
Tante dan paman Wildan hanya menganggukkan kepala tanpa tersenyum saat Lindah menyalami dan mencium tangannya dan pamit, Wildanpun merasa aneh dengan suasana ini karena setahu dia paman dan tantenya selama ini sangat baik dan ramah, tapi kenapa dengan Lindah begitu dingin, apa mereka tidak menyukai Lindah tapi apa alasannya, bahkan Lindah tadi tidak melakukan kesalahan apapun....
Mereka berempat selama perjalanan pulang tanpa suara satupun, Doni jadi serba salah dia menyesalkan sikap keluarganya tadi, dia berusaha merubah suasana yang sangat canggung ini....
"Hei semua kita kealun-alun yuk, disana banyak makanan enak lo, gue masih lapar ni...." serunya sambil mengelus perutnya
semua tersenyum menyetujui, mereka memasuki marlboro dengan semangat, mencoba semua makanan tradisional disana, melihat pernik dan semua hiburan malam untuk sesaat mereka melupakan kejadian yang terjadi....
Wildan memeluk pinggang Lindah dan menyandarkan kepalanya dibahunya, memejamkan matanya mencoba mencerna sikap pamannya, kenapa mereka tidak menyukai Lindah.... Bahkan Lindah tidak melakukan kesalahan sedikitpun.... Lindah pasti sangat sedih diperlakukan seperti itu.... Wildan menggenggam tangan Lindah lalu mengecupnya.... "Lindah aku sangat mencintaimu, yang semua terjadi tadi jangan terlalu kamu pikirkan ya sayang.... Mungkin mereka lagi ada masalah, santai ya sayang ya.... Lindah hanya diam menatap Wildan, dia sendiri bingung dengan perlakuan keluarga Doni kepadanya secara pertama kalinya mereka bertemu pelakuan mereka sedikit aneh memang tapi Lindah juga menyadarkan diri tentang posisinya, aku memang tidak pantas buat Wildan, mereka bagaiakan langit dan bumi Wildan seorang CEO keluarga yang kaya raya punya segalanya dengan perusahaan dari segala bidang bahkan mungkin tanpa bekerjapun Wildan tetap kaya tujuh turunan sedangkan Lindah tidak punya apapun, ayah Lindah dulu seorang pengusaha namun kemudian bangkrut ditipu oleh teman ayah sendiri dan itu terjadi sebelum ibunya kecelakaan, disaat ibu sakit itulah ayah berada dititik terbawah tidak punya apa-apa demi operasi ibu terpaksa ayah menggadaikan rumah mereka.... untuk bisa membiayai hidup dan hari-harinya Lindah hanya mengandalkan tulisan cerpen dan novel-novelnya yang dikirim kemajalah ataupun aplikasi karena hanya itulah kemampuannya, untuk bekerja disebuah kantor lebih tidak mungkin dia hanyalah gadis tamatan SMA, ya disaat kejadian ini Lindah baru SMA.... Lindah sangat tahu diri dan sadar bukankah dari jaman tiga ratus tahun silam hakekat orang kaya dan miskin memang tidak akan pernah berjodoh semudah membalikkan telapak tangan namun apakah dirinya sungguh tidak layak mencintai Wildannya.... Aku tidak ingin apapun, hanya ingin disisi Wildan bersamanya merasakan rasanya dicintai dan mencintai.... Namun kenapa sekarang itu semua terasa sulit.... Lindah menyeka airmatanya yang jatuh.... Wildan menoleh mendengar suara Lindah terisak, kedua bola mata mereka bertemu, Wildan menatap mata Lindah yang sembab dan menariknya kedalam pelukannya, dialah penyebab semua ini, Wildan Sangat menyesal telah membawa Lindah makan malam kerumah pamannya, dia berjanji pada dirinya sendiri tidak akan membiarkan lagi ada airmata gadisnya ini yang jatuh setetespun apalagi itu karenanya....
"Lindah aku sangat mencintaimu, kita pasti bisa melewati semua apapun yang terjadi, jangan pernah engkau berniat meninggalkanku ya...."
Lindah mengangguk cepat "bukan hanya kamu yang takut kehilangan Wildan, aku lebih takut lagi darimu cintaku hanya milikmu"
"janji?!"
"janji"
Wildan terbangun menatap sekelilingnya semua sudah terang ternyata sudah siang, gara-gara tidak bisa tidur memikirkan masalahnya dia jadi kesiangan, Wildan bergagas bangkit dan keluar dari kamar, Doni yang sedaritadi menunggunya melihatnya sudah bangun bergegas menariknya kembali kedalam kamar, Wildan yang belum stabil dari bangun tidur refleks terkejut dengan kelakuan sepupunya tersebut....
"Woooiih Don ada apaan nih bro, gue normal masih perjaka pula...."
__ADS_1
Doni yang mendengar kata-kata Wildkan terkekeh
"Gue juga normal keles, sumpah lo masih perjaka segelnya aja sudah rusak gitu, isinya pun sudah hancur begitu.. Hahahaha, Ini gue cuma mau serahin gelang buat Lindah ini, lo liat dulu suka enggak hasil gue, kalo enggak gue buatin yang lain lagi jujur nih gue sedikit ngeri ngasih lo didepan bokap nyokap gue soalnya tuh orang tua sepertinya kurang respek sama Lindah, takutnya mereka ngelarang lo terus laporin lo kepaman berabe deh urusannya...."
"Iya gue ngerti, thanks ya bro lo sudah mikirin semua, ngomong-ngomong lo ada info enggak kenapa mereka gitu sikapnya sama Lindah?!"
"Enggak ngerti gue, tapi nanti gue coba korek info deh laporin ke lo"
"Thanks ya bro, lo emang sodara gue'
"Santei aja bro, gue senang liat lo sama Lindah, jadi kapan ni ceritanya tuh gelang lo kasihin ke Lindah?!"
"Ya elah lo kangen sih kangen tapi mandi dulu keles kalo lo pergilah sekarang Lindah bukanya lari mendekat tapi lari menjauh kebauan, haha....
Wildan melempar bantal kearah Doni dan berlalu masuk kamar, Doni meletakkan bantal keposisinya setelah bantal tersebut mendarat mulus diwajahnya, dia tersenyum ternyata cinta memang bisa merubah seseorang ya....
Mila yang dari kemarin merasa kesal dengan keluarga Doni, ingin sekali bertanya dengan Lindah namun tidak enak hati, tapi dia juga penasaran alasan keluarga Doni seperti itu, Defi mencoba membuka cerita....
"Kak semalam tuh ya Mila sebel deh sama keluarga kak Doni, kok kaku gitu ya, jangan-jangan mereka pikir Mila sama anaknya jadian jadi mereka jutek gitu....?!"
"Kakak pikir mereka hanya enggak suka sama kakak, benar enggak sih?!"
__ADS_1
"Tapi alasannya apa....?!" sahut Mila bingung
", Banyak Mil, salah satunya Pendi Wildan dengan kakak begitu jauh terus mereka dari keluarga berada sedangkan kakak tidak punya apa-apa, terkadang kakak mikir seandainya Wildan hanya terlahir sebagai orang biasa saja pasti enggak seribet ini masalahnya dan kita pasti bersama selamanya.... Mil menurutmu apa kakak sebenarnya enggak berjodoh sama Wildan ya, apa yang harus kakak lakuin....?!?!" airmata Lindah mulai mengambang dipelupuk matanya, Mila menjadi kasihan mendengar kata-kata Lindah, begitu dramatis percintaan mereka seperti disenetron aja, Mila mulai takut jatuh cinta....
"Kakak terlalu jauh mikirnya, merekakan cuma pamannya kak Wildan bukan orangtuanya jadi masih ada harapan kak"
"Jika pamannya aja tolak kakak gimana dengan orangtuanya Mil, kakak enggak mau kehilangan Wildan, kakak takut banget...." suara Lindah tercekat oleh airmatanya yang semakin deras, belum selesai Lindah bicara dari luar ada suara orang memberi salam seperti suara Wildan dan Doni, Lindah menghapus airmatanya cepat dan meminta Mila membukakan pintu dahulu, Lindah akan kekamar mandi mencuci mukanya, dia tidak ingin Wildan tahu kegalauan hatinya, Mila mengangguk segera bangun dan berlari keluar....
"Hallo kak Wildan silahkan masuk...."
"Makasih Mil, Lindah mana, dia baik-baik ajakan kok enggak bareng lo...."
"Iya, kak Lindah tadi kekamar mandi dulu cuci muka dia habis nang...." belum selesai Mila menjawab, suara Doni memotong pembicaraannya
"Mila sayang lo enggak persilahkan abang Doni lo masuk juga?!" ujarnya dengan memasang tampang sedih
Wildan yang tadi mendengar ucapan Mila hanya sebagian menjadi penasaran, menang itu apa, nang.... sambungannya apa ya nang nangis ih ya pasti nangis.... Tapi kenapa Lindah menangis apakah dia masih memikirkan soal kemarin, Wildan jadi tidak tenang....
Lindah segera membasuh wajahnya sambil menatap kecermin, apakah wajahku terlalu jelek ya bersanding dengan Wildan hingga keluarga Wildan tidak sudi mengenalku.... Bukannya segera keluar Lindah malah kembali menangis, Apa benar keluarga Wildan tidak setuju, gimana kalo orangtua Wildan juga tidak merestuinya???? Apakah Wildan akan pergi meninggalkannya???? lalu apa yang harus aku lakukan jika itu benar terjadi???? airmata Lindah semakin deras, kepalanya semakin sakit memikirkan semua, dia menepuk-nepuk wajahnya sendiri dan mendongak keatas memandangi langit-langit rumah supaya airmatanya tidak lagi jatuh tapi sia-sia saja, pandangan Lindah bahkan sudah kabur oleh airmatanya sendiri, semakin dia mencoba menghentikan airmatanya itu semakin deras, dipijitnya kepalanya yang semakin pusing namun Lindah merasakan melayang, gelap dan kemudian jatuh tapi sebelum tubuhnya sukses mendarat kelantai sebuah tangan kekar memegang tubuhnya begitu kiat memeluknya, Lindah mencoba membuka matanya, ingin melihat siapa yang menolongnya tapi rasanya dia berat sekali membuka matanya hanya bisa mendengar sayup-sayup namanya dipanggil....
Wildan yang semakin panik melihat Lindah yang pingsan dalam pelukannya, dia segera mengangkat tubuh Lindah kekamar disebelah kamar mandi tempat Lindah jatuh tadi Wildan tidak memikirkan lagi itu kamar siapa yang penting Lindah siuman yang lain nanti saja urusannya.... Wildanpun menurunkan tubuh Lindah ketempat tidur dengan pelan kemudian memegang tangannya sambil menyentuh wajahnya, airmata Wildan mulai merembes melihat gadis yang dicintainya seperti ini, terbaring lemah, pucat dan tidak berdaya untung saja tadi dia bersikeras mencari Lindahnya....
__ADS_1