
"Untung saja gue enggak langsung setuju saat kamu sibuk comblangin gue sama Sari, gimana coba kalo iya pasti sekarang gue udah patah hati tau!?!" Seru Wildan nyerocos..
"Wildaaaaan aku lagi panik, kalo iya juga kenapa, kamu kan cowok perjuangin dong, masakan pasrah gitu, cinta apaan tu, jadi cowok kok plin plan amat sih.."
"Woooih siapa juga yang plin plan, wong kita kan belum jadian, tulaliiit"... Sahut Wildan sambil telunjuknya menempel di jidatku.
"Ooh iya ya, naah kalo gitu sekarang perjuangin dong, kamu kan masih punya kesempatan, jangan biarin Sari nikah dijodohin, aku mohooon mau ya.. ya.." Kataku memelas.
"Lindah, kamu berpikir tidak sih ini perjodohan, masalahnya orang tua, gini nih misalnya gue udah nembak Sari terus dia tolak perjodohan itu, terus batal, orang tua Sari minta aku nikahin anaknya sekarang, gimana coba, jujur aja gue belom siap nikah untuk sekarang, lagian orang tua gue pasti shock belum tentu juga beliau setujukan??? jadinya hubungan gue sama Sari bisa renggang atau malah putus, jadinya nasib Sari gimana, enggak jelas juga lagian kamu juga pasti tahu dalam agama kita melamar diatas lamaran saudara/lelaki lain itu haram, iyakan?!?!...."
Aku terdiam mendengar alasan Wildan, beneran juga, aku tidak berfikir sampei kesitu..
"Tapi Wil, aku sudah janji dengan Sari akan saatuin kalian berdua, kalo nggak berarti gue gagal, berarti gue tidak menepati janji, aku merasa bersalah sama Sari, dia sodara plus sahabat aku dari kecil, please Wil...."
"Lindah, tenang dulu, kamu enggak salah, kamu udah nepati janji kok, kamukan sudah cerita semuanya, tentang perasaan Sari sama gue, tapi ini takdir kita semua tidak sangka ada tragedi perjodohan inikan, lagian gue ini manusia bukan patung, gue juga punya hati dan perasaan, gue aja belum tahu hati gue milihnya siapa, lo udah main paksa aja harus Sari, lo tenang dulu ya, atau gini aja deh Lo masuk sholat dulu gih biar tenang dan aku nanti bicara langsung sama Sari.."
"Gimana gue tenang, masalah genting gini, kalo gitu besok kamu kesana, kamukan punya rumah juga disana, naah kamu main deh ketempatnya Sari, ajak dia ngobrol, saling curhat siapa tau kalian berdua dapat solusi" Kataku semangat..
"Iya iya gue setuju, kalo gitu besok gue berangkat ya.."
__ADS_1
"Naah gitu dong, itu baru namanya Wildan, ya sudah makasih ya semuanya, aku mau sholat dulu, tunggu dulu kamu tadi bilang hati kamu ragu, emang ada berapa gadis sih di hatimu, siapa sih??? hehe,"
" Lihat enggak nih hati gue kecil gini mana muat gadis satu apalagi beberapa, Sono sholat keburu abis waktunya nanti..." Mendengar kata-kata Wildan aku terkekeh dan beranjak masuk kedalam rumahku,
aku baru saja melepas mukena, handphoneku bergetar tanda ada pesan masuk, segera kuraih handphone diatas meja ternyata chat dari Wildan.. "Lin, mau temeni gue makan nasi goreng enggak,ayo buruan keluar"...
"Malas" Balasku entar aku lupa diri lagi..
Handphoneku kembali bergetar lagi chat Wildan masuk lagi.. "Antar kalo berubah pikiran, gue masih di depan ya, gue yang teraktir...." aku matiin handphone, tidak membalas lagi, kalo tidak bakal sampe pagi aku harus ladenin chatnya tuh anak.... Maaf Wil, aku udah janji harus nyatuin kamu sama Sari, sejujurnya aku sendiri tidak percaya dengan hatiku lagi, sepertinya hatiku telah menghianati jiwaku yang polos ini, entah kenapa aku selalu ingin dekat kamu....
Esok harinya Wildan menelpon katanya dia sudah sampei, dan sudah ketemu Sari juga, mereka sudah cerita banyak Sari mutusin terima perjodohan, itu yang terbaik katanya, aku terdiam mendengar Wildan bicara, sejujurnya aku merasa bersalah karna gara-gara aku telat comblangin mereka jadi begini....
Besok tepat hari pernikahan Sari, setelah hari itu Lindah tidak pernah menghubungi Sari komunikasi mereka putus sebenarnya Lindah sangat terkejut menerima kabar Sari menerima perjodohannya, apakah yang dikatakan Wildan hingga membuat Sari berubah pikaran, Apakah Wildan menolak Sari atau orangtuanya Sari yang tidak setuju dengan Wildan atau jangan-jangan ini semua ada hubungannya dengan Lindah.... Seribu pertanyaan terlontar dibenak Lindah tapi aku juga takut bertanya langsung dengan Sari, takut membuatnya tersinggung dan menyakitinya....
"Lindah ngapain lo kayak patung, ayo sini masuk....?!?! sebuah suara menyapa Lindah menoleh Sari tersenyum tipis, raut wajah Sari kok tidak ada tanda-tanda dipaksa ya aku bergumam bergegas menghampiri Sari..... "Sar lo baik-baik ajakan, kok lo mau nikah?!"
"Iya setelah merenungi semua akhirnya Sari putusin terima aja kemauan nyokap bokap gue jadi semuakan bahagia...." sahut Sari sambil tersenyum
"Lo sendiri bahagia?!?! terus bagaimana dengan Wildan bukannya kalian bicara apa kata dia, apa dia menolak?!?!"
__ADS_1
"Sudahlah Lin mungkin kami enggak jodoh, besok lo sama Wildan datang ya kalian berdua cocok...."
"Lo ngomong apa sih Sar, aku gagal ya jadi mak comblangnya kalian?!?!
"Enggak kok"
Sari tersenyum getir memelukku, aku rasakan butiran hangat airmatanya jatuh kepundakku.... Aku membalas pelukan Sari dan ikut menangis....
semoga pilihan kamu ini yang terbaik Sari dan kalian bahagia selamanya....
Acaranya berjalan dengan khidmat, Sari sangat cantik dan anggun dengan pakaian adatnya.... Aku menarik napasku dalam-dalam , hidup benar-benar sebuah misteri, kita tidak pernah tahu dengan siapa kita berjodoh....
Wildan menarik tanganku kepelaminan menyapa Sari dan mengucapkan selamat tidak lupa mengabadikan lewat foto, Sari tersenyum melihat kami bersama "Kalian cocok, buruan nyusul kita ya..." ujarnya sambil tersenyum dengan suaminya
"Siip, pasti itu...." jawab Wildan tersenyum, aku hanya terdiam dan berlalu setelah memeluk Sari... Wildan mengejarku keparkiran dan memberikan helmnya.... "Pake, kita pulang bareng...." ujarnya
Aku menatap kearah Wildan, raut wajahnya tidak ada sedih-sedihnya dan merasa bersalah sama sekali pikirku...
"Lo kenapa, gue terlalu ganteng ya, natap gue segitunya....?!?!" suara Wildan menyadarkanku
__ADS_1
"Enggak, lo ngomong apa sama Sari sampe mau nikah dijodohin gitu haah?! tanyaku penuh amarah
"Apaan sih lo Lin, gue enggak ngomong apa-apa juga...." sahut Wildan bingung