
Aku menatap kak Aceng dan tersenyum..
"Kakak tenang aja, Aku tau kok kak posisi aku sekarang, aku tahu Wildan bukan milik aku lagi, aku juga udah janji sama kak Wina, Mila dan diriku sendiri akan melepaskan dan keluar dari dunia Wildan..
Aku hanya belum terbiasa tanpa dia kak, aku butuh waktu, dari satu tahun yang lalu Wildan selalu menelpon, message dan chat aku setiap saat kak, setiap hari 100 chat dikirimnya, tiap 1/2 jam sekali dia menelponku hingga larut malam enggak jarang hanya suara tidur nya yang aku dengar karna tidak mematikan gawainya, kami selalu jalan kemana-mana aja kak.. Tapi sekarang aku harus terbiasa tanpa itu semua, jujur kak aku tak sanggup, aku bahkan seperti orang stres jika ponsel ini tidak berbunyi dalam sepuluh menit karena selama ini dia selalu caht aku dua menit sekali....
Aku tau kak, mulai sekarang aku harus tanpa itu semua, aku juga tidak berniat kok memisahkan Wildan dengan Sienna, enggak ada sedikit pun dihati, aku masih punya harga diri untuk disebut pelakor kak.....
Karna meski aku yang dipilih hatinya Wildan tapi nyatanya Siennalah yang resmi untuknya.. Aku sudah menjadi serpihan mereka kak, tolong beri aku waktu kak untuk bisa move on"
"Syukurlah, tadinya saat lihat cara patah hati kamu, kakak takut seorang Lindah yang kakak kenal anak polos dan baik jadi beringas dan melakukan segala cara hingga merubah kepribadian mu..."
" Hahahaha...... Kakak tenang aja Lindah enggak akan berubah jadi harimau apalagi singa betina, aku masih punya hati nurani dan harga diri kak..."
"Iya, kakak percaya sama kamu, kakak udah tenang sekarang, ayo kakak antar pulang"....
"Lin tolong renungkan kata-kata kakak semua tadi ya, kamu jangan terlalu larut dalam perasaaan membuat kamu selalu sedih dan nangis, coba aja cari kesibukan, eh kamu kan dulu suka menulis cerpen gimana kalo kamu sibukkan lagi diri kamu di depan komputer.."
"Iya kak, akan Lindah coba...."
Sepulang dari taman, hatiku sedikit tenang, enggak terlalu kusut lagi, sepertinya bertukar pikiran dengan kak Aceng sedikit membuka hati dan pikiranku....
__ADS_1
Pulang dari taman aku mengingat Wildan kembali, kak Aceng benar aku harus move on, Wildan bukan milikku lagi, tidak aku tidak ingin ada airmata lagi yang jatuh hari ini, aku harus melupakan Wildan, tapi bagaimana caranya....!???!?! aku menatap sekeliling kamarku, hampir semua isi kamarku hadiah dari Wildan, aku berdiri dan segera mengambil semua yang bisa mengingat kanku tentangnya dari boneka, gelang hingga baju ku tumpuk semua jadi satu kemudian membawanya kebelakang rumah lalu membakarnya, telah selesai semua mataku beralih pada ponsel yang sedang ku genggam ya ponsel ini juga pemberian Wildan, haruskah ponsel ini juga ku buang.....?!?! Lalu bagaimana jika ada yang penting, kubuka sim cardnya melepasnya kemudian melemparnya sedemikian jauh...
Aku berharap dengan begini aku tidak bakal bisa berkomunikasi dengannya lagi....
Satu jam berlalu, aku memainkan ponsel ditanganku, apakah Wildan ada menghubungiku, jangan-jangan Wildan sedang cemas nomor aku tidak aktif, atau sekarang Wildan sedang melakukan aneh-aneh, bagaimana jika Wildan menolak melakukan semua ritual dan adat tradisi pernikahan,. bagaimana jika Wildan pergi meninggalkan acara seperti ancamannya dulu..... Dulu bagaimana ini.... aku berkeringat dingin menduga-duga, memikirkan semua yang mungkin tidak terjadi, aku berlari dengan cepat kearah simcard ku lempar mengacak-ngacak tanah sambil menangis, setelah beberapa menit akhirnya ketemu aku segera memasang kembali kedalam ponselku dan segera memeriksa ternyata benar ada chat dari Wildan
"Sayang malam ini gue enggak nginap dirumah, nginap dirumah gue...."
Lindah menjatuhkan dirinya dilantai sambil merutuki dirinya sendiri, kenapa berfikir terlalu jauh....
Satu Minggu berlalu tanpa ada komunikasi dengan Wildan, Masih membuatku gelisah memang tapi setidaknya sudah kemajuan besar untuk ku, aku mengingat kebodohanku yang dulu dan tersenyum alangkah gilanya cinta, bisa membuat kita hancur hingga jadi pengemis..
Entah kenapa sifat jahilku kambuh, ingin rasanya aku menguji perasaan ku sendiri Dengan menghubungi Wildan apakah aku akan terbawa suasana kembali atau sudah berhasil move on..
Ku ketik sebuah pesan
"Hai Wildan apa kabar.."
Beberapa menit kemudian ada balasan dari Wildan...
"Maaf selama ini aku sudah terlalu banyak dosa, gue enggak mau lagi menambahnya"
__ADS_1
What's jadi selama ini Wildan menganggap aku dosa baginya????
Sialan apa serendah itu aku untuknya..
Mulai detik ini aku Lindah bersumpah enggak akan menghubungi kamu, tidak akan pernah..
Aku menyesal telah bermain-main tadi, bukannya aku dapat menata hati aku malah sakit hati kedua kalinya.. Ku timang-timang ponsel ditanganku, ini semua gara-gara ponsel ini, aku harus melupakannya dari sekarang, titik, ku lempar ponsel pemberian Wildan sejauh mungkin....
"Wildaaan aku harus lupakan lo"
"Aku benci lo
"Wildan....
kamu tahu sehelai rambut di kepalamu bagai seiris duka dalam dekapan duniaku...."
Lima bulan berlalu, aku sudah hidup normal seperti biasa kata-kata Wildan yang terakhir benar-benar mampu merubah perasaanku dari cinta jadi membencinya..
Aku tengah Asyik di depan laptop ku saat handphone ku memberi tanda pesan, aku membukanya sambil mataku tertuju di layar laptop..
Ku lirik sesaat pesan itu, apa aku tidak salah lihat, aku memicingkan mataku dari Wildan
__ADS_1
"Lindah maafin aku ya selama ini, tolong maafin aku..."