
Jam istirahat telah tiba dan semua karyawan sudah siap mengikuti tes untuk seleksi. Semua tampak bersemangat karena ingin menduduki jabatan sekretaris kecuali Zarina karena hal itu bisa saja membuatnya kehilangan pekerjaan.
Zarina sengaja membubuhi dengan jawaban yang salah pada beberapa pertanyaan yang diberikan walaupun sebenarnya ia tahu jawaban yang benar.
Setelah selesai diperiksa, ternyata Tini yang berhasil memperoleh nilai tertinggi dan ia berhak untuk menduduki kursi sekretaris dalam waktu yang sudah disepakati. Jabatan tersebut akan berakhir setelah masa cuti Rizha sudah habis.
Seyla menampakkan wajah yang kurang senang setelah mengetahui bahwa Tini akan menjadi sekretaris pribadi Alga tapi Tini tidak peduli.
"Awas yah, kalau kamu macam-macam, saya berhak memecatmu!' ancam Seyla dengan berkacak pinggang.
"Tergantung..., tapi bagaimana kalau Pak Alga yang macam-macam kepada saya?" sahut Tini dengan senyam-senyum. Ia sengaja memanas-manasi Seyla.
"Eh, sadar diri dong, kamu itu karyawan baru, mana mungkin Pak Alga akan tertarik, lagian juga gadis sepertimu itu bukan levelnya," ujar Seyla dengan emosi yang sudah mulai naik. Ia merasa tersinggung karena Tini sangat berani menantang perkataannya.
"Buktinya, walaupun saya terbilang karyawan baru di sini tapi sudah terpilih untuk menjadi sekretaris. Kak Zarina aja yang terkenal dengam otak yang cerdas kalah loh ama saya!" Tini semakin berani berbicara karena ada beberapa temannya yang mendukung.
Keduanya pun adu mulut hingga hampir adu pisik tapi melihat Pak Alga yang berjalan ke arahnya membuat perseteruan tersebut berhenti.
"Tini, sekarang kamu masuk ke ruangan kerja barumu!" perintah Pak Alga dengan tegas lalu meneruskan langkahnya.
"Iya Pak!" jawab Tini dengan sopan.
Suara Tini tidak kedengaran lagi oleh Pak Alga karena ia pergi begitu saja. Ada kekecewaan yang tergambar pada wajahnya karena bukan Zarina yang terpilih untuk menjadi sekretarisnya.
Tini pun segera mengemasi barang-barangnya lalu pindah ke ruangan yang baru. Tak lupa ia mengibaskankan rambutnya ketika melewati pintu ruangan Seyla lalu melangkah dengan gaya yang dibuat gemulai dengan tujuan untuk memancing kemarahan Seyla.
Melihat semua itu Seyla mengepalkan tangannya namun kembali tidak bisa berbuat banyak karena Tini sudah menghilang dan masuk ke ruangan tempat kerja barunya.
Wajah dingin Pak Alga membuat Tini ragu untuk menggodanya sesuai dengan angan-angannya selama ini. Kesempatan sudah ada di depan mata namun harus berproses. Pelan tapi pasti. Itulah semboyan dalam hati Tini saat ini. Apalagi ini adalah hari pertama berada di ruangan ini jadi harus memperlihatkan sikap yang profesional.
Satu minggu telah berlalu, Tini tetap bekerja dengan baik namun ia mulai mengenakan pakaian yang pas badan alias ketat dan itu akan terlihat jika sudah berada dalam ruangan kerja. Ia selalu mengenakan blezer ketika baru datang ke kantor, begitu pula jika ada keperluan di luar ruangannya. Namun Pak Alga sama sekali tidak menghiraukan karena tidak pernah berkomunikasi dengan Tini di luar urusan kantor.
__ADS_1
"Tok, tok, tok!" suara ketukan di pintu membisingkan telinga. Tini beranjak dari duduknya dan membuka pintu.
"Lama amat sih, buka pintunya?" bentak Seyla dengan keras.
Ia memandangi cara berpakaian Tini mulai dari ujung kaki sampai ke ujung kepala. Lekuk-lekuk tubuhnya sangat kentara membuat Seyla curiga bahwa sekretaris baru ini pasti punya niat untuk menggoda Pak Alga.
"Ehh, maaf! Ada apa yah?" tanya Tini menatap lekat wanita cantik yang berdiri di hadapannya.
"Bukan urusan kamu," sahut Seyla yang langsung menerobos masuk hingga bahunya menyenggol tubuh Tini dengan kasar.
Seyla menuju ke tempat kerja Pak Alga yang hanya dibatasi dinding kaca dengan ruangan kerja Tini.
"Ada perlu apa, Seyla?" tanya Pak Alga dengan serius.
"Ibumu baru aja menelepon, katanya ia sudah beberapa kali menghubungi ponselmu tapi nggak ada jawaban," sahut Seyla.
Pak Alga memeriksa ponselnya dan benar saja bahwa di sana sudah ada lima panggilan tak terjawab dari ibu.
Seyla heran sekaligus senang karena sikap Alga terhadapnya berubah, tidak seperti yang sebelumnya yang selalu cuek dan acuh tak acuh. Ada apa yah?
Rupanya Pak Alga hanya berakting saja karena ia sudah mulai mencium adanya niat sekretaris barunya untuk menggoda dirinya.
Beberapa saat kemudian terdengar ketukan di pintu. Kembali Tini membuka dan Ibu Gita langsung masuk tanpa peduli dengan salam yang diucapkan oleh Tini.
"Aduhhh, Ibu senang lihat kalian berada di ruangan ini, apa juga saya bilang dari dulu bahwa sebaiknya Seyla aja yang menggantikan kedudukan Rizha biar kalian selalu bersama-sama," ucapnya dengan mata berbinar-binar.
"Iya Bu, nggak apa-apa soalnya nggak lama lagi kami akan jadi satu dalam ikatan pernikahan," ujar Seyla dengan bangga.
Pak Alga tersedak air liurnya mendengar ucapan Seyla. Melihat hal itu, Ibunya langsung mengalihkan pembicaraan.
"Tadi Ibu menelepon kamu soalnya lagi belanja di Mall, ehh... Pas mau bayar, uangnya kurang dan Ibu mau minta tolong di transferkan tapi ternyata kamu nggak angkat teleponnya. Jadi Ibu batalin aja sebagian belanjaannya," tutur Ibu Gita.
__ADS_1
"Maaf Bu, tadi ada kerjaan numpuk dan harus diselesaikan dengan cepat!" ujar Alga.
Seyla sengaja banyak bercerita di depan Ibu Gita dan suaranya dibuat keras dengan maksud kedengaran sampai ke meja Tini dan benar saja, kuping Tini jadi panas memdengar ocehan mereka.
Tini mendongakkan kepala untuk melihat mereka dari balik kaca pembatas dan melihat Seyla sedang bercengkrama dengan Ibu Gita sedangkan Pak Alga sibuk dengan ponselnya.
Tak lama kemudian terdengar Pak Alga mohon pamit untuk keluar sebentar. Mungkin telinganya juga sudah panas mendengar obrolan Seyla dan ibunya, apalagi keduanya membahas tentang rencana pernikahan yang tidak lama lagi akan segera digelar.
Setelah Pak Alga menghilang di balik pintu, Seyla langsung menarik tangan Ibu Gita lalu menghampiri Tini.
"Lihat Tante, dia sengaja ingin menggoda calon suamiku!" seru Seyla sambil menunjuk ke arah Tini.
Tini gugup karena Ibu Gita memandanginya lekat-lekat.
"Kalau masih mau kerja di perusahaan ini, mulai besok kamu harus berpakaian yang wajar dan sopan. Lagian juga kamu jangan berharap akan dilirik oleh anak saya karena ia sudah punya calon istri yang baik dan tidak ada yang menandingi kecantikannya!" ucap Ibu Gita dengan tegas membuat Seyla tersenyum dan makin besar kepala mendapat pujian dari calon mertuanya.
Tini hanya diam mendengar hinanaan dari Ibu Gita namun dalam hati ia sedang mengumpat dan menyumpahi kedua makhluk yang ada di hadapannya saat ini.
Sementara itu Pak Alga yang sedang berada di taman menggunakan kesempatan untuk menelepon Zarina.
"Nanti malam kita ketemuan, yah!"
"Di mana?"
"Nanti saya jemput kamu, Sayang!"
"Baiklah, tetima kasih sebelumnya!"
"Sama-sama, Sayang,"
Pak Alga mengakhiri panggilannya dengan senyum-senyum sendiri. Ia kembali ke ruangannya setelah melihat Seyla mengantar ibu sedang menuju ke parkiran.
__ADS_1