
Satu jam berlalu namun, Wildan maupun Lindah masih tak saling berkata mereka asyik dengan pemikiran masing-masing, Wildan menoleh kearah Linda, menatap gadis pujaannya itu dengan hati hancur, siapa yang tidak hancur melihat Lindah membisu duduk terdiam dengan airmata yang selalu menetes, ingin rasanya Wildan menghapus airmata itu dan menarik pemiliknya kedalam pelukannya namun di urungkan niatnya, dia takut ditolak gadis tersebut.... Wildan menghela napasnya perlahan, perasaaannya semakin terluka menyadari airmata Lindah tumpah karenanya, andai saja dia bisa bersikap lebih keras melawan orangtuanya, seandainya saja dia mampu mempertahankan pilihannya, andai saja aahhh dia hanya bisa berandai kenyataan dia bahkan tidak bisa berbuat apa-apa, hanya bisa memberi luka.... Dia kembali menatap Lindah yang mulai tenang, Wildan memberanikan diri menggenggam tangannya
"Sayang maafin aku ya, aku tak bermaksud menyembunyikan ini semua"
Lindah hanya terdiam sambil sesekali mengusap airmata
"Sayang tak pernah menyetujui perjodohan ini, aku selalu menolaknya tapi setiap aku menolak, mama selalu pingsan dan papa menyalah kan diriku hingga akhirnya papa mau berjanji jika aku hanya perlu menyetujui papa supaya keluarga tidak malu, papa berjanji jika aku dan Sienna cukup menikah saja selanjutnya bisa bersama mu kembali, cukup tiga bulan saja, sayang kamu maukan menunggu ku tiga bulan, temani aku lewati ini semua kalau kau tidak mau lebih baik aku pergi saja tinggalkan semua, aku tetap bertahan hanya demi lo Lindah, jika tidak ada engkau aku tak peduli lagi semua, terserah keluargaku mau seperti apa toh selama ini mereka juga tak pernah menganggap perasaanku...." ucap Wildan sambil beranjak berdiri
Lindah menatap Wildan mendengar kata Wildan, jika Wildan pergi lalu bagaimana acara mereka, bukankah undanganya sudah disebar bagaimana keluarga mereka bisa menghadapi ini semua.... tidak itu tidak boleh terjadi, jika ada orang yang harus terluka itu hanya aku, bukan keluarga Wildan apalagi keluarga Sienna, saat dijodohkan bukannya mama Wildan sampai pingsan apalagi jika batal, Lindah tidak berani membayangkannya.....
"Wil Wildan tenanglah, kamu jangan berpikir pendek, tolong fikirkan semua...."
"Apalagi yang harus aku pikir, aku tak ingin kehilangan lo, jika itu terjadi lebih baik aku tinggalkan daerah ini...."
"Ingat keluarga lo, malunya mereka, nama baik mereka...."
"Aku akan bertahan jika lo janji temani gue melewati ini semua bagaimana?!?!"
Lindah menundukkan kepala, membayangkan semua yang terjadi, mengingat kata-kata kak Wina semalam, haruskah aku menemani Wildan hingga hari pernikahan bukan sebagai cintanya melainkan sahabat....
"Baiklah tapi kamu juga harus janji tidak akan melakukan hal konyol...."
"Percayalah apapun yang terjadi cintaku hanya padamu Lin...." sahut Wildan menggenggam tangan Lindah lalu mengecupnya, Lindah mematung tak tahu kemana arah pilihannya ini, entahlah dia sendiri tidak mengerti hanya satu yang pasti jalan yang ditujunya semakin panjang, terjal dan berkabut.....
Aku membolak-balik kalender didepanku Seandainya bisa aku ubah waktu dan kalender ini akan aku hapus bulan april ini.... Setiap mataku melihat angka 16 hatiku selalu teringat akan hari pernikahan Wildan & Sienna, ya hanya tinggal beberapa hari lagi, tadi pagi Wildan pamit Kembali kekediaman orangtuanya buat fighting baju dll, aahh ternyata menemani orang yang cintai kepelaminan lebih menyakitkan dari ditinggalkan.... Aku menghapus airmata yang mulai tumbuh tidak aku harus tegar ini pilihanmu sendiri Lindah, sebuah nada daring mengejutkannya
"Sayang gue lagi fighting baju trus nanti langsung rapiin rambut, kamu baik-baik ya disana jangan banyak mikir miss you...."
Lindah menatap nanar layar ponselnya yang mulai kabur dengan airmata, Wildan sanggup kah aku terus menemani mu, aku sudah berjanji pada diriku sendiri sebagai sahabat tapi sepertinya jauh dari lubuk hatiku tidak rela....
Wildan melakukan semua persiapan dengan malas, aahhh andai pernikahanya ini dengan Lindah pasti semua terasa indah....
Hari berlalu dengan sepi, sunyi dengan irama airmata dan tatapan hampa entah sudah berapa kotak tisu Lindah habis bahkan seandainya airmatanya ditampung mungkin sudah lima ember airmatanya keluar namun hebatnya airmatanya tidak pernah kering setiap mengingat Wildan, dia selalu menetes dan keluar tanpa permisi ya hari ni pas hari_H pesta pernikahan Wildan & Sienna, Pindah bahkan tidak pernah tidur semalaman raut wajahnya sudah parah sekali, matanya bengkak sebesar jengkol, seandainya disandingkan dengan Mak Lampir pastilah kini mak lampir jauh lebih cantik darinya.... Aku menatap arlojiku sudah pukul delapan mungkin sekarang Wildan sedang akad nikah, aahh itu artinya Wildan telah menjadi suami orang, bukan miliknya lagi huhuhuhu..... ponselnya bergetar sebuah psan chat masuk, Lindah menghapus air matanya lalu mengusap ponselnya
"Sayang aku sekarang lagi dimobil, jalan kearah rumah Sienna mau akad, doa'in aku ya sayang, lo jaga kesehatan, jangan banyak mikir, nanti gue hubungi lo lagi, love you....."
Lindah melempar ponselnya dan berteriak sekencang-kencangnya, kenapa takdir sesakit ini....
Satu jam kemudian ponselnya kembali berdering
"Sayang Alhamdulillah akadnya sudah selesai sekarang gue sudah jalan pulang bentar lagi Sampai rumah gue nelpon lo ya, miss you"
Lindah merasa heran dengan Wildan, orang nikah kok tetap ada waktu buat chattingan ya, sama pacar pula aneh nih anak terkadang dia merasa sangat dicintai Wildan terkadang aku hanya merasa sedang dipermainkan olehnya tidak lebih seperti sekarang ini.... Akhirnya Lindah membalas juga
__ADS_1
"Iya"
Setengah jam kemudian Wildan beneran menghubunginya, Lindah ketar-ketir sendiri menerima atau menolaknya saja, namun ponselnya terus berbunyi akhirnya dia mengangkatnya
"Sayang kamu dimana, kok lama amat sih ngangkat nya, gue kangen tau...." Suara Wildan disebrang sana manja seperti biasa
"O iya maaf sayang tadi aku lagi sibuk, lo kok nelpon aku, bukannya ini hari akad nikah lo, emang enggak apa-apa?!'
"Sudah kok tadi ni sekarang gue pulang dulu ganti baju nanti balik kesana pestanya... sibuk jangan katakan lo sibuk nangis sayang...."
"Ya enggaklah, kurang kerjaan apa buat tangisi lo...." ucapku berbohong
"Aahh yang benar tu suara lo serak buktinya..."
"Enggak kok ni aku hanya pilek, eh Wil lo lebih baik matikan ponsel lo sekarang sudah siang lo, bukannya tadi lo bila mau sanding di pelaminan entar orangtua lo marah...." ujar Lindah mulai cemas
"Aahhh tenang aja masih lama kok, lo tau sendirikan kalo emak-emak pada dandan butuh waktu lama pake banget banget, lagian gue kangen banget ni emang lo enggak kangen sama gue..." ucap Wildan kesal
Akhirnya Lindah mengalah dan mengobrol dengan Wildan, tidak terasa mereka lupa waktu telponan hingga jam dua belas siang, Lindah terkejut saat matanya menatap jam
"Wil sudah siang, da..."
mematikan ponselnya cepat dan menonaktifkan gawainya tersebut dia sadar ini salah....
Suara kak Aceng mengagetkan ku di teras..
"Emang mau kemana sih kak, aku kayak gini aja ya...."
"Iiis janganlah, mandi, dandan yang cantik dong, entar ketemu cowok cakep ilfill pula"
"Biarin.. bagus deh kalo ilfill, aku juga enggak pengen kenal cowok lagi, eh jangan bilang kakak mau comblangin aku, aku enggak mau"
"Huush, siapa juga yang mau jadi mak comblang, seingat kakak ni ya udah banyak kakak liat orang patah hati, tapi enggak ada tu seperti lo, paraaah..".
"Huuh, Kakak ini apaan sih..."
"Liat aja keadaan Lo sekarang, kucel, wajah kusut, mata bengkak sudah kayak orang gila, burun mandi udah sakit ni mata kakak liat lo"...
Aku buru-buru pergi mandi dan bersiap-siap sebelum komentar kak Aceng lebih banyak lagi bikin panas aja ini telinga....
"Kita pake sepeda motor enggak apa-apa ya dek??"
Ujar kak Aceng sambil berjalan ke arah motornya
__ADS_1
"Enggak Apa-apa kak asal enggak nyuruh Lindah dorong aja" Jawabku bercanda
"Yaa tau aja kakak bawa motor butut, hahaha"
Aku tercekat saat kak Aceng memarkir motornya, kak Aceng membawaku ke taman ini..????
Taman inikan tempat favorit ku dengan wildan, biasanya setiap hari kami menghabiskan waktu disini sambil bergandengan dan tertawa lepas tanpa beban.
"Aahh kenapa harus ada jurang antara kita Wil.."
"Dek tau enggak bedanya orang gila dengan orang patah hati???"
Suara kak Aceng dari belakang mengejutkanku cepat-cepat ku hapus Airmata ku yang menetes..
"Maaf Kakak bilang apa tadi???"
"Ah enggak lupain aja, kita duduk di tepi danau itu yuk??"
Aku mengangguk sambil berjalan nunduk mengikuti langkahnya, aku enggak berani memandang sekitar takut membuat ku semakin ingat Wildan..
"Aaahh... harusnya tadi aku enggak usah ikut, bukannya dapatin suasana baru malah semakin ingat Wildan gumamku menyesali keputusanku hari ini.
"Woiiii kok jalannya gitu, nanti nabrak orang"
Aku mengangkat kepalaku dan nyengir
"Kak kok kita kesini sih, tau enggak aku sering kesini sama Wildan, aku kan jadi ingat Wildan lagi", ujarku sambil menahan airmata ku jatuh..
"Apa Wildan lagi, nangis lagi, kakak heran deh seberapa besar sih adek mencintai seorang Wildan, sampei segitunya, tiada hari tanpa airmata, jujur aja ya kakak kecewa lihat Lindah kayak gini, sadar Lin...."
"Enggak bisa Kak, aku juga udah coba tahan, berusaha enggak ingat Wildan lagi, tapi enggak bisa, jadi aku harus gimana???? Akhirnya airmata yang dari tadi ku tahan merembes juga....
"Dek kamu sadar enggak sih kamu itu bodoh, buat apa keluarin airmata buat cowok pecundang yang udah jelas-jelas hianati kamu gitu, mencampakkan kamu haaah????"
"Enggak kak, Wildan enggak seperti itu dia hanya terpaksa melakukan itu, dia janji kok balik lagi sama aku"... Ucapku lirih sambil menangis..
"Trus kamu percaya???? Astaga kakak belum pernah ya ketemu gadis sebodoh kamu, gimana ngejelasinnya sih, gini nih Kakak ini cowok, kakak tahu hati sesama cowok, cowok itu kalo emang beneran cinta sama pacarnya apapun dia akan lakuin buat tuh cewek, termasuk menentang orang tuanya, dia akan perjuangkan hingga tetes darah penghabisan, lah cowok kamu, di jodohin iya, sama kamu lanjut iya.... Sadar enggak sih dek kamu itu di kadalin"
"Tapi kak??!"
"Naah apalagi, ngejawab lagi, bela lagi tu cowok...????!!!!"
"Enggak"
__ADS_1
"Maaf dek mungkin kakak terlalu keras, tapi ini semua demi kamu, kakak enggak mau kamu hanyut dalam kesedihan kamu yang tak penting itu, kakak mau Lindah yang dulu selalu ceria tanpa beban dan airmata, Bisa???" ujar Aceng sambil mengusap wajahnya penuh emosi