Sadar Setelah Harta Terkuras

Sadar Setelah Harta Terkuras
Mencari Kesibukan


__ADS_3

Zarina bingung ketika masuk kerja di hari pertama karena ia tidak pernah mempelajari ilmu menjahit pakaian namun atas permintaan Violyn, calon istri Hendra, maka untuk sementara Zarina hanya membantu menyeterika pakaian yang sudah selesai dijahit dan memajangnya pada patung, sebagian dikemas ke dalam plastik.


Jarak dari rumah kost ke tempat kerjanya yang baru cukup jauh sehingga Zarina mau tak mau harus pindah kost. Berat rasanya untuk meninggalkan kost yang telah membuatnya merasa nyaman selama kurang lebih satu tahun ini, meninggalkan teman-teman dan juga ibu Leni, pemilik rumah kost tersebut. Selama tinggal di situ, ia merasakan perhatian yang cukup dari Ibu Leni. Bagi Zarina, Ibu Leni sudah dianggapnya sebagai orang tua yang kadang kala juga memberi nasihat kepadanya.


Erni juga sangat sedih ketika tahu bahwa sahabatnya akan pindah kost dan hari ini ia bersama Roy, kekasihnya mengantar Zarina ke tempat kost yang dekat dengan tempat kerja barunya.


Roy menyetir mobil dengan kecepatan sedang dan perjalanan tersebut ditempuh selama kurang lebih dua jam.


Tiba di lokasi yang dituju, seorang teman sesama karyawan di tempat kerja yang baru menyambut mereka dengan ramah.


"Selamat datang, Za!" ucap Rika sambil tersenyum.


"Terima kasih Rika! Maaf, sudah merepotkan!" balas Zarina.


"Nggak merepotkan kok, malah saya senang karena punya lagi teman baru.


Rika mengantar mereka masuk ke dalam rumah dan menunjukkan kamar yang akan dihuninya. Ukurannya lebih kecil dibanding kamar kost yang dihuni sebelumnya tapi hal itu tidak menjadi persoalan, yang penting dekat dengan tempat kerja dan yang lebih utama adalah keamanannya.


"Jangan lupa hubungi kami jika ada apa-apa, yah!" saran Erni ketika mereka sudah mau balik.


"Siap, terima kasih atas bantuannya, telah mengantarku ke tempat ini!" ucap Zarina.

__ADS_1


"Sama-sama, daa... kami pulang dulu,"


"Hati-hati di jalan!"


Zarina masuk ke kamarnya untuk beres-beres setelah mobil yang membawa Roy dan Erni hilang dari pandangannya. Ia dibantu oleh Rika untuk merapikan barang-barangnya.


"Udah berapa lama kerja di butik milik Mbak Violyn?" tanya Zarina kepada Rika.


"Kurang lebih satu setengah tahun," jawab Rika.


Rika menceritakan pengalamannya ketika baru pertama kali masuk kerja. Ia juga sama sekali tidak bisa menjahit dan pekerjaan pertamanya hanya melekatkan kancing dan hiasan baju dengan cara menjahit secara manual. Beberapa minggu kemudian, ia mulai belajar membuat pola, memotong kain, hingga menjahit dan hanya beberapa bulan saja Rika sudah mahir menjahit.


"Saya punya cita-cita mau buka usaha 'jahitan' nanti satelah punya modal buat beli mesin," kata Rika dengan serius.


Ia sudah mahir menjahit berbagai model gaun dan kemeja tapi yang menjadi kendala karena tabungannya belum cukup untuk membeli mesin jahit. Sebenarnya bulan lalu uangnya sudah lumayan yang terkumpul tapi ibunya masuk rumah sakit sehingga uang tersebut digunakan untuk membayar biaya rumah sakit dan juga membeli obat-obatan.


"Rencana yang bagus, tuh!" ujar Zarina.


Tak terasa waktu terus berlalu hingga malam pun tiba. Zarina memohon agar Rika mau menemaninya malam itu. Keduanya berbagi cerita sampai rasa kantuk datang.


***

__ADS_1


Kesibukan di tempat kerja sangat membantu Zarina untuk tidak kepikiran secara terus-menerus akan persoalan hidupnya. Setiap kali bayangan Alga muncul, ia sengaja menyibukkan diri dengan belajar dan terus belajar tanpa mengenal lelah dan hanya beberapa bulan saja ia pun sudah berani memotong kain dan menjahitnya walaupun hasilnya masih belum sempurna.


Dalam Bulan ini mereka harus lembur karena bulan depan Violyn, pemilik butik ini akan melangsungkan pernikahan dengan Hendra, kekasihnya.


Violyn menyiapkan kain buat para kerabat dekat untuk dijahitkan pakaian seragam dan semuanya dipercayakan kepada karyawan untuk mengerjakan perkerjaan tersebut dengan perjanjian bahwa mereka akan mendapat bonus dua kali lipat dalam bulan ini dari gaji yang diterimanya setiap bulan.


Tak lupa juga Zarina dan teman-temannya merancang model masing-masing dan membuat baju seragam khusus karyawan yang akan dikenakan pada pesta pernikahan Mbak Violyn.


Sementara itu di kantor, Alga terlihat kurang bersemangat. Sejak ia memecat Zarina, ia sering sakit-sakitan karena makanannya tidak teratur dan setiap malam ia selalu gelisah.


Secara tak sengaja ia mendengar Erni sedang bercerita kepada teman-temannya ketika ada yang bertanya, mengapa Zarina tiba-tiba tidak masuk kerja.


Erni tidak menyadari bahwa Pak Alga sedang berada di ruangan yang bersebelahan dengan tempat mereka bergosip pada jam istirahat sehingga ia mengatakan dengan jujur apa yang diketahuinya.


Pak Alga sangat berharap bahwa Erni juga akan bercerita, bagaiamana keadaan Zarina setelah dipecat, apakah ia sudah mendapat pekerjaan baru dan sekarang ia tinggal di mana?


Namun Pak Alga semakin penasaran karena Erni tidak mengatakan apa-apa lagi. Ia dan teman-temannya tampak bersedih dan menyayangkan kepergian Zarina karena selain kehilangan teman, kini pekerjaan kantor pun agak kendor karena tidak ada karyawan yang bisa menandingi kecerdasan Zarina.


Pak Alga pun tidak pernah lagi peduli dengan Seyla membuat wanita itu menyerah. Sudah seminggu ini Seyla tidak pernah lagi masuk ke ruangan Alga dan hal ini menjadi keuntungan bagi Tini.


Tini sudah bebas kembali memakai kemeja seksi dan memamerkan penampilan seksinya itu kepada Pak Alga walaupun tidak dihiraukan tapi Tini tetap bersemangat karena saingannya sudah mundur.

__ADS_1


__ADS_2