Sadar Setelah Harta Terkuras

Sadar Setelah Harta Terkuras
Cuti Sekretaris


__ADS_3

Alga mengenal Kevin karena pernah mengantar Rizha, istrinya ke rumah untuk membawa berkas yang akan ditandatangani karena waktu itu Alga sedang tidak enak badan sehingga tidak masuk kantor.


Rizha adalah sekretaris pribadi Alga di kantor. Ia menikah dengan Kevin beberapa bulan yang lalu dan saat ini sedang hamil.


"Ada apa, Kak?" tanya Zarina. Ia heran melihat Alga yang duduk dengan gelisah.


Alga tidak menjawab karena khawatir suaranya dikenali oleh Seyla atau pun Kevin, karena itu ia mengetik pada layar ponsel lalu mengirim jawabannya kepada Zarina.


Zarina kaget setelah membaca pesan tersebut. Ia mengenal Rizha tapi kenal begitu saja sebagai teman di kantor tapi tidak pernah tahu bahwa laki-laki yang sedang bersama dengan Seyla saat ini adalah suaminya.


"Apa nggak ada yang marah, nih?" suara Seyla terdengar jelas hingga ke tempat duduk Alga dan Zarina.


"Siapa juga yang mau marah? Saya 'kan masih jomlo!" sahut Kevin dengan tawa renyah.


Alga kaget mendengar pengakuan Kevin. Apakah laki-laki yang selingkuh selalu menghalalkan cara untuk kesenangan sesaat hingga tega berbohong?


Masih banyak kebohongan yang disampaikan oleh Kevin dan semuanya sudah terekam di ponsel milik Alga.


Alga dan Zarina menikmati makanan dalam keadaan diam sambil terus menguping dan merekam percakapan antara Kevin dan Seyla yang di akhir percakapannya dan masih sempat ditangkap oleh pendengaran Alga bahwa keduanya akan pergi ke sebuah hotel. Setelah itu mereka beranjak dari tempatnya lalu pergi sambil bergandengan tangan dengan mesra.


Malam semakin merangkak membuat Zarina mengingatkan Alga untuk segera pulang. Sebenarnya Alga masih ingin menghabiskan waktunya bersama sang kekasih tapi setelah diingatkan maka keduanya pun pulang.

__ADS_1


Keesokan harinya Alga memperhatikan Rizha sekretarisnya. Wanita itu tidak secantik Seyla dan tidak semenarik Zarina tapi ia juga imut dan manis, apalagi kalau tersenyum karena memiliki lesung pipi.


Perutnya sudah semakin besar dan menurutnya ia akan cuti setelah umur kandungannya memasuki usia tujuh bulan. Keadaan ekonomi rumah tangganya yang pas-pasan memaksanya untuk terus bekerja walaupun saat ini kandungannya sudah memasuki usia enam bulan.


Kevin, suaminya tidak bekerja dan hanya selalu mengandalkan harta orang tuanya. Setiap hari Kevin hanya bersantai di rumah bahkan hanya satu du kali saja mengantar istrinya ke kantor karena bangunnya selalu kesiangan. Rizha berpikir, dari pada bangunin suaminya di pagi hari yang selalu dapat omelan panjang lebar, lebih baik berangkat sendiri ke kantor dengan jalan kaki selama kurang lebih dua puluh menit.


Kebutuhan sehari-hari ditanggung oleh Rizha karena ia malas dan sakit hati mendengar sindiran dari ibu mertuanya ketika Kevin minta uang dengan tujuan mau beli kebutuhan dapur. Kecuali pembeli rokok buat Kevin, Rizha sama sekali tidak mau mengorek hasil keringatnya.


"Kamu masih kuat untuk kerja?" tanya Alga membuat Rizha kaget.


"Ehh, Bapak... iya, mudah-mudahan masih bisa bertahan hingga sebulan lagi," sahut Rizha dengan sopan.


Rizha mengangguk lalu meneruskan pekerjaannya. Hatinya terenyuh mendapat perhatian dari Pak Alga. "Andaikan Kevin juga begitu, mengkhawatirkan keadaanku yang sedang berbadan dua pasti saya adalah wanita yang sangat berbahagia di dunia ini, tapi kenyataannya... ," gumamnya dalam hati. Tak terasa matanya berair dan dengam cepat ia menyeka menggunakan tisyu lalu kembali serius menghadapi laptop di depannya.


***


Alga bingung mencari pengganti Rizha, sekretarisnya yang sudah mulai cuti dan sudah ada beberapa usul dan tawaran dari teman dekatnya tapi menurutnya belum ada yang pas.


"Kenapa harus pusing, 'kan ada Seyla?" Ibu Gita bersemangat mengusulkan Seyla karena pikirnya Alga bisa lebih dekat lagi dengan wanita pilihannya


"Tidak sembarang orang yang bisa mengerjakan tugas sekretaris Bu, apalagi Seyla yang punya otak pas-pasan sedangkan yang dibutuhkan adalah orang cerdas dan lin ah, kecuali kalau Ibu mau perusahaan kita bangkrut, yah, nggak apa-apa juga kita pakai Seyla saja," tutur Alga.

__ADS_1


Ibu Gita tak berkutik mendengar ucapan anaknya karena ia juga menyadari bahwa Seyla itu biasa-biasa saja kalau soal pengetahuan bahkan boleh dikatakan jauh dari standar.


"Bukankah ada Zarina? Saya yakin ia bisa menggantikan posisi Rizha untuk sementara," ujar Pak Rafi.


Dalam hati, Alga sangat setuju dengan usul ayahnya itu tetapi sebelum ia angkat bicara, ibunya sudah lebih dulu menolak mentah-mentah.


Pak Rafi tidak bisa menentang penolakan istrinya karena pada dasarnya Ibu Gita lebih berhak dibanding dengan dirinya dan Alga juga tahu bahhwa ayahnya pasti akan selalu mengalah.


Pada malam harinya Alga meminta pendapat kepada Zarina tentang persolan pengganti Rizha untuk sementara.


"Gampang Kak, siapkan soal dan besok dibagikan kepada semua karyawan untuk dijawab pada jam istirahat, siapa yang memperoleh nilai tertinggi maka dia yang duduk sebagai penggati Rizha!"


Alga tersenyum karena usul Zarina yang cukup mudah untuk dilakukan.


"Terima kasih Sayang! Sekarang saya sudah bisa tidur dengan nyenyak tanpa kepikiran lagi soal penggati Rizha,"


"Sama-sama Sayang, selamat beristirahat semoga mimpi indah!"


Sambungan telepon terputus.


Alga tidak langsung tidur tapi ia masih berangan-angan agar Zarina-lah yang akan memperoleh nilai yang paling tinggi dan apabila ibu tidak setuju maka ia akan minta agar ayahnya yang akan menjelaskan soal tersebut.

__ADS_1


__ADS_2