Sadar Setelah Harta Terkuras

Sadar Setelah Harta Terkuras
Pilihan yang Sulit


__ADS_3

Ibu Gita banyak mengeluarkan kata-kata hinaan yang menyakiti hati Zarina hingga emosi Alga pun tak bisa dikendalikan.


"Cukup Bu, Zarina itu tidak seperti yang Ibu tuduhkan. Ia bukanlah gadis yang murahan dan materialistis seperti Seyla yang selalu kalian banggakan!" ucap Alga dengan keras.


"Ohhh, jadi anak ibu yang selama ini punya sikap hormat dan sopan sudah berubah karena dipengaruhi oleh perempuan kampungan itu! Ingat, detik ini juga saya sebagai pemilik perusahaan ini memecat dia karena saya tidak mau dia terus meracuni pikiranmu dengan cinta yang murahan!" ucap Ibu Gita yang kaget mendengar Alga yang sudah berani membantahnya.


Ia keluar sambil menghentakkan kakinya dengan mulut yang masih mengomel tak jelas.


Alga kaget mendengar ucapan ibunya. Zarina mau kerja apa jika ia sampai dipecat. Ia melirik ke arah Zarina yang sudah bersimbah dengan air mata.


"Kamu yang sabar, yakinlah semuanya akan baik-baik saja. Nanti saya akan bicara dengan ibu setelah sampai di rumah!" Alga menghibur Zarina.


"Tapi kalau ibumu benar-benar memecatku, saya mau kerja di mana?" sahut Zarina sambil terisak.


"Sepertinya kita harus pura-pura nggak pacaran agar Ibu mencabut kembali kata-katanya," usul Alga.


Zarina terdiam mendengar usul Alga. Ada juga benarnya apa yang dikatakan oleh Alga, semoga Ibu Gita tidak jadi memecatnya.


Zarina keluar dari ruangan Alga dengan wajah yang suram dan pemandangan tersebut membuat seseorang tertawa riang. Siapa lagi kalau bukan Seyla. Ia senang karena usahanya berhasil untuk mempengaruhi Ibu Gita. "Pasti perempuan itu sudah dipecat!" gumamnya dalam hati.


Setengah hari yang masih tersisa untuk kerja tapi Zarina sudah tidak bisa fokus lagi karena ucapan-ucapan yang dilontarkan oleh Ibu Gita selalu terngiang-ngiang di telinganya. Zarina jadi sedih karena baru saja lepas dari sebuah penderitaan namun masalah baru kembali muncul dalam hidupnya.


Pulang dari kantor, ia berjalan dengan lesu membuat sahabatnya bertanya-tanya.


"Pasti kamu ada masalah, cerita dong!"


Awalnya Zarina eggan untuk menuturkan masalahnya kepada Erni tapi sahabatnya itu terus mendesak sehingga ia pun menceritakan apa yang dialami tadi di kantor. Erni ikut sedih mendengar penuturan Zarina dan ia mencoba menguatkan denga kata-kata yang memotovasi agar jangan berputus asa. Semua masalah yang Tuhan izinkan terjadi pasti ada jalan keluarnya.

__ADS_1


"Amin!"


Zarina mengaminkan perkataan sahabatnya lalu berpisah setelah Erni yang terlebih dulu tiba di rumah kostnya.


Sampai di kamar, Zarina langaung menghempaskan tubuhnya di tempat tidur tanpa mengganti pakaiannya. Ia benar-benar galau dengan persoalan yang sedang dihadapi saat ini.


Sementara itu di rumah Ibu Gita tampak Alga sedang bernegosiasi dengan ibunya.


"Bu, tolong jangan pecat Zarina, kasihan... Dia akan kesulitan lagi untuk mencari pekerjaan yang baru!"


"Keputusan Ibu sudah bulat jadi jangan coba-coba merayuku kalau hanya mau mempertahankan perempuan kampungan itu!"


Alga tertunduk lesu mendengar ucapan tegas dari ibunya.


"Atau kalau kamu berjanji untuk melepaskan dia dan tidak akan berhubungan lagi dengannya maka Ibu bisa berubah pikiran,"


Bagi Alga ini adalah sebuah pilihan yang sulit. Di satu sisi ia tidak mau kehilangan gadis itu dan di sisi lain ia pun tiadak ingin Zarina kehilangan pekerjaan.


Deg! Alga makin bingung dengan keinginan ibunya.


"Ibu beri waktu sampai besok pagi dan kamu harus pikir matang-matang karena semua ini Ibu lakukan semata-mata karena ingin melihat kamu hidup bahagia,"


"Baik Bu,"


Usai makan malam, Alga masuk ke kamarnya dan mengunci pintu lalu menghubungi Zarina untuk menyampaikan syarat yang diajukan oleh ibunya.


Cukup lama Zarina terdiam karena sesungguhnya ia tidak rela jika pria yang dicintai akan dekat-dekat dengan perempuan lain walaupun ia tahu bahwa Alga tidak punya perasaan kepada perempuan tersebut.

__ADS_1


"Pilihan yang sangat berat tapi untuk sementara tidak ada salahnya kita mencoba sambil mencari pekerjaan lain karena tidak mungkin saya sanggup jika setiap hari melihat orang yang kucintai jalan dengan perempuan lain," Zarina mencoba untuk bicara dengan tenang walau hatinya bagai dicabik-cabik.


"Iya Sayang, percayalah padaku, apa yang akan saya lakukan adalah akting semata agar kamu tidak jadi dipecat dan kita akan selalu bersama-sama serta saya akan selalu cari alasan agar tidak dinikahkan dengan Seyla,"


"Baiklah, saya yakin kalau kita berjodoh maka apapun tantangan dan rintangan pasti bisa terlewati,"


"Terima kasih atas pengertiannya Sayang, selamat malam dan selamat beristirahat!"


Sambungan telepon ditutup dan Alga kembali ke ruang tengah untuk menemui ibunya karena ia tidak ingin persoalan ini dibawa sampai besok. Kebetulan ayahnya juga ada di situ dan sedang menonton berita di TV.


Rupanya Ibu Gita sudah menceritakan persolan tersebut kepada suaminya.


"Saya juga nggak rela melihat kamu menjalin hubungan spesial dengan Zarina tapi untuk memecat dia, Ayah pun tidak setuju karena perempuan itu sangat cerdas dan lincah. Perusahaan kita sangat membutuhkan orang-orang yang cerdas seperti si Zarina itu," ucap Pak Rafi.


Ibu Gita kurang senang mendengar ucapan suaminya yang mengakui kecerdasan yang dimiliki oleh Zarina.


"Bukankah otak Seyla juga cerdas?" ucap Ibu Gita dengan ketus.


"Saya sudah hafal dengan cara kerja mereka dan belum ada karyawan yang secerdas dan serajin Zarina karena itu biarkan dia tetap bekerja di kantor kita asalkan Alga mau menjauhinya," tutur Pak Rafi.


"Iya Ayah, saya sudah setuju dengan syarat tersebut asalkan Zarina tidak dipecat," kata Alga dengan tegas. Dalam hati ia emosi tapi kali ini ia harus mengalah.


"Bagus Nak, sekarang kamu bebas cari perempuan yang selevel dengan kita biar Ayah dan Ibu segera menikahkan dengan gadis pilihanmu itu!" kata Pak Rafi sambil tersenyum.


"Kenapa harus dicari lagi? Ada Seyla yang cantik dan kaya, baik lagi," sambung Ibu Gita dengan semangat.


"Oj, iya, ya, Ayah sampai lupa, gimana Alga?"

__ADS_1


Terserah Ayah dan Ibu saja!"


Pak Rafi dan Ibu Gita saling melempar senyum sedangkan Alga berlalu dengan perasaan dongkol terhadap kedua orang tuanya itu yang tidak pernah mau mengerti dengan perasaan anaknya.


__ADS_2