Sakitnya Ditinggal Nikah

Sakitnya Ditinggal Nikah
EPISODE 11 Perang Dingin


__ADS_3

Lindah mendengar suara sepeda motor Wildan masuk ke pekarangan rumah, dia bergegas


mengintip dijendela melihat Wildan turun dari motornya dengan wajah ditekuk berhenti sesaat menatap kearah pintu rumah Lindah perlahan dia menghela napasnya kemudian melanjutkan langkahnya masuk kedalam rumahnya sendiri, Lindah melirik handphonenya tidak ada pesan lagi dari Wildan, aku merasa galau sendiri karena baru pertama kali ini Lindah merasakan perang dingin Wildan dan itu rasanya sangat menyiksa.... Airmata Lindah mulai menetes melihat jam sudah pukul tujuh tetapi Wanita Wildan belum juga menghubunginya biasanya jam segini Wildan sudah mengajaknya makan malam bersama tapi hari ini jangankah makan malam sekedar ngechat bertanya kabar aja enggak, Wildan benar-benar marah.... Lindah menggigit bibirnya sendiri aku mulai takut kehilanganmu Wildan, sekarang aku harus gimana, bagaimana caranya membujuk Wildan.... Aku sangat merindukanmu....


Wildan kan tinggal disebelah rumah, Kitakan tetanggaan kenapa aku enggak kerumahnya aja atau minimal keluar teras biasanyakan dia selalu nongkrong didepan rumah, aku mengacak-ngacak rambutku sendiri menyadari kebodohanku, ku meleset secepat kilat berlari menuju pintu mengitari pandangan diteras hingga depan rumah Wildan semua gelap, apa Wildan sengaja mematikan lampu, tapi kenapa atau dia pergi keluar tapi seingatku tadi tidak mendengar lagi suara motor Wildan sedari pulang tadi siang itu artinya dia tidak kemana-mana lagi... Benar juga kata Dion enak punya pacar tetangga lebih mudah pantaunya.... Lindah memicingkan matanya terhenti pada suatu sosok teras rumah Wildan menatapnya dengan seksama sepertinya Wildan yang sedang duduk sambil memeluk kedua lututnya, aku sungguh tidak tega melihatnya... Lindah baru melangkahkan kakinya menghampiri Wildan sebuah suara dari balik pintu rumah Wildan memanggil, Lindah segera berhenti dan memutar langkahnya..


"Doni, iya itukan Doni sepupu Wildan Lindah tersenyum dia punya alasan sekarang, Lindah bergegas keluar tapi bukannya menghampiri Wildan dia malah menuju kearah Doni, Doni menyapa Lindah dengan ramah "Hei Lindah sini duduk dekat gue" kata Doni sambil menepuk bangku disampingnya, Lindah tersenyum dan duduk disampingnya Doni sambil melirik Wildan namun Wildan sedikitpun tidak bergeming


"Lin lo ada masalah apa sama sepupu gue, liat tuh sampai stress gitu tanggung jawab lo...." tanya Doni sambil meninggikan suaranya pura-pura marah supaya Wildan dengar namun Wildan tetap dengan diamnya seolah tidak mendengar sedikitpun


"Aku enggak ngapain, tanya sendiri sama sepupu lo siapa yang salah" sahut Lindah santai dan melirik Wildan lagi tapi yang dilirik tidak peduli


"Emang dasar ya cewek merasa benar terus enggak ada salahnya"


"Emang"


"Pokoknya gue enggak mau tahu ya lo harus tanggung jawab, gara-gara lo sepupu gue belum pernah makan dari tadi siang tahu"

__ADS_1


"Emangnya sepupu lo aja yang belum makan aku juga belum makan tahu" Lindah menatap Wildan namun Wildan yang hanya diam dan memejamkan matanya membiarkan Doni dan Lindah perang mulut, Lindah mulai cemas dia bahkan tidak punya cara sama sekali membujuk Wildan, apalagi Wildan tidak menghiraukannya sama sekali airmata Lindah mulai menetes, Doni yang melihat wajah Lindah memelas dengan mata yang sembab dia jadi tidak tega, Doni juga heran kenapa sepupunya itu begitu betah dengan ekspresi seperti itu enggak pegal apa.... Mana mereka berdua belum ada yang makan bukannya damai malah saling egois enggak ada yang mau mengalah meminta maaf, heemm cinta memang menyesatkan.. Doni menepuk bahu Lindah yang sedang menangis memberinya isyarat supaya menyapa Wildan duluan kalo enggak ampe semalaman mereka disini, Lindah mengangguk segera menghapus airmatanya dia juga sudah tidak sanggup perang dingin terus menerus seperti ini.... Lindah menarik napasnya perlahan mengumpulkan nyalinya kemudian berjalan kearah Wildan, berdiri disamping Wildan tapi jangankan Wildan menyapanya menolehpun tidak, Lindah mulai putus asa ingin rasanya dia berlari kekamarnya dan menangis sekencang-kencangnya tapi itu tidak menyelesaikan masalah, Lindah tidak bisa didiami Wildan seperti ini, Lindah sungguh tidak tahan dia rindu Wildannya yang ramah dan ceriah, mencoba menyapanya kembali jika ditanggapi syukur kalo tidak balik kerumah


"Wildaan"


Wildan hanya diam tidak menanggapi suara Lindah bagai angin lalu, Lindah meringis menahan tangis bibirnya digigitnya sekuat-kuatnya, suaranya mulai parau nyalinya sudah benar-benar ciut dia memutuskan ini terakhir kalinya dia menyapa Wildan jika masih dicuekin juga, Lindah menyerah apapun keputusan Wildan kata putuspun diterimanya Lindah sudah pasrah.... "Wil lo mau aku maafin enggak, tapi ada syaratnya?!" ucap Lindah terbata-bata menahan tangis


"Iya, apa syaratnya sayang" Wildan tiba-tiba menyahut, tersenyum dengan wajah sumringah memutar duduknya menghadap kearah Lindah, Lindahpun tersenyum "Syaratnya lo harus teraktir aku nasi goreng, aku lapar" tangan Lindah menunjuk penjual nasi goreng didepan rumah mereka, Wildan tersenyum manis dan mengangguk cepat


"Don Doni pesankan nasi goreng sekarang, cepetan...."


Doni yang sedang asyik dengan handphonenya terkejut dan segera berdiri, mengangguk dan berlari kearah bapak penjual.... Lindah yang melihat tingkah Doni tertawa sedangkan Wildan tersenyum menatap Lindah asyik menikmati tawa renyahnya, Lindah yang menyadarinya malu dan jengah.... Lindah tersenyum dan menarik tangan Lindah kemudian mengecupnya.... "Makasih ya sayang lo tahu enggak tadi gue takut banget kehilangan lo, tolong jangan diami gue lagi ya, gue enggak sanggup tanpa lo, sekarang enggak marah lagikan?!?!?....


"Kok cuma dua Don, untuk kamu mana?!"


"Ada tuh baru diracik, kalian makan aja duluan nanti gue nyusul eeh iya bentar ya gue ambil sambal sama minumnya dulu...." Doni pun berlalu dengan cepat


"Sayang makan yuk, gue sudah laper banget ne...." ucap Wildan sambil menarik nasi goreng kedekatnya

__ADS_1


"Lapar bangetlah, siapa suruh enggak makan daritadi siang" sahut Lindah


"Mana bisa gue makan jika ada masalah dengan kamu sayang" ucap Wildan sambil mengunyah nasi gorengnya....


Tidak ada lima menit nasi goreng dipiring Wildan sudah berpindah kedalam perutnya Lindah menggeleng-geleng kepalanya sudah hampir satu tahun dia jadi pacar Wildan baru kali ini melihatnya makan secepat ini, nih anak benar-benar lapar gumamnya....


" Enggak mau makan ya, sini buat gue aja kebetulan gue masih lapar..." seru Wildan sambil menarik piring Lindah


"Iiiih enak aja, gue juga lapar lo kalo masih mau pesan lagi aja...." sahut Lindah sambil menarik kembali piringnya


"Enggak aahh gue maunya punya lo aja"


"Huuush gue juga lapar tahu


"Wuuuh kalian ini barusan damai baru juga ditinggal lima menit sudah perang lagi.... huuh...." potong Doni sambil pergi menjauh kesudut teras


Wildan dan Lindah kompak tertawa melihat Doni.... Doni mengibaskan tangannya lalu mengeluarkan headsetnya terus memejamkan matanya....

__ADS_1


Wildan dan Lindah saling tatap, Wildanpun menarik Lindah kedalam pelukannya baru satu hari dia dan Lindah perang dingin tapi bagai satu tahun baginya....


__ADS_2