Sakitnya Ditinggal Nikah

Sakitnya Ditinggal Nikah
EPISODE 22 Menata hati


__ADS_3

ku tatap Wildan dengan sendu, Wil seandainya aku bisa memilih aku ingin sekali tetap bersama, aku sangat berharap akulah jodohmu tapi kenyataannya berkata lain, bila kau tak ingin kehilanganku bahkan aku lebih takut lagi, bahkan aku tak mampu membayangkan suatu hari nanti tanpamu bagaimana nanti ku jalani hariku tanpamu.... ku seka airmataku yang mulia menetes, tidak aku aku tidak bisa lemah dihadapan Wildan aku harus pura-pura kuat....


"Sayang aku mohon bantu aku lewati ini semua, hanya kamu yang bisa menemaniku lewati semua cobaan hidupku ini, aku mohon bantu aku lewatinya...." ujar Wildan sambil menggenggam erat tangannya dengan airmata yang menggantung di pelupuk mata, Lindah yang melihat pemandangan seperti itu tak kuasa menolak semua kata-kata Wildan, meski pikiran menolaknya tapi hatinya lagi dan lagi selalu memaksanya mengangguk, entah kenapa aku selalu lemah didepan lelaki yang sangat kucinta ini....


Wildan mencium tangan dan kening Lindah setelah melihatnya mengangguk tanda setuju, berterimakasih kemudian pamit pulang setelah kepergian Wildan, Lindah mencaci-maki dirinya sendiri yang bahkan tak bisa menentukan sikap sendiri, meratapi semua kebodohan dia sangat sadar, pilihannya hari ini telah membawanya ke jurang penyesalan yang sangat dalam....


Ku lirik jam ditanganku udah pukul 17.30, aku bergegas mandi, sholat tak lupa makan malam dengan ibu dan kak Wina....


"Sayang kamu sehatkan, kok ibu perhatiin beberapa hari ini kamu lebih pendiam dari biasanya, kunci diri di kamar, tuh juga mata kamu selalu sembab, apa anak ibu ada masalah???" Tanya ibuku lembut.


Ternyata ibu memperhatikan tingkah anehku selama ini.


" Aahhh, ibu biasa aja kok, Lindah enggak kenapa-kenapa, cuma malas aja jadi Lindah suka nonton sinetron Bu sampe baper ikut nangis jadi gini deh" Sahutku tersenyum menunjukan mataku yang sembab, maafin Lindah Bu terpaksa berbohong, aku enggak mau ibu jadi khawatir.


Ibu ikut tersenyum dan meneruskan makannya.


Setelah selesai makan juga beresin semuanya aku pamit pada ibu masuk kamarku, kak Wina duduk disampingku sambil menatapku dengan cemas


"Lin apa ada yang ingin kamu ceritain sama kakak...."


"Enggak kak, Lindah enggak kenapa-napa kok...." sahutku menunduk


"Kamu yakin, mungkin kakak tak bisa bantu kamu tapi setidaknya kakak bisa meringankan beban kamu, kakak enggak tega lihat kamu seperti ini...." Ujar kak Wina dengan suara parau


Aku menatap kak Wina, iya kak Wina benar mungkin dengan bercerita bisa membuatku bernafas


"Kak, Wildan dijodohkan....?!?!"


"Haah, lalu Wildan gimana?!?!" Tanya kak Lindah menyelidik

__ADS_1


"Dia nolak meskipun keluarganya menentangnya namun Wildan memintaku tetap bersamanya, menurut kakak harus gimana....?!"


"uuuhh, Lin apa kakak bisa memberi kamu saran.....??!!" sahut kak Wina menarik napas panjang


"Silahkan kakak...."


"Kamu ingat kecelakaan ibu dan ayah dulu....?!?!!"


"Iya ingatlah kak lalu apa hubungannya dengan masalah ini....?!" ujarku tak mengerti kemana arah pembicaraan kak Wina


"Sebenarnya saat ayah kita kecelakaan dan ibu harus operasi tapi waktu itu usaha ayah sedang bangkrut dan tak punya penghasilan sepeserpun, ayah terpaksa meminta bantuan pinjaman uang kepada papanya Wildan dengan jaminan rumah kita, yaa anggap saja ini sebagai tanda terimakasih balas jasa kita kepada keluarga Wildan...." ujar kak Wina suaranya tercekat menahan perihnya hati harus mengatakan itu semua, namun hanya ini satu-satunya cara supaya adiknya ini tidak semakin hancur merasakan sakitnya ditinggal nikah, dia sadar mereka tidak mungkin bersatu


"Maksud kakak, aku harus balas jasa dengan mengorbankan perasaanku kak, apa tidak ada cara lain?!?!" ucap ku dengan suara nyaris menghilang, apa semahal ini harga sebuah tanda terimakasih itu....


"Maafin kakak Lin, kakak harap kamu bisa mengalah demi kebaikan bersama, kakak yakin jika kalian memang berjodoh Tuhan pasti menyatukan kalian bagaimana pun caranya namun jika tidak, Tuhan pasti sudah menyediakan jodoh yang terbaik buatmu, tidur lah jangan terlalu banyak berfikir kamu masih kecil, terkadang hidup tak harus selalu sejalan dengan keinginan kita sayang...." ucap kak Wina sambil membelai rambut panjang ku


Aku hanya bisa mengangguk pelan tanpa harus menjawab apa, kata-kata kak Wina seperti pahatan di hatiku sakit namun tak berdarah, semahal itukah sebuah tanda balas jasa lalu bagaimana dengan Wildan, apakah tanda terimakasih itu dengan harus mengantarnya kepelaminan.... Lindah menarik rambutnya sendiri merasakan pusing yang begitu sakit, rasanya kepalanya mau pecah....


Lindah bangun pagi dengan wajah muram, semalaman dia tidak bisa tidur mengingat semua percakapan dengan kak Wina, aku tahu suatu hari nanti pasti kehilangan Wildan tapi harus secepat ini kah?!?! dari lubuk hatinya yang paling dalam sungguh aku tak rela, dan belum sanggup kehilangannya, meski dalam mimpi sekalipun, aku keluar kamar mencoba mencari suasana yang bisa membuatku sedikit bernafas, aaghh kemana aku melangkah namun pikiran ini tetaplah akan Wildan.... bukankah minggu depan genap setahun hubungan mereka, apa aku nikmati saja sisa kebersamaan ini dengan Wildan, membuat kenangan indah sambil belajar hidup tanpanya meskipun aku tahu aku mungkin tidak akan sanggup kehilangannya....


Tuhan tolong bantu aku....


Lindah mengangguk setuju dengan kata hatinya untuk menikmati sisa kebersamaan mereka, mengantar Wildan ke pernikahanya setelah itu dia akan mundur teratur dengan membawa semua kenangan Wildan....


Linda mengusap ponselnya saat nada chat masuk dari Wildan


"Sayang coba keluar sebentar deh, aku punya kejutan buatmu...."


Aku tersenyum melangkah kan kakiku dengan ringan, sebaiknya aku memikirkan universery terakhir kami saja, selanjutnya nanti saja.... aku menghempaskan tubuhku pada sofa sambil tersenyum memikirkan hadiah kejutan apa yang akan Wildan berikan padaku, senyum dibibir ku belum menghilang saat mataku tertuju pada sebuah benda berbentuk seperti undangan pernikahan bersampul biru, ku

__ADS_1


bangkit berdiri meraih kartu bersampul biru dengan motif sederhana namun terkesan mewah tersebut, ku baca nama diatas kartu undangan bertinta emas itu seketika tanganku gemetar, mulutku terkunci, tenggorokan tercekat, jantung pun seperti berhenti berdetak membaca sebuah nama "Wildan & Sienna"


Apa Wildan, ini undanganya Wildan, jadi mereka menikah se...secepat ini, aku mencoba menghapus keringat dingin di pelipisku, dan menyeka air mata yang mulai jatuh melanjutkan membacanya "minggu, 16 April..." ini.... inikan tanggal dan hari universery kami, inikah kejutan yang Wildan maksud......


Aku menatap kartu tersebut ditanganku, tak bisa melanjutkan kembali membacanya, mataku sudah buram kabur dengan airmata.... Aku bahkan tidak tahu melakukan apa, kertas ditanganku terjatuh saat sebuah suara salam mengagetkan ku, aku mengalihkan pandanganku ke sumber suara, Wildan berdiri didepan pintu sambil tersenyum manis dengan sebuah hadiah ditangannya, mataku nanar menatapnya bahkan aku tak tahu harus bahagia atau menangis semakin kencang melihat sosok Wildan itu....


Wildan menghampiriku sambil menyerahkan kado dan berbisik kata kejutan, aku mencoba tersenyum sambil kaki ku meraih undangan dan menggesernya berusaha menyembunyikan undangan tersebut namun sial Wildan keburu melihatnya dan menarik undangan tersebut


"Ini, dimana kamu dapatkan....??" tanyanya dengan suara gemetar


"Aku aku melihat nya dimeja itu...." sahutku sambil menggigit bibir menahan tangis


"Huuh sial, aku sudah bilang sama papa supaya tidak ada satupun undangan masuk kerumah ini, tapi bagaimana mungkin ini bisa..."


Aku mengangkat kepala terkejut dengan kata-kata Wildan, emosi dan kehancuran hatiku menyatu dan tak bisa lagi ku atur emosi


"Jadi maksud kamu tahu akan nikah Minggu depan, dihari jadian kita, lalu kenapa kamu meminta aku tetap bertahan, kamu sengaja menyembunyikan ini semua?!?! hari ini aku sungguh merasa wanita paling bodoh di dunia ini


"Enggak bukan gitu sayang...."


"Lalu apa, kamu anggap aku pelarian atau tempat berteduh gitu, aku enggak sangka ya kamu benar-benar picik, kamu pecundang, kamu cowok plinplan tau enggak?!?!" ujarku membabi buta


Wildan menghempaskan kursi di depannya dan berteriak


"Kamu anggap dirimu kamu korban, lalu kamu anggap aku apa.... apa lo enggak pernah mikir perasaan aku sendiri gimana haah....?!!!!" jawab Wildan dengan suara tinggi


Linda terdiam tanpa berkata-kata apalagi, ketakutan melihat sikap Wildan seperti seorang yang tak dikenalnya


Wildan menatap Lindah dengan tajam

__ADS_1


"Kamu anggap aku pecundang kan, iya lo benar, gue emang cowok pecundang yang bahkan tak bisa memperjuangkan gadisnya.... Aku cowok plin-plan ya aku cowok yang paling menyedihkan yang bahkan tidak bisa menentukan pilihannya, iya aku cowok yang tidak bisa memilih cintanya sendiri hu hu hu... kamu benar Lin, aku cowok yang tak berguna, aku laki-laki yang tak berguna dan tidak memiliki harga diri.... aku memang tidak pantas buatmu" ucap Wildan menjatuhkan tubuhnya disofa sambil menangis....


Lindah terhenyak dan terjatuh disamping Wildan tak tahu harus menjawab apa hanya airmatanya yang semakin deras


__ADS_2