Sakitnya Ditinggal Nikah

Sakitnya Ditinggal Nikah
EPISODE 21 Bimbang


__ADS_3

Lindah menatap Wildan yang sedang melamun, apa aku harus menceritakan mimpiku, aahhh sepertinya tidak perlu hanya akan menambah beban pikiran Wildan....


"Wil aku pamit dulu ya...." ujar Lindah sambil melangkah


"Lin tunggu kamu harus janji dulu..." sahut Wildan sambil menarik Lindah kedalam pelukannya


"Kamu janji enggak akan tinggalin aku ya, aku mohon aku enggak bisa hidup tanpa lo Lin...."


"Entahlah Wil, sepertinya kita berdua butuh privasi, kita enggak boleh egois kita harus berpikir buat semua keluarga, sebaiknya kita putus saja...." sahut Lindah menyeka airmatanya berlalu pergi


"Lin Lindah tunggu dulu...."


Wildan melempar semua apapun dekat dia, rasanya dunia tidak pernah mendukungnya, kenapa setiap dia jatuh cinta dengan seorang wanita pasti orangtuanya selalu memisahkan, apa mau orangtuanya


"Huuuh...." Wildan berteriak dengan penuh emosi dia sungguh tidak bisa terima semua....


xxxxxxxxxx


Pak Kodir bolak balik hingga berputar-putar sekitar rumah dengan wajah cemas dan berkeringat dingin, beliau adalah asisten rumah tangga Wildan, sudah puluhan tahun beliau menjaga Wildan tapi baru kali ini melihat majikannya sehancur ini, setelah beberapa hari terakhir pertemuannya dengan Lindah, Wildan mengamuk menghancurkan semua barang-barang dirumah kemudian mengunci dirinya dikamar tanpa mandi apalagi makan dia benar-benar melakukan aksi mogok, pak Kodir sesekali matanya mengarah kepintu menunggu kedatangan nyonya, melaporkan semua kejadian disini, siapa tahu ibunya Wildan mampu membujuk anaknya, beliau kasihan sekali melihat Wildan seperti orang stres menjerit dan mengamuk seperti itu.... Suara mobil memasuki pekarangan, rumah, beliau segera menyusul memastikan nyonya lah yang datang, senyum mengambang di wajah menuanya saat melihat seorang wanita setengah baya keluar dari mobil buru-buru menghampiri


"Pak Kodir bagaimana dengan Wildan, apa anakku sudah keluar kamar....?!?!"


"Belum nyonya, sudah 2 harian den Wildan mengunci diri di kamarnya tanpa makan, Nak Wildan hanya mengamuk dan berteriak-teriak...."


"Bawa aku kesana...."


"Mari nyonya...."


Bu Diah berdiri didepan kamar anaknya, beliau tidak habis pikir dengan tingkah laku anaknya seperti ini pasti ada hubungan dengan perjodohannya dengan Sienna, seperti anak kecil saja, bu Diah mengetuk Pintu kamarnya, memanggil nama anaknya dengan lembut, dia tahu betul watak anaknya dia tipe anak yang bila ngambek tidak bisa di paksa


"Wil Wildan ini mama nak, ayo buka pintunya, mama bawa makanan kesukaan kamu lo...."


Wildan mendengar suara mamanya memilih diam, dia benar-benar tidak peduli, dia hanya ingin di dengarkan keinginannya....


"Wil ayo buka pintunya, kamu belum makan kan nak, mama mau bicara sama kamu...."


"Enggak, Wildan enggak lapar ma" sahut? Wildan berteriak tanpa membuka kamarnya

__ADS_1


"Wil mama mau bicara...."


"Wildan enggak akan keluar jika mama belum merestui Wildan dengan Lindah"


"Wildan kelakuan kamu seperti anak kecil, belajar bersikap dewasalah, kami lebih tahu siapa yang terbaik buatmu nak...."


"Mama sama papa yang egois, selalu memaksa kehendak sama Wildan, Wildan bukan boneka ma...."


Mama terdiam percuma beradu argumen dengan anaknya ini, ibu Diah tahu cara mematahkan hati putra satu-satunya ini, Mama duduk didepan pintu kamar Wildan lalu menangis sejadi-jadinya, dia sangat tahu kelemahan anaknya itu pasti luluh mendengar tangis sang mama, beliau yakin itu....


Sudah lima hari berlalu tetapi anak dan mama masih bersikeras melakukan semua kemauan mereka, Wildan dengan aksi mogok makan meskipun tubuhnya sudah terasa sangat ringkih, lemah dan tiada daya lagi tapi dia tetap bertahan berharap mamanya akan luluh melihatnya, Mama dengan aksi tangisnya sambil meracau berbicara-bicara sendiri.... Lindah pun yang melakukan aksi diamnya dengan airmata yang terus meleleh di pipi sayup_sayup mendengar suara mama Wildan meminta anaknya makan sedikit saja, Linda bangun mendekatkan daun telinga ke dinding kamar, memperjelas apa yang didengarnya barusan jika Wildan sudah lima hari belum pernah makan, iya aku tidak salah dengar, Wildan mogok makan, Lindah mengingat terakhir bertemu dengan Wildan juga lima hari yang lalu setelah itu mereka putus komunikasi, ponselnya pun dimatikannya, berarti Wildan mogok makan gara-gara aku putuskan ujarnya... Lindah Mondar-mandir dikamarnya, dengan cemas dan airmata yang kian menetes, bagaimana kalo nanti Wildan sakit, bagaimana kalo sampai Wildan mati, Lindah menggelengkan kepala cepat, segala dugaan dan prasangka berkecamuk dipikirannya membuat dia tidak mampu lagi berfikir dengan jernih....


Aku mengacak-ngacak kamar mencari ponsel ternyata dibawah bantal, tanpa ba bi bu tidak berpikir lagi aku segera mengetik pesan buat wildan


"Wil kamu makan ya, aku enggak mau kamu sakit...."


Lindah mengirim chat sambil menangis


Wildan mengalihkan pandangan mengitari kamar mencari sumber suara ponselnya berdering sebuah pesan masuk, diapun berusaha dengan lemah meraih ponsel diatasnya, dia yakin itu pasti chat dari Lindah.... Wildan membacanya sambil tersenyum akhirnya Lindah menghubunginya juga, dua wanita yang sangat dicintainya sangat keras kepala, syukurlah salahsatunya luluh juga....


Aku memicingkan mata membaca balasan Wildan, otak dan pikiranku menolaknya tapi hati dan cintaku mengatakan iya, aku tak ingin Wildan sakit apalagi sampai kenapa-kenapa karena aku, bila aku harus kehilangan Wildan biarlah dengan takdir tidak berjodoh bukan sebuah kematian.... Aku mengusap airmata lalu membalas


"Baiklah, tapi kamu harus makan sekarang...."


Wildan tersenyum puas membaca chat Lindah dan meminta makanan pada sang mama


"Mah bisa bawakan Wildan makanan"


ujarnya lemah


Ibunya yang mendengar tersenyum penuh kemenangan, seketika beliau menghentikan aksi tangisnya bangkit berlalu ke dapur, mama sangat yakin Wildan akan luluh sendiri jika sudah kesusahan jadi dia tidak perlu mengalah menerima permintaan anaknya membatalkan perjodohan tersebut


Wildan mencoba mencerna makanannya meskipun dia tidak selera tapi memaksa menelannya, dia harus punya tenaga untuk bangun dan menemui Lindah, dia sungguh sangat merindukan cintanya, setelah makan Wildanpun bangkit dari kasurnya meraih handuk dan kekamar mandi, setelah itu dia bergegas keluar teras rumah dan menunggu Lindah berharap Lindah keluar supaya dia bisa melihat wajahnya lagi.... Wildan mengusap gawainya melihat chat Lindah


"Wil kamu sudah makan...."


"Sudah sayang, terimakasih ya sudah memaafkan dan menerima ku kembali, kita sama-sama berjuangb ya akan cinta kita"

__ADS_1


Lindah menggigit bibirnya, melihat chat Wildan, aku tahu ini salah Wil, keputusan ku ini sangat salah, aku telah memasukkan diriku sendiri pada bara api....


"Entahlah Wil, aku hanya tak ingin kau sakit, dan tentang hubungan kita kuharap kita bisa saling melupakan, jarak kita restu dan itu sangat tak mungkin kita dapat...."


Wildan menghela napasnya dengan berat dan berdiri melangkah dengan cepat menuju rumah Lindah kemudian mengetuknya, Lindah mengusap airmata mendengar suara ketukan pintu bergegas keluar lalu memutar handel pintu, termangu melihat sosok di depannya berdiri dengan emosi


"Wil kamu kenapa kesini....?!??!"


"Kamu sendiri kenapa ngechat aku seperti itu, maksud kamu apa??" sahut Wildan menahan perasaan


"Aku aku benarkan, kamu dijodohkan itu tandanya sebentar lagi lo akan nikah dan jadi milik sienna lalu aku, aku siapa kamu Wil, aku bukan siapa-siapa lagi, jadi lebih baik dari sekarang aku harus belajar hidup tanpa lo kan...."


Wildan terdiam mendengar keluhan Lindah, dia bahkan tidak tahu harus menjawab apa, ditariknya Lindah kedalam dekapannya, airmatanya pun menetes kenapa hidupnya seperti sangat sulit tuk dilewati


"Tidak sayang, aku enggak akan biarkan kita terpisah, apapun yang terjadi aku tidak akan pernah meninggalkanmu, kamu percaya aku kan, kamu harus percaya aku hanya milikmu selamanya...."


"Tapi Wil kita takkan mungkin mampu melawan takdir kita...."


"Takdir apa, memangnya kamu bisa melihat masa depan, setahu aku Tuhan pasti akan menolong orang yang berusaha, dan aku Wildan akan melakukan apapun buat kita bersatu apapun itu...."


"Aku juga tidak ingin dan sangat takut kehilangan kamu Wil, tapi bagaimana caranya...." sahut Lindah lesu, bagaimana caraku menjelaskan padamu Wil jika firasatku mengatakan pasti kehilangan mu...."


"Akupun tak tahu caranya Lin, tapi aku janji melakukan semampuku, asal lo janji tetap bersama ku ya, jangan pernah meninggalkanku ya...." ujar Wildan sambil menatap mata Linda yang berkaca-kaca


"Tapi jalan didepan kita itu seperti semak berduri Wil, sulit dan tak mungkin bisa dilewati.... jujur aku pesimis, apa kita harus seperti disenetron memberi alasan hamil duluan supaya direstui ya?!?!"


Wildan termangu mendengar ucapan Lindah, bahkan dia tidak pernah memikirkan sampai disitu


"Mungkin, bisa dicoba...." Jawabnya sambil memutar otak


"untuk sekarang aku tidak ingin memikirkan apapun, yang aku tahu, aku hanya ingin selalu bersama mu, bisakah kita tidak mengingat masalah tersebut, kita nikmati saja kebersamaan kita, aku mohon...."


Lindah terdiam mencoba mencerna semua kata-kata Wildan, apakah ini artinya aku sedang menjaga jodoh orang lain....


"Hai mau ya sayang, kita lupakan semua, kamu ingat minggu depan kita universery, hari jadian kita genap 2 tahun, kita harus rayakan, kamu mau kado apa sayang....?!?!" tanya Wildan dengan mata berbinar


dia sungguh tidak ingin mengingat kisah asli hidup dan jalan yang menunggunya

__ADS_1


__ADS_2