Sadar Setelah Harta Terkuras

Sadar Setelah Harta Terkuras
Hadiah Ulang Tahun


__ADS_3

Di hari ulang tahun Alga yang ke dua puluh empat tahun ia menyarankan kepada kedua orang tuanya agar tidak dirayakan seperti tahun-tahun sebelumnya yang dirayakan dengan semeriah mungkin.


Ibu Gita dan Pak Rafi menyetujui usul anaknya dan rencananya ulang tahun Alga kali ini cukup dirayakan di rumah saja dengan sederhana.


Tanpa sepengetahuan Alga ternyata kedua orang tuanya mengundang Seyla bersama keluarganya untuk menghadiri pesta ulang tahun tersebut.


Menjelang sore Ibu Gita menyuruh agar Alga segera berpakaian rapi karena acara ulang tahun akan segera dilaksanakan.


Alga pun mandi dan berpakaian dengan rapi. Ia tampak bersemangat karena setelah semua rangkaian acara di rumah selesai maka ada kegiatan sepesial yang sudah diatur sebelumnya bersama dengan sang pujaan hati. Alga berharap acara di rumah dipercepat sehingga nantinya mempunyai waktu yang banyak untuk berduaan dengan Zarina.


Raut wajah Alga langsung berubah ketika keluar dari kamar dan melihat Seyla bersama kedua orang tuanya sudah duduk manis di sofa. Di kursi sebelah, ayah dan ibunya juga duduk berdampingan sambil bercengkrama.


"Nah, itu dia yang ulang tahun udah keluar kamar!" sambut Ibu Gita dengan bangga disertai senyum lebar.


Seyla sangat kagum dengan penampilan Alga kali ini. Pakaian rapi tapi terlihat santai menambah daya tarik tersendiri bagi siapa pun yang melihatnya.


"Ayo, beri salam kepada calon mertua!" kata Ibu Gita membuat Alga semakin kesal. Namun melihat lirikan ayahnya yang tajam maka dengan sangat terpaksa ia mengulurkan tangan untuk bersalaman dengan Pak Yona dan Ibu Carla, orang tua Seyla.


Seyla nyengir-nyengir tak jelas ketika gilirannya mendapat salaman dari Alga.


"Selamat ulang tahun sayang semoga kita lekas nikah! Nih, kado buatmu!" ucap Seyla sambil menyodorkan sebuah bingkisan berukuran sedang kepada Alga usai bersalaman.


Alga menerima kado tersebut dan meletakkan di meja tanpa mengucapkan terima kasih dan sikapnya sangat dingin membuat ibunya merasa tidak enak kepada keluarga Pak Yona.


"Jadi kapan rencana kalian mau mengubah status?" tanya Ibu Carla sambil menatap Alga dan Seyla secara bergantian.


Ibu Gita menendang kaki Alga di bawah meja dengan tujuan agar anaknya itu menjawab pertanyaan dari calon mertuanya.


"Apaan sih, Bu?"


"Ngomong dong!"

__ADS_1


"Terserah Ibu aja, deh!"


Ibu Gita memaksakan senyum lalu mulai berkata-kata.


"Maaf, mungkin Alga gugup karena baru pertama kali bertemu dengan calon mertua dan menurut hemat kami kita bisa merencanakan pernikahan di bulan juli mengingat banyak kerabat kita yang sibuk bekerja dan mereka akan punya kesempatan untuk hadir pada hari libur,"


"Iya, sependapat dengan usul Ibu," ujar Pak Yona dengan semangat.


Tak lama kemudian tetangga dekat datang dan acara segera dimulai. Alga tetap bersikap dingin ketika ibunya memperkenalkan Seyla sebagai calon mantunya kepada tetangga yang sempat hadir.


"Cantik bangat!" puji Ibu Rien tetangga yang paling dekat.


"Lekas dipinang Nak Alga, entar kesambet ama yang lain!" gurau yang lain.


Ibu Gita terlihat sangat bangga mendengar pujian dari para tetangganya sedangkan Alga lebih memilih menyibukkan diri dengan ponselnya.


Usai semua rangkaian acara yang diakhiri dengan acara makan-makan, Alga menghilang. Ia sengaja tidak berpamitan kepada orang tuanya. Sementara itu kedua orang tua Seyla masih berbincang-bincang di ruang tamu dengan kedua orng tua Alga sehubungan dengan rencana mereka untuk acara pernikahan nantinya.


Tadi Ibu Gita mendekati kamar anaknya tapi pintu terkunci dan sangkahnya bahwa Alga sedang mengganti pakainnya. Ibunya tidak tahu bahwa Alga keluar melalui jendela kamar.


Menyadari hal itu, Ibu Gita ke dapur lalu menelepon Alga karena pintu kamarnya masih tetap terkunci dan ia merasa kurang enak melihat Seyla menunggu di teras rumah.


"Kamu temui Seyla, Nak!" kata Ibu Gita dengan pelan ketika panggilannya sudah terhubung.


"Maaf, Bu, saya udah ngantuk bangat dan besok harus pagi-pagi ke kantor karena ada rapat!" sahut Alga dengam suara dibuat parau.


"Sebentar aja, agar Seyla nggak kecewa," bujuk Ibu Gita lagi.


"Sekali lagi, maaf, saya udah mau tidur, Bu!" kata Alga lalu memutuskan sambungan telepon secara sepihak.


Ibu Gita kembali menemui Seyla di teras dan mengatakan bahwa Alga minta maaf karena tidak bisa menemuinya. Ada urusan kantor yang sangat mendadak dan harus diselesaikan malam ini juga. Seyla mengangguk dengan sopan membuat hati Ibu Gita menjadi lega.

__ADS_1


"Kamu memang calon mantu yang sabar!" puji Ibu Gita sambil mengusap kepala Seyla dengan lembut.


Seyla tersenyum dan Ibu Gita pamit untuk kembali bergabung dengan orang tua Seyla di ruang tamu. Sikapnya kembali santai karena ia sedang berkirim pesan dengan seorang pria yang baru dikenalnya tadi ketika tak sengaja bertemu di toko saat ia pergi membeli kado buat Alga.


Sementara itu, Alga dan Zarina sudah tiba di taman kota yang indah karena dihiasi dengan lampu-lampu yang berwarna-warni. Keduanya mengenakan topi dan masker agar tidak ada yang mengenalinya.


"Sampai kapan kita harus bersembunyi seperti ini?" tanya Alga yang sudah mulai bosan.


"Entahlah...," sahut Zarina dengan pelan.


"Apa sebaiknya kita kawin lari aja seperti yang biasa saya nonton di TV?" usul Alga.


"Mau lari ke mana? Trus kita mau makan apa?" Zarina terkekeh.


Keduanya duduk di bangku taman sambil menikmati angin malam yang bertiup menerpa wajah. Alga memeluk Zarina yang sudah menyandarkan kepala pada bahunya. Ia sangat merindukan momen seperti ini. Dadanya selalu berdebar-debar bila berada dekat dengan gadis ini dan setiap waktu selalu mengingatnya.


Wajah yang hanya dipoles dengan make up yang tipis namun daya tariknya bak magnet. Alga mendekatkan wajahnya dan mengecup kening Zarina yang seketika membuat bulu kuduk berdiri.


Zarina melepaskan diri dari kungkungan sang kekasih. Ia membuka tasnya dan mengambil sebuah kotak kecil dan mungil yang sudah dihias sedemikian rupa lalu memberikan kepada Alga.


"Selamat ulang tahun Sayang, doa terbaik untukmu!" ucapnya disertai senyum yang tulus.


"Terima kasih Sayang! Apa isinya?" tanya Alga sambil mengamati kotak kecil dengan gambar dua hati yang berdampingan.


"Rahasia dong, nggak boleh dibuka sebelum tiba di rumah dan masuk ke kamar!" ujar Zarina.


"Aduhhh, banyak aturan dan bikin penasaran, aja," kata Alga. Ia menjewer hidung Zarina dengan gemas lalu menyimpan kotak kecil itu ke dalam saku jaketnya.


Alga lalu mengajak Zarina ke penjual makanan karena perutnya sudah bernyanyi-nyanyi minta diisi. Tadi ia malas makan di rumah karena ada Seyla dan orang tuanya.


Sementara mereka duduk menunggu makanan yang dipesan tiba-tiba Alga melihat Seyla bersama Kevin sedang bermesraan tak jauh dari tempat duduknya. Alga mempertajam pandangannya karena belum terlalu yakin kalau pria yang bersama Seyla adalah benar-benar Kevin, suami Rizha.

__ADS_1


__ADS_2