Sadar Setelah Harta Terkuras

Sadar Setelah Harta Terkuras
Hamil


__ADS_3

Pagi hari Alga membuka matanya secara perlahan-lahan sambil menekan kepalanya yang terasa sangat berat dan nyut-nyut. Ia berusaha mengingat apa yang telah terjadi, kenapa ia bisa tidur di kantor.


Ia mengedarkan pandangannya ke seluruh sudut ruangan untuk mencari keberadaan Tini tapi ternyata perempuan itu tidak ada. Semalam Tini pulang ke rumahnya ketika Alga sudah tertidur pulas.


Alga bergegas memungut pakainnya yang berserakan di lantai dan segera memasukkan ke dalam kresek. Ia pun mandi dan berpakaian dengan rapi. Beruntung karena ia punya sepasang pakaian kerja yang disimpan di kantor untuk jaga-jaga jika ada pertemuan yang mendadak ke luar kota.


Kini tubuhnya terasa lebih segar lalu ia duduk termenung, membayangkan pertempuran semalam dengan sekretarisnya. Ia melirik ke sofa dan di situ masih ada bercak darah perawan milik Tini yang sudah hampir mengering. Apa yang telah kulakukan?


Walaupun kepalanya masih terasa pening tapi pemandangan di sofa itu sangat mengganggu sehingga ia meraih tisyu yang ada di meja dan berniat untuk membersihkan sofa tersebut.


"Selamat pagi Sayang... Maaf semalam saya pulang soalnya nggak punya pakaian ganti!" ucap Tini dengan senyum bahagia.


Pak Alga tersenyum tipis dengan wajah yang datar.


"Ehhh, Bapak mau apakan tisyu sebanyak itu?" tanya Tini yang heran melihat tisyu di genggaman Pak Alga.


Pak Alga tidak menjawab tapi matanya melirik ke arah sofa dan Tini pun mengikuti arah lirikan tersebut.


"Astaga... sini saya yang bersihkan!" tawar Tini. Ia meraih tisyu tersebut dan membersihkan darahnya pada sofa hingga tak berbekas.


Setelah itu ia mendekati Pak Alga dan memeluknya dari belakang tanpa ada rasa segan dan malu.


"Bapak sangat hebat dan saya bangga karena sudah menyerahkan kesucianku kepada orang yang tepat, tapi maaf yah, atas pelayanan saya semalam, maklum baru belajar!" ucapnya dengan pelan.


"Heemmm," Pak Alga berdehem karena ia gugup dan bingung mau memberi komentar.


"Kapan-kapan kita bisa main lagi tapi jangan sekarang soalnya masih terasa perih, nih!" ucap Tini lagi sambil senyam-senyum mengingat peristiwa semalam yang membuatnya sangat terkesan.


Ia melepaskan pelukannya lalu berjalan dengan kaki agak terbuka karena masih ada rasa sakit pada bagian yang menjadi sasaran utama permainan Alga.


Alga kembali duduk di kursi dan memegangi kepalanya yang masih nyut-nyut sambil merenungi perbuatannya yang tidak bisa ia kendalikan.


Ada penyesalan yang muncul dalam lubuk hatinya yang paling dalam dan ia merasa sangat bersalah kepada Zarina walaupun antara gadis tersebut dengan dirinya tidak ada lagi hubungan apa-apa. Alga menilai Zarina sebagai gadis baik-baik karena selama menjalin hubungan sebagai pasangan kekasih dengannya, gadis itu tidak pernah mengenakan pakaian seksi atau pakaian yang tidak sopan dan juga tidak pernah menggoda seperti yang dilakukan oleh Tini. Wajah mereka terdapat kemiripan karena ada hubungan kelauarga tapi karakter mereka sangat jauh berbeda.

__ADS_1


***


Satu bulan telah berlalu sejak kejadian malam itu di kantor, kini Tini merasakan sebuah perubahan yang terjadi dalam tubuhnya. Bawaannya selalu mau menikmati yang asam-asam dan malas untuk beraktifitas. Inginnya selalu baring-baring karena tubuhnya terasa lemas.


Sejak kejadian itu pula, keduanya sering melakukan aktifitas yang serupa ketika ada kesempatan namun sejauh itu, belum pernah terucap dari bibir Alga bahwa ia mencintai Tini. Semua dilakukan atas dasar keinginan untuk bersenang-senang.


Pagi ini Tini terpaksa melawan rasa malas yang tumbuh dalam dirinya karena ia harus ke kantor. Ada dokumen penting yang harus ia selesaikan hari ini juga.


Ketika sedang mengetik dan menatap layar komputer, tiba-tiba kepalanya pusing dan pandangannya pun mulai kabur. Pak Alga datang menghampiri setelah mendengar namanya dipanggil oleh Tini.


Ia sangat panik karena Tini tak sadarkan diri lalu ia meminta tolong kepada Desi yang kebetulan datang ke ruangan tersebut.


"Ada apa Pak? Tini kenapa, Pak?" tanya Desi panik melihat wajah sahabatnya pucat.


"Saya juga nggak tahu, tiba-tiba dia pingsan," sahut Pak Alga dengan wajah yang panik pula.


Mereka segera membawa Tini ke puskesmas terdekat untuk ditangani lebih lanjut.


"Bapak suaminya?" tanya perawat itu kepada Alga.


Alga menggelengkan kepala.


"Bagaimana keadaan teman saya, Suster?" tanya Desi.


"Dia baik-baik saja, ibu hamil memang biasa mengalami hal seperti itu," sahut suster membuat Alga dan Tini saling berpandangan.


Perawat itu kembali ke ruang pemeriksaan.


"Tini hamil???" seru Desi tanpa sadar.


Wajah Alga terlihat pucat mendengar berita tersebut. Ia kembali duduk dengan lesu sedangkan Desi mengikuti perawat tadi masuk ke ruang pemeriksaan untuk melihat keadaan Tini.


Tini sudah siuman tapi ia tetap mengatupkan matanya karena rasanya ingin muntah ketika membuka mata. Desi mendekat dan memegang tangan sahabatnya yang masih terasa dingin.

__ADS_1


"Apa perlu saya menelepon ibumu?" tanya Desi.


"Nggak usah, bentar lagi saya udah bisa pulang, kok," sahut Tini dengan suara lemah.


"Tapi...," Tini tidak melanjutkan ucapannya karena melihat Pak Alga muncul di pintu dengan wajah muram.


"Bagaimana keadaannya? Apa kita bisa pulang sekarang?" tanya Alga dengan suara datar.


Tini membuka matanya karena mendengar suara Alga. Ia tersenyum walau tubuhnya lemas.


"Saya hamil anak kamu, Pak," ucap Tini dengan senang.


Desi sangat kaget mendengar ucapan Tini yang tidak pernah ia sangkah-sangkah sebelumnya bahwa Pak Alga-lah pelakunya.


"Jadi, kamu dan Pak Alga akan jadi suami-istri?" tanya Desi dengan polos.


Tini menganggukkan kepala sambil tersenyum sedangkan Pak Alga tampak makin pusing dan gelisah.


"Ayo kita pulang sekarang!" katanya dengan setengah memaksa.


Melihat sikap Pak Alga, Desi curiga ada yang tidak beres tapi ia tidak mau ikut campur. Ia segera menghubungi perawat dan pamit dengan alsan bahwa kondisi Tini sudah baik.


Mereka kembali ke kantor dan sepanjang perjalanan Pak Alga tidak pernah bersuara sehingga Desi sengaja membahas hal lain yang tidak ada hubungannya dengan kehamilan Tini untuk mencairkan suasana.


Tiba di kantor, Pak Alga berjalan dengan langkah panjang menuju ke ruangannya dan Tini tidak bisa menyamai langkahnya sehingga jauh tertinggal di belakang apalagi kepalanya masih terasa pening dan tubuhnya juga seolah tak bertenaga.


Sementara itu, Desi dihunjani dengan banyak pertanyaan dari teman-teman yang haus informasi mengenai penyakit yang diderita oleh Tini dan Desi pun tidak mau ambil pusing sehingga memberi jawaban bahwa sahabatnya itu masuk angin.


"Hanya masuk angin, kok, sampai pingsan?" komentar salah seorang temannya.


"Iya, ya," timpal yang lain.


Desi segera berlalu dan masuk ke ruangannya untuk mencari aman dari pada meladeni mereka seperti saja memberi keterangan kepada wartawan.

__ADS_1


__ADS_2