ia ******* bibir zarina hingga puas dan gadis itu juga sudah mulai mengikuti cara Alga sehingga sedikit bisa mengimbangi permainan tersebut sampai nafas keduanya sudah tersengal-sengal.

__ADS_1


__ADS_2