Sakitnya Ditinggal Nikah

Sakitnya Ditinggal Nikah
EPISODE 28 Masa kelam part 2


__ADS_3

"Maaf ya nak, ibu tak bermaksud memaksamu, ibu hanya kasian dengan nak Wildan, sudah tiga tahun ibu mengenalnya ibu enggak pernah melihat dia tersenyum dan sebahagia seperti tadi makanya saat nak Wildan minta tolong, ibu enggak berpikir lagi menerimanya."


Ujar Bu Sur dengan mata berkaca-kaca, sepertinya ibu ini tahu apa yang ku pikirkan dan aku terlalu garang tadi.


"Enggak apa-apa kok Bu, maaf bu tolong katakan pada Wildan, Lindah enggak bisa datang, maaf aku tidak mau lagi memperkeruh suasana, yang kita anggap baik belum tentu penilaian orang seperti itu, aku ini gadis dan Wildan sudah punya istri nanti orang yang melihat kami akan banyak spekulasi, aku enggak mau ada fitnah lagi".


Jawabku panjang lebar mencoba menjawab sebijak mungkin untuk tidak mendahulukan emosi ku, orang tua di depanku ini tidak tahu apapun tentang kami.


"Ibu tahu kok semua kisah kalian, Wildan setiap hari selalu bercerita tentang kalian selama tiga tahun ini"


Deg, ibu ini sepertinya benar-benar mengetahui semua isi hati dan uneg-uneg ku, dukun apa ya, aku hanya diam seribu bahasa, tanpa ku pinta ibu Sur kembali bercerita..

__ADS_1


"Ibu ini mulai bekerja dengan tuan papanya nak Wildan menjaga rumah dan kebun beliau di situ noh sambil menunjuk di seberang sana, ibu juga setiap hari selalu ke rumah nak Wildan untuk bantu-bantu mama dan istrinya, nak Lindah tahu, dari awal mereka menikah nak Wildan selalu dingin dengan istrinya setiap hari dia hanya menghabiskan waktunya di rumah yang kami tempati itu, berdiam diri tanpa berkata-kata, dia seperti orang linglung dan stres, beban yang sangat berat dipikulnya, jujur saja ibu kasian sekali melihatnya seperti itu. Ibu selalu mencoba mengajaknya bercerita akhirnya nak Wildan menceritakan semua" ..


Beliau berhenti berbicara dan menatapku sendu...


"Nak Lindah maafin ibu ya, ibu tidak bermaksud membuka masa lalu kalian, nak Wildan benar-benar mencintai nak Lindah tapi demi keluarganya dia harus menjalani ini semua"...


Aku tersenyum dan menggenggam tangan Bu Sur....


Beliau mengangguk cepat dan kembali meneruskan ceritanya


"Setiap hari nak Wildan hanya menyebut nama nak Lindah dan mengatakan maaf maaf mengingkari janjinya sendiri, sudah seperti wong edan tapi enggak ada satupun keluarganya yang mengerti dia, setiap pagi dia selalu kesini dan pulang jika sudah sore mengasingkan diri seolah-oleh menghukum dirinya sendiri atas kesalahan nya, tak jarang ibu melihat airmata nak Wildan mengalir, cintanya pada nak Lindah sungguh sangat kuat.."

__ADS_1


Ingin rasanya aku berteriak dan mengatakan bagaimana dengan perasaan ku, bagaimana hancurnya aku, bagaimana sakitnya hatiku setelah Wildan mencampakkan ku, bagaimana aku berjuang bangkit tanpa Wildan dengan setiap saat airmata mengalir menangisinya, tapi suaraku tercekat tertahan di kerongkongan, tidak, aku tak boleh berkata-kata apapun cukup jadi pendengar setia saja, jika aku bercerita maka ibu Sur pasti menyampaikannya pada Wildan, dan akhirnya bisa-bisa kami CLBK lagi tidak semua sudah berakhir dan cukup sampai disini...


"Alhamdulillah sekarang nak Wildan sudah bisa menerima istrinya dan sudah hamil, nak Lindah juga sudah bahagiakan, oh ya dulu pernah tuan bertanya bagaimana keadaan nak Lindah, ibu jawab pasti baik-baik saja hanya sakit hati, siapa yang tidak sakit harus dipisahkan..."


Tuh kan endingnya, untung saja tadi aku enggak keceplosan dan menangisi Wildan ternyata oh ternyata dia sudah bahagia dan akan punya anak, aku bersyukur tadi tak sampe curhat juga..


"Meskipun nak Wildan sudah bersama istrinya tapi ibu enggak pernah melihat senyum nak Wildan semanis tadi, dengan mata berbinar dan wajah yang sangat ceria saat menceritakan bertemu nak Linda".


"Cukup, Bu maafin Lindah ya, aku harus pergi dulu ada janji, sekali lagi maaf ya bu"


Aku buru-buru mengakhiri pembicaraan kami, cukup, sudah cukup yang ku dengar aku tak ingin mendengar kan yang lain lagi aku takut hati ku terbelah lagi....

__ADS_1


__ADS_2