
Tini sibuk mencari waktu yang tepat untuk bisa mendekati Pak Alga karena sudah dua bulan ia bekerja di kantor ini tapi belum ada celah untuk hal tersebut. Ia tidak tahu bahwa antara Pak Alga dengan Zarina ada hubungan khusus karena tidak pernah sekalipun mereka menampakkan kebersamaanya di kantor.
Suatu hari Tini mengajak Desi ke Mall untuk belanja setelah mereka gajian.
Cukup lama juga mereka berada di Mall, putar-putar mencari barang yang dibutuhkan hingga tiba di penjual pakaian.
"Ssssttttt, tunggu dulu!" Tini menahan langkah sahabatnya karena melihat seseorang yang sangat ia kenal sedang berada di tempat itu juga.
"Ada apa, sih?" tanya Desi heran.
Tini tidak bersuara tapi matanya terus memandang ke arah di mana orang yang sangat dikenalnya itu berada sambil meletakkan jari telunjuknya pada bibir sebagai syarat agar Desi jangan berisik.
Desi menuruti perintah sahabatnya dan ia juga mengikuti ke arah mana tatapan mata Tini dan hampir saja ia berteriak karena melihat Seyla sedang bergelayut manja pada pundak seorang bapak-bapak. Tanpa pikir panjang, Desi mengarahakan kameranya lalu mengambil gambar.
Mereka bergeser agak ke dalam karena takut jika ketahuan sedang mengintai calon istri Pak Bos di kantor.
"Ihh..., gimana kalau Pak Alga tahu bahwa calon istrinya pergi dengan Om-Om?" bisik Desi.
Tini tidak menanggapi ucapan sahabatnya. Ia kembali mengintip dan berharap penglihatannya salah tentang laki-laki yang sedang bersama Seyla.
Tampak Seyla sedang sibuk memilih pakaian model kekinian dan sesekali ia memperlihatkan kepada laki-laki tua yang berdiri tak jauh darinya. Ada beberapa potong kemeja yang sudah berada dalam genggamannya.
Tini terus mengamati pergerakan mereka. Tampak keduanya berjalan ke meja kasir dan sikap Seyla yang bermanja-manja ke laki-laki tua yang bersamanya itu membuat Tini jadi geram.
Tiba di meja kasir, ayahnya mengeluarkan dompet dan mencabut beberapa lembar uang berwarna merah dan biru lalu menyerahkan kepada Seyla.
"Ini tidak dapat dibiarkan! Saya aja sebagai anak gadisnya tidak pernah dibelikan pakaian mewah," gumam Tini dalam hati dengan tangan terkepal.
__ADS_1
Desi bingung melihat sahabatnya yang begitu emosi. Ia tidak tahu bahwa Om-Om yang jalan bersama Seyla adalah Pak Gunawan, ayah Tini.
Tini teringat dengan keadaan di rumah selama ini, ibunya marah-marah karena sebagian penghasilannya selalu diminta oleh ayahnya untuk mencukupkan biaya kuliah Irfan dan Fajar. Rupanya ayah telah menyeleweng dan main di belakang ibu. Ada keinginan untuk melabrak mereka tapi mengingat posisinya di kantor maka niatnya itu diurungkan.
Desi hampir terjatuh ketika tangannya ditarik paksa oleh Tini. Ia hanya mengikuti ke mana sahabatnya itu dan ketika melewati meja kasir, mata Tini dan ayahnya sempat beradu. Seketika itu juga, wajah Pak Gunawan pucat melihat Tini yang menatapnya dengan penuh kemarahan.
Tini makin mempercepat langkahnya meninggalkan tempat tersebut sebelum keberadaan mereka disadari oleh Seyla.
Sementara itu Pak Gunawan tampak panik dan gelisah. Tadi ia sudah mengatur jadwal bahwa setelah menemani Seyla berbelanja, mereka akan pulang ke rumah perempuan itu untuk bersenang-senang di sana. Biasanya mereka janjian ketemu di hotel tapi kali ini ada peluang untuk bertemu di rumah karena kedua orang tua Seyla sedang bepergian ke luar kota, katanya mau jenguk saudaranya yang sedang sakit.
Pak Gunawan merasa sangat rugi jika membatalkan apa yang sudah direncanakan sebelumnya karena ia sudah membayar harga yang tidak sedikit tapi persoalannya sekarang, Tini bisa saja membeberkan kepada ibunya apa yang sudah dilihatnya.
"Kenapa Om sangat gelisah?" tanya Seyla ketika mereka menuju ke tempat parkir.
"Oh, nggak apa-apa, hanya sedikit kurang sabar, ingin segera...," Pak Gunawan tidak melanjutkan perkataannya.
Pak Gunawan dan Seyla tidak menyadari bahwa Tini dan Desi masih mengawasi dari jauh bahkan mengikuti mereka setelah keluar dari parkiran.
"Saya akan laporkan ayah kepada ibu, lihat aja nanti!" gerutu Tini di belakang Desi yang sedang menyetir motor.
Desi menginjak rem secara mendadak karena kaget mendengar ucapan sahabatnya hingga helm keduanya beradu dengan keras.
"Maksud kamu?"
Tampak mata Tini mulai berkaca-kaca karena emosinya sangat memuncak. Ia merasa malu mau mengakui bahwa laki-laki yang sedang bersama Seyla adalah ayahnya tapi buat apa juga menyembunyikan barang yang busuk karena suatu saat pasti akan tercium juga. Dari pada Desi dengar dari orang lain, lebih baik saya berterus terang. Pikir Seyla dalam hati.
"Laki-laki itu adalah ayahku,"
__ADS_1
Desi menutup mulut yang sempat ternganga mendengar pengakuan Tini. Pantas aja dari tadi Tini sangat marah.
Tini sesenggukan dengan pikiran yang berkecamuk. Harusnya ia senang karena punya bukti yang akan ditunjukkan kepada Pak Alga tentang kelakuan calon istrinya sehingga ia punya kesempatan untuk cari muka tapi kenapa harus ayahnya yang jadi selingkuhan Seyla. Sungguh memalukan!
Beberapa saat telah berlalu menyadarkan kalau mereka sudah kehilangan jejak untuk membuntuti kemana ayahnya dan Seyla pergi.
"Ayo tancap gas!" seru Tini.
Motor yang mereka kendarai melaju dengan cepat di jalan aspal yang mulus namun yang dicari sudah menghilang akhirnya Desi mengundur gas dan lari motornya pun berkurang. Ada raut kekecewaan tergambar pada wajah Tini karena ia ingin tahu sejauh apa hubungan ayahnya dengan Seyla tapi sudah kehilangan jejak.
Untuk meredahkan perasaan yang bercampur aduk, Tini mengajak Desi untuk membeli minuman segar di pinggir jalan sebelum melanjutkan perjalanan untuk pulang ke rumah
Sambil minum ia memikirkan bagaimana cara untuk menyampaikan kepada ibunya apa yang telah dilihatnya tadi tentang ayahnya. Sesuatu yang tidak mudah dan masih memerlukan bukti yang kuat. Timbul ide dalam pikirannya untuk memata-matai ayahnya dan jika sudah bisa mengumpulkan bukti-bukti maka saatnya untuk membeberkan kepada ibu. Untuk sementara waktu cukup bersikap seolah-olah tidak terjadi sesuatu.
Desi merasa iba melihat sahabatnya yang sedang galau sehingga ia lebih memilih untuk diam dan keduannya melanjutkan perjalanan setelah hampir satu jam duduk di kedai yang ada di pinggir jalan itu.
Ketika dalam perjalanan Tini baru ingat, ada pesanan ibunya yang belum sempat ia beli tadi. Ia pun menyuruh Desi singgah di toko untuk membeli barang yang dipesan oleh ibu. Keduanya turun dari motor lalu masuk ke sebuah toko yang cukup ramai oleh pengunjung.
"Banyak amat barang belanjaannya!" sebuah suara yang sudah yang tidak asing lagi bagi Tini menyapa mereka. Sekilas Tini menoleh dan tampaklah Mak Ela sedang tersenyum miring ke arahnya.
"Tolong bilang ama Ibumu agar tidak melupakan utangnya di gardu!" ucap Mak Ela membuat wajah Tini memerah karena malu. Bagaimana tidak, semua orang yang mendengar perkataan Mak Ela sontak menatap ke arahnya.
"Hhmmm, belanja banyak ternyata orang tuanya banyak utang," sindir seorang ibu.
"Nggak usah pamer-pamer barang belanjaan deh, kalau uangnya adalah hasil pinjaman dari tetangga!" timpal yang lain.
Tini menarik lengan Desi dan meninggalkan tempat itu, sementara Mak Ela tersenyum puas.Ia berharap setelah kejadian ini, Ibu Elis mau membayar utangnya di gardu.
__ADS_1