
Flashback:
Setelah menunggu Lindah sangat lama Wildan mulai cemas dan bertanya dengan Mila, Mila mengatakan jika Lindah dikamar mandi tadi sedang menangis, Wildanpun meminta izin menemui Lindah, setelah Mila menunjukkan sebuah kamar mandi yang digunakan gadisnya tadi, Wildan bergegas melangkah kearah sana dan mengetuknya namun tidak ada jawaban, Wildan perlahan mencoba membukanya ternyata tidak dikunci, Wildan terkejut dengan pemandangan didalamnya melihat dipantulan cermin wajah Lindah yang pucat penuh airmata sedang memegang kepalanya kemudian jatuh Wildan dengan sigap berlari langsung menangkap tubuh Lindah....
Wildan menyentuh wajah Lindah kemudian menepuk-nepuknya tapi belum juga sadar, Wildan memandangi sekeliling kamar mencoba mencari sesuatu yang bisa membuat Lindah siuman kembali, matanya tertuju pada minyak kayu putih tidak jauh diatas kepala Lindah, Wildan segera membungkukkan tubuhnya dan meraih minyak kayu putih tersebut dengan posisi wajahnya persis di atas wajah Lindah, Lindah yang mulai siuman melihat sesosok pria yang begitu dekat dengannya berteriak, Wildanpun terkejut dengan teriakan Lindah dan jadi kehilangan keseimbangan terjatuh tepat diatas tubuh Lindah, bibirnya sukses mendarat dibibir Lindah....
Lindah mendorong tubuh Wildan
"Wildaan apaan sih lo, lo ngapain dikamar aku?!"
Wildan yang tidak menyangka ini semua terjadi panik dan bingung tidak tahu bagaimana cara menjelaskannya....
"Gue tadi, lo.... Aduh gimana ngejelasinnya ya.... Gini lo tadi jatuh dikamar mandi jadi gue bawa lo kesini karena lo pingsan jadi gue cariin minyak kayu putih buat lo siuman tapi minyaknya ada diatas kepala lo jadi gue dekat lo maksudnya mau ambil terus lo sadar, marah and teriak gue jadi panik dan kehilangan keseimbangan jatoh nimpa lo...." Wildan menarik napasnya setelah menjelaskan dengan panjang lebar....
"Lo lo sudah ngambil perawan bibir aku, tahu enggak" ucap Lindah sambil menyentuh bibirnya dengan nada marah
Wildan bengong mulutnya sampai terbuka lebar mendengar kata-kata Lindah, ini anak gue sudah pusing tujuh keliling ngejelasinnya sampai mulut gue berbuih tapi Lindah bahkan tidak menanggapinya, dia malah bahas masalah bibir eh tunggu dulu apa katanya tadi.... Wildan baru mencerna kata-kata Lindah
"Sayang serius lo enggak pernah kissing?!"
"Emang kenapa kalo enggak pernah, salah?!"
"Ya enggak sih cuma gue enggak nyangka aja hari gini masih ada cewek yang bahkan bibirnya belum pernah disentuh, selama ini hidup dimana lo.... hahaha"
Wildan tertawa seakan-akan meledek Lindah cupu padahal sebenarnya dia senang banget tahu dialah cowok pertama yang kecup bibirnya Lindah....
Lindah yang kesal diledekin Wildan segitunya mengambil bantal lalu melemparnya kearah Wildan, Wildan semakin terkekeh menangkap bantal yang hampir kena wajahnya, Lindahpun semakin marah dia bangkit dan berjalan kearah Wildan bermaksud ingin memukulnya namun apa daya Lindah yang masih lemas dan pusing, kakinya tidak bisa menopang tubuhnya sendiri baru beberapa langkah dia melangkah, Lindah langsung terjatuh alhasil Wildan langsung menangkap tubuh Lindah dan menggendongnya kembali ketempat tidur....
"Sayang lo tuh masih lemah, sudah baring aja, istirahat aja ya...."
__ADS_1
Lindah hanya mengangguk lemah dan tersenyum....
Wildan yang melihat Lindah begitu patuh dan manis itu Wildan tidak tahan untuk menggodanya, diapun pura-pura mendekati Lindah mendekatkan wajahnya seperti hendak menciumnya, sangat dekat hingga Wildan bisa mendengarkan detak jantung, deru nafas dan aroma parfum Lindah yang lembut....
Wildan menghitung dalam hatinya satu, dua dia yakin dalam hitungan ketiga Lindah pasti akan langsung mendorong tubuhnya sambil marah-marah dan memang itulah yanh ditunggunya, Wildan sangat suka melihat Lindah seperti itu gemas dan sangat manis tapi tepat hitungan ketiga sepertinya Wildan salah persepsi Lindah bukannya mendorongnya, dia malah memejamkan mata, Wildan menghentikan langkahnya dan terpana hampir saja dia meraup bibir ranum itu dan menikmatinya tapi akal sehatnya mencegahnya, Wildan mundur lalu mengecup kening Lindah kemudian bergegas keluar....
Wildan sangat mencintai Lindah, dia sudah berjanji pada dirinya sendiri akan selalu menjaganya, Wildan yang bergegas meninggalkan kamar Lindah tanpa menoleh lagi kebelakang, jika dia tetap disitu Wildan takut bakal khilaf tidak bisa menahan diri dan menggoyahkan imannya bagaimanapun dia lelaki normal, Lindah gadis yang sangat polos, Wildan tidak akan bisa memaafkan dirinya sendiri jika nanti dia menyakiti Lindah apalagi sampai menodainya....
Melihat Wildan keluar dari kamar hanya terdiam, Doni berbisik dengan Wildan bertanya apakah Wildan telah memberikan gelang tersebut, bagaimana apakah Lindah menyukainya....
Mendengar kata-kata Doni, Wildan baru ingat tujuannya kesini tapi kembali lagi sepertinya juga enggak mungkin karena hingga sekarang pun Wildan belum bisa mengendalikan diri sepenuhnya, bibir ranum Lindah masih menari-nari dengan dibenaknya, jadi Wildan berjanji pada dirinya sendiri tidak akan mendekati Lindah untuk sementara takut khilaf.. Wildan memandang Dion kemudian menggeleng dan menitipkan gelang tersebut kepada Mila lalu menarik Doni bergegas pulang....
Setelah Wildan dan Doni tidak tampak lagi Mila bergegas kekamar Lindah, Mila sangat bersemangat untuk memberikan hadiah Wildan dia penasaran apa isinya tetapi Lindah sedang tidur, Mila mengurungkan niatnya dan ikut baring disampingnya Lindah....
Beberapa jam kemudian Lindah membuka matanya dan menatap Mila heran bukannya tadi Wildan yang disampingnya kenapa jadi Mila, seingatku Wildan mendekat tapi kepalaku begitu sakit jadi aku memejamkan mata dan tertidur setelah bangun Milalah yang disampingnya, berapa lama ya aku tertidur, Lindah menggaruk kepalanya yang tidak gatal....
"Kak coba lihat deh ini dikasih sama kak Wildan tadi buat kakak, ayo kak buka Mila penasaran isinya...."
"Oh ya kapan kak Wildan memberikannya????!!" tanya Lindah bersemangat langsung duduk dia juga sama penasarannya dengan Mila
"Tadi sebelum pulang, hayo kak buka"
Lindah tersenyum dan membukanya
"Wooow cantik, indah banget kak, hayo dipakai pasti sangat cantik ditangannya kak Lindah"
Mereka berdua terpana melihatnya sebuah gelang giok berwarna hijau yang sangat indah dan elegan....
"Sini kak, Mila pakaikan ya.... Cantik cocok banget ditangan kakak, kak Wildan pintar banget milihnya"
__ADS_1
Lindah tersenyum menatap gelang ditangannya, iya Mila benar gelang ini sangat cantik ditangan Lindah....
Lindah segera meraih handphone dan memotret tangannya lalu mengirimkan kenomor Wildan tidak lupa mengucapkan terima kasih
Wildan mengusap layar handphonenya melihat chat Lindah dan tersenyum senang melihat gelang ditangannya, Wildan puas dengan pilihannya Lindah yang putih sangat membuat gelang giok berwarna hijau begitu hidup warnanya ditangan Lidah cantik gumam Wildan lalu memperlihatkan ke doni yang tersenyum puas dia memang sangat yakin gelang itu akan sangat cocok ditangan Lindah....
"Wil kasih tahu Lindah dan Defi"
"Siap, kita kepantai sore ini...."
"Siap, jam berapa kita jemput?!"
"Bilang aja jam tiga"
Wildanpun segera menghubungi Lindah, Lindah yang masih asyik menatap gelang ditangannya, entah sudah berapa lama dia menatapnya Mila yang sedaritadi ikut melihatnya sudah lelah dan bosan hingga tertidur disampingnya, Lindah tersenyum-senyum sendiri sambil sesekali mengecup gelang tersebut, baginya itu kado terindah dalam hidupnya dia berjanji dengan dirinya sendiri tidak akan melepaskannya.... Handphone Lindah berbunyi dia segera meraihnya....
"Hallo Wil, makasih ya gelangnya"
"Iya sayang, tapi sukakan...."
"Suka banget, cantik"
"Syukurlah, jangan pernah dilepas ya sayang anggap aja itu pengikat cintaku padamu, hehe.... Oh ya sayang gimana jika sore ini kita kepantai, gue jemput sekarang ya...."
"Oke, aku siap-siap dulu ya sayang"
"Iya sayangku, aku mencintaimu"
Lindah bergegas membangunkan Mila kemudian kekamar mandi bersiap-siap, Mila yang mendengar kata pantai segera bangun dan lari kekamar mandi juga, setengah jam kemudian Lindah dan Mila, Wildan dan Doni pun sudah didepan pintu menanti mereka....
__ADS_1