
Ibu Elis dan suaminya sangat kaget dan seolah tak percaya ketika Zarina mengutarakan maksudnya untuk pindah ke rumah kost yang letaknya tidak jauh dari perusahaan tempat ia bekerja dengan alasan untuk mengurangi biaya perjalanan karena setiap hari harus mengeluarkan ongkos buat bayar ojek sebanyak Rp 10.000.
"Apakah orang tuamu sudah tahu tentang hal ini?" tanya Ibu Elis.
"Iya Tante, saya sudah bicara dengan mereka," sahut Zarina.
"Trus, apa tanggapan mereka?" tanya Ibu Elis lagi.
"Ayah dan Ibu setuju karena katanya sudah cukup saya jadi beban keluarga di sini dan mereka juga menitipkan ucapan terima kasih kepada Om dan Tante karena telah menampung saya di rumah ini serta permintaan maaf karena telah merepotkan," jawab Zarina.
Wajah Ibu Elis tampak kecewa dengan keputusan Zarina. Ia merasa sudah nyaman selama kurang lebih dua bulan ini karena tidak perlu lagi mengeluarkan uang belanja untuk kebutuhan di dapur karena ada Zarina yang menutupi keperluan tersebut. Selama ini ia semakin boros menggunakan uangnya untuk belanja keperluan pribadi.
Malam itu Zarina mengemas pakaiannya ke dalam tas karena Erni sudah menghubungi seseorang kenalannya untuk menjemput barang-barang milik Zarina besok pagi-pagi sekali sebelum ke kantor.
Zarina tidak mau alpa untuk masuk kantor walau sehari saja kecuali jika dalam keadaan sakit. Jadi ia sudah memperhitungkan waktu untuk mengantar barang-barangnya ke rumah kost dan ia masih bisa masuk kantor tepat waktu.
Setelah selesai mengemas pakaiannya, Zarina merasa haus. Ia ke dapur dan melewati ruang keluarga.
"Belum tidur, Za?" tanya Tini dengan ramah.
Zarina menghentikan langkah karena heran dan kaget mendengar sapaan dari adik sepupunya yang tidak seperti biasanya.
"Sini kita nonton bareng!" ajak Ibu Elis pula.
Zarina semakin bingung. Kenapa tidak dari dulu seramah itu? Giliran sudah mau pindah, mereka baru berubah. Tidak! Saya tidak boleh terpengaruh dengan mereka! Sarina bergumam dalam hati.
__ADS_1
"Iya, saya mau ke dapur dulu ambil air minum," sahut Zarina lalu melangkah ke dapur.
Ibu Elis dan anaknya sepakat untuk mempengaruhi Zarina agar tidak meninggalkan rumah mereka. Selama ini Tini juga sudah merasa nyaman karena tidak pernah lagi mengerjakan pekerjaan di rumah karena semuanya sudah dilimpahkan kepada Zarina. Tapi jika Zarina sudah pergi, otomatis dia akan turun tangan karena mereka tidak punya cukup uang untuk membayar seorang asisten rumah tangga.
"Waduhhh, kami akan merasa sangat kehilangan, Za, jika kamu pergi dari rumah ini," kata Ibu Elis ketika Zarina sudah kembali dari dapur.
"Iya, Za, selama ini kita senang karena rumah jadi ramai sejak adanya kamu di sini," sambung Pak Gunawan.
"Kalau Kak Zarina udah pindah dari sini, pasti saya kesepian soalnya ayah dan ibu selalu jarang di rumah. Plis, jangan pergi, Kak!" rengek Tini pula.
Zarina sangat muak mendengar ucapan mereka tapi ia tidak mau menampakkan pada wajahnya.
"Terima kasih sebelumnya, nanti saya akan sering-sering datang ke sini," ucap Zarina sambil tersenyum.
Ia pun pamit untuk ke kamar dengan alasan sudah mengantuk.
Zarina tidak menanggapi lagi ucapan Pak Gunawan. Ia terus melangkah menuju ke kamar untuk beristirahat karena besok harus bangun lebih pagi dari biasanya.
Sudah tiga puluh menit ia berbaring tapi mata enggan terpenjam. Ia mencerna semua ucapan-ucapan yang disampaikan oleh tuan rumah tadi dan menyimpulkan bahwa itu semua mereka lakukan hanya untuk mempengaruhi dirinya agar tidak pergi dari rumah karena sesungguhnya tenaga dan uangnya sangat dibutuhkan di rumah ini. Om dan tante punya pekerjaan tapi entah bagaimana cara mereka mengelolah keuangan sehingga kebutuhan dapur kadang kala tidak cukup bahkan sebelum zarina bekerja, kerap dirinya hanya makan nasi disiram air sayur tanpa lauk.
Iseng-iseng ia membuka ponselnya dengan harapan akan mengantuk dan bisa segera tidur. Sudah beberapa waktu ini ia tidak pernah mengaktifkan datanya dan malam ini kembali diaktifkan untuk membaca novel sebagai pengantar tidur.
Ia memeriksa pesan yang masuk di aplikasi WhatsApp sebelum membuka aplikasi Novel toon dan ada pesan dari Erni dan juga dari Pak Alga.
Zarina tertawa dalam hati membaca pesan dari sahabatnya yang panjang lebar memaki-maki dirinya lantaran ponselnya tidak aktif saat dihubungi dan ia teringat kemarin kalimat itu pula yang dilontarkan oleh sahabatnya itu ketika bertemu di kantor.
__ADS_1
Selanjutnya ia membuka pesan dari Pak Alga.
(Mungkin saat ini ponsel kamu tidak aktif tapi saya yakin suatu saat pesan yang kukirim ini pasti akan terbaca. Tolong jangan siksa batin ini dengan menghindar ketika ingin bertemu atau berpapasan. Saya ingin mengenalmu lebih jauh dan jika kamu tidak keberatan datanglah ke ruanganku karena ada sesuatu yang ingin saya ungkapkan. Beberapa hari yang lalu saya ke rumahmu tapi yang menemui saya bukan kamu tapi seorang perempuan bernama Tini yang mirip-mirip denganmu dan katanya kamu sedang tidak bisa ditemui karena sibuk bekerja di dapur)
Deg! Zarina gemetar setelah membaca pesan tersebut. Pernah datang ke rumah? Mengapa saya tidak pernah tahu? Tidak mungkin Pak Alga punya perasaan kepadaku, mungkin dia hanya iseng dan saya tidak boleh terlalu berharap! Mau balas pesan ini atau tidak?
Zarina memainkan ponsel di tangannya sambil berpikir. Akhirnya ia mengambil sebuah kesimpulan untuk tidak membalas pesan tersebut karena takutnya akan mengganggu jam istirahat Pak Alga apalagi sekarang sudah pukul dua belas malam.
Dibacanya sekali lagi pesan dari Pak Alga dan entah mengapa perasaannya berbunga-bunga membuat senyum terukir di bibir. Ahhh, kenapa saya jadi begini? Zarina meletakkan ponselnya di meja lalu ia merapikan selimut yang menutupi tubuhnya.
"Ting!"
Matanya sudah hampir tertutup tapi ponselnya berbunyi tanda ada pesan yang masuk. Ia jadi penasaran juga ingin melihat siapa yang mengirim pesan malam-malam begini atau jangan-jangan orang rumah yang ingin memberi wejangan lagi karena tidak mau melepaskan dirinya untuk pergi dari rumah ini.
(Terima kasih sudah membaca pesanku! Saya akan menunggumu besok di ruanganku pada jam istirahat! Ini perintah dari atasan jadi jangan menolak dan jangan lupa bawa salah satu map yang ada di meja kerjamu!)
Mata yang sudah mulai mengantuk kini kembali bercahaya terang benderang.
(Iya Pak, semoga besok tidak ada halangan untuk masuk kantor. Selamat malam dan selamat beristirahat!)
Zarina membaca sekali lagi apa yang sudah diketik pada ponselnya baru mengirim kepada Pak Alga sebagai balasan.
Pesan tersebut langsung centang dua berwarna biru.
( Terima kasih)
__ADS_1
Zarina tersenyum setelah membaca balasan dari Pak Alga. Ia kembali meletakkan ponselnya lalu tidur dengan nyenyak.