
Kini Alga tidak bisa berbuat banyak ketika setiap waktu Seyla masuk ke ruangan kerjanya dengan bebas. Ia khawatir jika bertindak kasar kepada perempuan pilihan kedua orang tuanya itu akan berakibat fatal bagi Zarina.
"Sayang, kita makan di luar, yuk!" ajak Seyla dengan suara yang dibuat manja.
Dalam hati ingin sekali menolak ajakan tersebut tetapi Seyla makin mendekat dan menggandeng tangannya, akhirnya ia pun mengikut saja.
Melewati ruang tempat Zarina, Seyla makin merapatkan tubuhnya dan memeluk pinggang Alga dengan erat karena ia sengaja ingin memamerkan kedekatannya dengan Pak Alga.
Zarina hanya bisa mengurut dada menyaksikan semua itu tapi ia meyakinkan dirinya bahwa Alga tidak mungkin akan menghianati cintanya karena terlihat dari wajahnya yang muram sebagai tanda bahwa ia terpaksa meladeni kemauan Seyla.
Alga dan Seyla menuju ke restoran yang terdekat dengan mengendarai mobil miliknya dan tanpa diminta, Seyla menyandarkan kepalanya pada bahu yang kokoh itu.
Mendapat perlakuan seperti itu ,tidaklah menggoyahkan naluri kelaki-lakiannya. Tidak ada rasa yang berbeda. Tidak seperti yang ia rasakan ketika sedang bersama Zarina.
Tiba di restoran, Seyla memesan makanan dan Alga lebih banyak diam. Ia hanya menjawab dengan anggukan dan gelengan kepala saja sambil menatap layar ponselnya dan memainkan sebuah game. Wajah Zarina terbayang di pelupuk matanya. Ia tahu bahwa kekasihnya itu merasa sakit hati melihat dirinya pergi berduaan dengan wanita lain.
"Ehh, Selyn... Semalam Om hubungi tapi ponselnya nggak diangkat, kenapa sih?" tanya seorang laki-laki yang umurnya kira-kira sudah hampir enam puluh tahun.
Om-Om itu adalah langganan Seyla yang paling kaya. Wajah dan penampilannya pas-pasan tapi kantongnya tebal sehingga Seyla tertarik untuk melayaninya setiap kali dibutuhkan namun semalam ia tidak bisa menjawab telepon dari Om yang bernama Pak Dirga itu karena ia sedang jalan dengan laki-laki lain.
Seyla dipanggil dengan sebutan Selyn oleh Pak Dirga karena sejak mereka berkenalan, nama itulah yang dipakai oleh Seyla.
Sekilas Alga menatap wajah Seyla dan laki-laki yang datang menyapanya itu secara bergantian. Tampak wajah Seyla memerah dan gugup sedangkan sikap laki-laki itu biasa saja. Alga kembali sibuk memainkan game di ponselnya karena merasa bahwa apa yang sedang mereka percakapkan bukanlah urusannya.
"Siapa dia?" tanya Om itu kepada Seyla.
__ADS_1
"Tak penting Om, saya ini pembantunya Selyn, silahkan kalian ngobrol, siapa tahu ada yang penting ingin kalian percakapkan!" sahut Alga membuat mata Seyla melotot.
Pak Dirga tersenyum senang lalu duduk di samping Seyla dan tanpa rasa canggung sedikit pun ia mencium bibir Seyla dengan penuh nafsu.
"Om sangat rindu belaianmu, Sayang... Gimana kalau kita ke hotel nanti?" tanya Pak Dirga yang tidak tahan melihat penampilan Seyla yang semakin seksi saja.
Kerah kemeja yang dikenakan saat ini sangat lebar sehingga gunung kembar dengan ukuran besar yang selama ini selalu memuaskan dirinya seolah menantangnya lagi untuk segera menjadikannya sebagai bahan mainan yang menggemaskan. Ditambah lagi dengan rok span yang pendek tidak bisa menutupi paha yang putih dan mulus. Sungguh sangat menggoda.
Seyla semakin gugup, tubuhnya mulai basah oleh keringat dingin dan bibirnya seolah terkunci, tak bisa berkata apa-apa. Ia melirik ke arah Alga yang asyik menatap layar ponselnya dan sepertinya pria tersebut sama sekali tidak peduli dengan kehadiran Pak Dirga.
Tak lama kemudian pelayan datang membawa makanan yang dipesan oleh Seyla tadi.
"Kamu memang wanita yang tidak hanya hebat di ranjang tapi juga tahu makanan kesukaanku," ujar Pak Dirga setelah mencium aroma ikan bakar yang harum.
"Ehh, tapi..., anu...," ucap Seyla dengan bingung karena Pak Dirga sudah meraih piring yang sebenarnya diperuntukkan buat Alga.
"Tapi...," kata Seyla berusaha menghalangi Alga agar tidak pergi.
"Nggak apa-apa Seyla, Om Dirga ini lagi pengen berduaan denganmu. Saya tunggu di parkiran yah! Tolong kabari saya kalau misalnya kalian mau ke hotel agar saya tidak kering menunggu terus di parkiran!" kata Alga dengan tenang kemudian berlalu meninggalkan tempat tersebut.
Pak Dirga meraih jemari Seyla dan menciumnya dengan rakus. Namun sikap Seyla kali ini yang dingin membuat Pak Dirga heran.
"Ada apa Selyn, kok nggak semangat, gitu?" tanya Pak Dirga. Ia melepaskan jemari Seyla dan menatapnya lekat-lekat.
"Hari ini saya nggak bisa pergi bersama Om soalnya masih jam kantor," sahut Seyla.
__ADS_1
"Nggak apa-apa sekali-kali bolos, nanti Om beri tips yang lebih dari biasanya," ucap Pak Dirga.
Seyla jadi bingung. Ia sedang berpikir, bagaimana cara untuk meyakinkan Alga agar tidak curiga. "Saya harus balik ke kantor sekarang," gumamnya dalam hati.
"Om Ganteng, gimana kalau nanti malam aja baru kita ketemuan, biar lebih seru, saya janji akan membuat Om puas, sepuas-puasnya, okey?" Seyla merayu dengan manja.
"Yahh, sebenarnya Om udah nggak tahan nih, tapi apa boleh buat kalau kamu belum siap, tapi ingat yah, sebentar malam saya tunggu di tempat biasa, jangan sampai ingkar janji!" kata Pak Dirga.
"Siap Om, saya pamit dulu!"
"Kamu nggak makan?"
"Buat Om aja, soalnya udah telat nih!"
Seyla buru-buru meninggalkan restoran tersebut dan berjalan menuju parkiran namun ia tidak melihat mobil Alga lagi. Rupanya Pak Alga sudah pulang ke kantor membuat Seyla semakin bingung. Bagaimana cara menjelaskan kepada Alga tentang hubungannya dengan Pak Dirga?
Terpaksa Seyla menggunakan jasa ojek online untuk mengantarnya pulang ke kantor.
Sementara itu di kantor, Zarina dan Erni heran melihat Pak Alga yang pulang sendirian dengan wajah lesu. Seyla di mana?
Pak Alga lewat di depan ruangan tempat Zarina dan Erni tapi ia tidak menoleh sedikit pun karena ada rasa ragu jangan sampai ibunya memasang mata-mata untuk mengintai kegiatannya selama berada di kantor. Ia tidak ingin keteledorannya akan berimbas kepada Zarina.
Berselang beberapa saat, Seyla juga lewat dengan wajah tegang namun mereka tidak mau ambil pusing.
Seyla ingin menemui Alga di ruangannya tapi sudah beberapa kali ia mengetuk pintu namun tetap saja tidak ada respon.
__ADS_1
Alga mendengar ketukan di pintu tapi dengan sengaja ia pura-pura tidak mendengar karena malas untuk meladeni perempuan yang tidak tahu rasa malu. Ucapan Pak Dirga tadi telah meyakinkan dirinya bahwa Seyla bukanlah perempuan baik-baik dan tadi Alga juga berhasil mengabadikan momen pertemuan direstoran yang akan dijadikan sebagai bukti jika suatu saat diperlukan.