
Wildan menghapus airmatanya dengan kasar, dan tersadar saat bayi dalam dekapannya menggeliat dan kembali tidur pulas, Dia mengalihkan pandangannya ke bayi mungilnya begitu teduh dan lucu.... menatapnya dengan sendu tidak terasa air matanya kembali menetes.... Dia sadar sudah punya tanggung jawab.... walau bagaimanapun anak ini adalah anaknya dengan Sienna dia tidak bisa menghapus jejak itu.... Atas nama cinta atau tidak dia sudah memilih Sienna dan memiliki ikatan hati anak ini padanya.... Tanpa dia sadari mungkin selama ini dia tidak hanya menyakiti Lindah tetapi juga telah menyakiti Sienna, dua wanita yang begitu mencintainya.... Mungkin benar kata-kata Lindah dulu jika Lindah adalah perempuan pilihan hatinya tapi Sienna adalah perempuan pilihan Tuhan untuknya...
Dia tidak bisa hidup di antara dua bayangan seperti ini sekaligus.... Dia pernah memilih, dan pilihannya pun sudah membuahkan hasil tapi kenapa hatinya masih juga tidak bisa menerima kenyataan.... Wildan membuang napas dengan kasar.... Dia tidak pernah menyangka jika pilihannya membuat dirinya semakin terbebani seperti ini.... Begitu besarkah dosaku Tuhan.....
Apa benar dirinya dengan Lindah sungguh tidak berjodoh.... Tidak adakah cara lain....
Kenapa kita tidak bisa merubah keadaan....
Apa aku harus mengakui dan menerima semuanya.... mungkin itu yang terbaik.... tapi bagaimana dengan hatinya.... selama ini hatinya terbebani akan permintaan maaf pada Lindah.... Dia begitu merasa bersalah pada gadis yang sangat dicintainya.... Begitu banyak kata dan janji yang di terucap.... Apa selama ini hati Lindah bisa menerima penghianatan yang dilakukannya.... Apa selama ini Lindahnya sanggup menerima kepergiannya.... Bagaimana selama ini Lindah bisa menjalani hari tanpanya.... aahhh.... Mungkin dosaku tidak akan termaafkan.... Andai ada kehidupan kedua Wildan sangat berharap berjodoh dengan Lindah dia berjanji tidak akan mengulang sejarah.... Bayi di pangkuannya kembali terbangun saat airmata ayahnya menetes diwajahnya, Wildan buru-buru menghapus dan menggendongnya.... Dia tidak bisa hidup di persimpangan terus menerus dia harus bertanggung jawab akan anaknya.... Dia tidak bisa plin plan seperti ini jika tidak dia akan kehilangan keduanya.... Wildan harus menerima kenyataan hidup.... Hutang maafnya akan dibawanya mati....
Sienna keluar dari minimarket sambil tersenyum melihat bayi sakanya bermain bersama papanya dengan bahagia mereka begitu menikmati kebersamaan hingga tidak menyadari kedatangan mamanya.... Sienna menyentuh pundak Wildan dan tersenyum, mengajak mereka pulang Wildan mengangguk tersenyum dan mencium kening istrinya.... Mulai hari ini dia berjanji pada dirinya sendri untuk bertanggung jawab pada pilihannya.... dia sadar telah menyakiti Lindah dan itu tidak akan termaafkan jadi dia tidak akan melakukan kesalahan kedua kalinya menyakiti hati wanita lagi yang telah sah jadi istrinya demi buah hati mereka ikatan hatinya dengan Sienna.... Lindah berhak bahagia dengan lelaki yang terbaik buatnya...
Wildan sadar tidak pantas buat Lindah.... Tuhan pasti telah memilihkan lelaki yang pantas buat Lindah.... yang pastinya bukan dirinya karena dia tidak lebih dari seorang pecundang....
Sienna tertegun dan tersenyum bahagia menyadari perubahan Wildan yang begitu hangat padanya.... Entah angin apa yang merubahnya begitu cepat disini.... Selama tiga tahun dia hidup bersama Wildan baru pertama kali dia merasakan cinta tulus seutuhnya Wildan, Sienna tersenyum dan berharap semoga kebersamaan ini pernikahannya akan lebih harmonis doanya....
Andi mengantarkan Lindah sampai kedepan pintu rumahnya, Lindah tersenyum dan berterima kasih namun tidak memintanya masuk sekedar basa-basi, Andi yang sadar tuan rumah tidak ingin dirinya telah tinggal lebih lama lagi maju dan duduk dikursi teras rumah, Lindah melongo melihat kelakuan Andi yang begitu tidak tahu malu menurutnya ini hanya bisa pasrah....
__ADS_1
"Ekhemmmm, Andi apa sebaiknya Lo buruan pulang entar besok ketinggalan kereta lo, lagian aku juga capek enggak bisa ladenin Lo cerita lagi...." Seloroh Lindah sambil ngeloyor masuk dalam rumahnya
"Hei tunggu neng, aku nih juga capek enggak bisa apa aku numpang ngasoh sebentar...." Ujar Andi sambil meluruskan kakinya
"Terserah, aku mau tidur kalo sudah mau pulang tolong tutup pintunya ya...." Jawab Lindah terus melangkah kearah kamarnya dia tidak ingin lagi terlalu dekat dengan sosok yang namanya lelaki, takut sakit terulang kedua kalinya, yang dulu aja masih membekas dan belum sembuh gimana jika terulang kembali, Lindah bergidik, dia bersumpah dalam hidupnya tidak akan pernah membiarkan ada lelaki yang meluluh lantakkan hatinya lagi dan lagi tidak akan pernah cukup nama Wildan dan Wildan tidak akan ada Wildan lain....
Andi menatap punggung Lindah dengan sedih menyadari harapannya tipis berharap lebih, hati Lindah sekeras baja cintanya mungkin tidak cukup kuat masuk kedalamnya.... Entah harus bagaimana menyakinkan hati gadis yang pernah terluka.... membuatnya percaya.... Menjahit kembali hati yang telah terbelah-belah Andi mulai pesimis.... Dia bahkan tidak punya cara dan pengalaman menaklukkan wanita.... Bagaimana caranya dia mengetuk hati tersebut....
Namun dia tidak akan menyerah sebelum Lindah mau membuka kembali hati yang hancur itu, Andi yakin bisa mengobati dengan cinta sucinya....
Andi berdiri menatap kedalam mencoba berfikir akan tetap bertahan atau pulang, benarkah cinta butuh pengorbanan, harus menjadi pengemis dulu biar bisa di kasihani.... Dia menyeringai sendiri mungkin lebih mudah menggapai hati gadis yang tidak pernah mengenal cinta daripada gadis yang pernah hatinya terluka.... mendapatkan kepercayaan & hati itu sangat sulit sepertinya mencoba membuka gembok dengan kunci yang patah dan berkarat.... Dimata Lindah semua watak lelaki itu sama.... Ketakutan akan sakit membuatnya waspada dengan pertahanan yang berlapis baja..... Uuuhh.... Huuhh.... Andi menarik napasnya dengan berat.... Dia butuh seseorang yang bisa membantunya.... Dia mulai hilang kepercayaan dirinya, dia tidak akan bisa mendapat simpati gadis ini sekalipun dia bersujud dihadapannya.... Dia teringat mamanya, yah Andi butuh saran mama dan abangnya yang seorang pecinta dan idola para wanita.... Diapun segera merogoh ponsel dan menghubungi seseorang
"Halo mah, apa Andi bisa minta tolong"
"Iya nak, ada apa sayang...."
"Begini mah, Lindah tidak percaya sama Andi, lantas Andi harus bagaimana mah....???!"
__ADS_1
"Yah, yakini dia dong, Lo kasih dia bukti bukan sekedar kata-kata...." Sahut abangnya disamping mamanya....
"Caranya gimana bang...."
"Kamu lamar langsunglah dek...."
"Lamar, aku udah bilang gitu tapi dia juga enggak percaya...."
"Kamu pulang dan Abang yang kesitu wakili kamu melamarnya...." sahut abangnya mantap....
Andi terdiam mendengar ucapan abangnya, memaksakan kehendak apa mungkin berhasil gumamnya....
"Lantas bagaimana jika Lindah tetap menolak aku...."
"Kamu harus yakin adikku sayang...."
Bang Amri jadi gemas sama adik polosnya ini, sungguh susah menghadapi anak laki yang baru ketemu cinta sungutnya, seandainya adiknya ini sekarang lagi depannya pasti sudah di unyung-unyungnya saking geramnya
__ADS_1