School Myth: When Lies Become Reality

School Myth: When Lies Become Reality
10. Lo itu Islaini?


__ADS_3

Pukulan smash yang amat keras membuat April yang berjaga di barisan belakang merinding. Bukannya menerima smash, ia justru ngacir ke belakang garis sambil melindungi kepala dengan kedua lengannya. 


"Citra, mukulnya yang biasa aja, bisa 'kan?" pekik April setelah berhasil menghindari bola voli yang kini menggelinding di pinggir lapangan. 


"Enggak bisa, Pril. Lo juga kenapa pake ngehindar? Bola tuh enggak bikin mati kali!"


"Emang enggak mati, tapi memar!" bantahnya kesal, lalu kembali ke dalam garis 


Teman-temannya yang lain kembali ancang-ancang menerima service dari tim Citra. April ogah-ogahan menyatukan dua lengannya. Tetap saja, saat bolanya melayang ke arah lapangan timnya, April langsung berlari ke arah yang pastinya bukan tempat bola itu akan mendarat. 


"April!" seru teman-teman setimnya kesal. 


"Tim Citra serem banget ih, gak adil!" 


"Elo yang cemen!" sahut Citra seraya melempar bola voli ke rekannya yang akan melakukan servis. 


Baru saja gadis yang berdiri di daerah servis mengayunkan tangannya, Pak Sujino membunyikan peluitnya di pinggir lapangan. Alhasil, seluruh kepala menoleh ke arah Pak Sujino dan tak memerhatikam arah bola itu melambung. 


Buk! 


"Astaghfirullah!" April langsung oleng setelah bola itu tepat mengenai dadanya. Nyerinya luar biasa. 


"***** lo gapapa, Pril?" Dia menyebut bagian tubuh sakral milik wanita. April langsung menoleh ke sumber suara. Matanya mendelik melihat Citra seolah sahabatnya adalah alien jahat yang datang ke bumi—Adu du. "Cit! Mulut Citra kenapa sih! Yang di sini 'kan bukan cewek aja!" April menutup mulut Citra dengan tangan kanannya.


Siswa yang mendengar pertanyaan impulsif dari Citra hanya cekikikan sambil melepas tali net dari tiang. 


Gadis itu segera memukuli lengan Citra keras. "Heh, gue gak sengaja! Aduh, lo mukulnya pake tenaga dalam, ya?!" Keduanya berada dalam dunia mereka sendiri, bertengkar dan saling beradu argumen melupakan keberadaan teman-teman dan guru di sekitar.


"Kalau udah beres semuanya, cepet ganti baju. Anak kelas XI mau makai lapangannya ini!" teriak Pak Sujino dan langsung meninggalkan lapangan. 


"Nyeri banget, Cit," ringis April berjalan tertatih-tatih. 


"Iya, gue tahu sakit, tapi jangan alay kali, April. Yang sakit dada lo, kok, kaki lo yang pincang." April mengulum bibirnya dan menatap Citra dengan mata berair. 


"Malah nangis. Cupcup, ganti baju yok," ujarnya sembari memegangi kedua pundak April. 


Kurang dari sepuluh meter lagi, kelas X IPA 3, tempat tasnya yang berisi seragam dapat ia capai. Mendengar suara ribut-ribut yang familiar di telinganya, kepala April langsung menoleh. Ia mendapati Husain dan temannya sedang melirik-lirik kemari seraya mengatakan, "Cie, itu pacarnya enggak disapa dulu, Sen?" 


Ah ya, jam penjaskes XI IPA 1 tepat setelah jam penjaskes X IPA 3 habis. April langsung menegakkan punggung saat sang pacar berjalan ke arahnya bersama Arais mengekor di belakang. 


"Gimana pelajaran olahraganya?" 


"Baik, hehe." Sebenarnya, April gugup, takut Citra—temannya yang punya mulut akhlakless—akan bocor dan menceritakan soal insiden bola yang mengenai anu-nya. 


"Ya udah, bye," ujar Husain lalu menarik paksa Arais menjauh.  


April melambaikan tangannya heboh. Seakan nyeri yang tadi ia rasakan hanya mimpi belaka. Lalu, saat Husain tak menoleh lagi ke arahnya, gadis itu beralih menatap sahabatnya. "Kok tumben mulut Citra diem?" 


Hening. Citra bergeming, hanya menatap lurus ke arah punggung Husain dan Arais. April sudah mencoba memanggilnya berkali-kali. Tapi, sahabatnya hanya diam. Jangan-jangan kerasukan pula? 


"Citra jawab ih! Jangan bikin April takut!" 


"Hah—apa?" Akhirnya, Citra sadar dan menatap April tepat.


"Citra kenapa sih? Jiwa Citra abis melayang ya?" 


"Kok lo tahu jiwa gue barusan terbang?" 


"Oh, bener? Kenapa balik lagi?" Raut wajah April tampak kecewa. 


April menebak, sahabatnya akan marah atau memukulinya pelan karena candaan itu, seperti kebiasaan mereka. Tapi, Citra justru menanggapi perkataan April dengan senyuman aneh sambil berkata, "Soalnya kalau jiwa gue gak balik lagi, kasian kakak itu. Enggak dapat jodoh." Telunjuk Citra menuju ke arah Husain dan teman sekelasnya. 


"Citra mau nikung Kak Husain dari April?!" 


"Bukan, bego! Temannya yang ganteng tadi!" ujarnya seraya memukul pundak April pelan, "Jatuh cinta padangan pertama gue, Pril," sambungnya. 

__ADS_1


Perasaan kemaren April tawarin biar kenalan sama Kak Arais, teman Kak Husain yang paling ganteng, dia nolak. 


"Citra gila, ya?" 


"Iya, gila karenanya," ujar gadis itu dengan senyuman kasmaran. Oke fiks, Citra gila. 


April mengulurkan telapak tangannya dan menempelkannya ke dahi Citra, lalu memasukkannya ke ketek. "Ih, pantesan. Sama." 


***


Kegilaan Citra hari itu tak berhenti begitu saja. Saat mereka memasuki kelas untuk mengambil seragam, Citra terus bergumam membayangkan kakak kelas teman Husain. 


"Namanya siapa, Pril?" 


"Kalau enggak salah, Kak Arais," jawabnya. 


"Oh, Kak Arais. Gue liat mukanya aja udah bisa bayangin gimana muka anak gue sama dia." Mendengar ucapannya, April jadi ketularan membayangkan tentang anaknya dan Husain juga. 


"Asik ya, kalau nanti kita punya anak terus anaknya dijodohin kayak di film-film. Dijamin anak cucu gue goodlooking." 


Halu Citra semakin nyeleneh. April harus segera bertindak sebelum temannya menjadi semakin parah hingga tak dapat disembuhkan! 


Gadis itu memaksa sahabatnya untuk duduk di atas meja, Citra menuruti kemauannya. Lalu, ia mengusap kulit kepala Citra seraya membaca, "Al-Fatihah, bismillahirromanirrohiim, alhamdulillahi—"


"HEH! Bukan setan gak perlu diruqyah gue."


*** 


Setelah selesai mengganti seragam, April duduk di kursi dari semen di depan kelasnya. Dan menatap punggung Husain yang basah oleh keringat. Lelaki itu berteriak meminta pass dari teman-temannya saat bermain basket. Ia melakukan dribbling setelah mendapat bola, dan begitu mencapai jarak yang bagus dari ring basket, Husain melompat dan melempar bola hingga mencetak poin. 


Rekan satu timnya bersorak gembira. Mereka melanjutkan permainan dengan seru. April bahkan terbawa suasana permainan meski tidak memahami aturan basket serta teknik bermainnya. 


"Sumpah, Kak Husain kalau diliat-liat makin ganteng. Pacar April ker—"


Belum sempat April bertanya, gadis itu sudah terlebih dulu memperkenalkan diri. "Aku Nina dari XI IPS 5." 


"Aku belum tanya, sih." 


"Belum artinya akan, kan?" 


April merasa aneh dengan gadis di depannya ini. Nada bicaranya datar banget, bahkan robot atau google pun kalah datar darinya. 


"Kenapa—" Lagi-lagi, belum selesai April bicara, gadis yang bernama Nina itu memotongnya. "Aku melihatmu saat di bawah pohon beringin dari balik kaca perpus." 


April mengerjap cepat dengan mulut melongo. Ia baru sadar kalau di samping pohon beringin adalah ruang perpus. Dia pikir, tidak akan ada yang melihat. Rasanya ingin menenggelamkan diri saking malunya. 


April menutup wajahnya yang semerah tomat dengan kedua telapak tangan. 


"Kalau begitu, kau percaya kalau mitos itu sungguhan?" 


Jika April mengiakan, kesannya April freak banget enggak, sih? "Dibilang percaya sih, enggak juga ... ya."


"Enggak perlu bohong. Udah pasti percaya, kok. Syaratnya begitu." 


"Syarat?" tanya April. 


"Syarat mitos itu ada dua, pertama, harus percaya mitosnya beneran, kedua, harus dilakukan tanggal 1 April." 


"Eh, ada yang begituan, toh?" 


Nina mengangguk. April sedikit bingung. Darimana Nina tahu soal mitos dan syarat-syaratnya itu? 


Dan seakan mengetahui apa yang ingin ditanyakannya, Nina menjawab, "Ada artikelnya di blog berita SMANDUGA." 


April hendak mengatakan sesuatu, tapi, untuk ke-sekian kalinya, Nina memotong ucapannya dan berkata, "Semoga lancar hubungannya. Jaga dia baik-baik." 

__ADS_1


Lalu, gadis itu berjalan menjauh. Baru beberapa langkah, Nina berbalik. Kebetulan, April masih menatap gadis itu seksama. Disertai senyuman indah, ia berujar, "Kalau butuh bantuan tentang mitos itu, cari saja aku." 


***


 "Asik, bel pulang!" Kira-kira seperti itulah jeritan siswa-siswi di benak mereka setelah bel tanda pelajaran terakhir telah usai berbunyi. 


Husain menata bukunya di dalam tas, merogohnya untuk mencari kunci motor. Setelah menemukannya, Husain ke luar kelas dibarengi dengan teman-temannya yang buru-buru hingga rela berdempetan di pintu. 


Di parkiran, motornya dan teman-teman sepergaulannya diparkirkan berdekatan. Selagi menunggu barisan motor di belakang mereka mundur dan ke luar, mereka menggunakan kesempatan itu untuk mengobrol. 


"Enak nih. Biasanya bonceng angin, sekarang ada beratnya." 


"Hah?" Husain mengernyit tak paham akan celetukan Ujang. 


"Maksudnya, sekarang lo ada boncengan, Sen," sahut Arais menjawab kebingungannya. 


"Lah, gue bonceng siapa emang?" 


Jawaban Husain membuat seluruh teman-temannya menoleh dengan delikan tajam. 


"Buset, temen gue." 


"Lo tuh kok bego dan gak pekaan banget, Sen?" Kipli menggeleng heran. Husian pintar banget, tapi kok masalah pacaran, perempuan, dan *****-bengeknya ilmunya cetek banget. 


"Apaan? Buruan jalan aja deh, belakang udah kosong itu." 


"Bentar dulu!" Arais menahan spion motor Husain. 


"Apa lagi?" 


"Nih ya, gue kasih lo kiat-kiat berpacaran sebagai orang yang lebih berpengalaman."


"Ogah gue dapet wejangan dari playboy. Gue gak berpengalaman bukan berarti enggak profesional." 


"Nyesel entar lo!" 


"Dengerin Arais, Sen!" Ujang menyahut sambil menyalakan motornya. 


"Ya udah. Apa?" tanya Husain malas. 


"Denger ya, lo sebagai pacar yang baik itu harus bisa antar-jemput pacar lo. Minimal pulang bareng, deh!" 


"Pacaran aja ribet banget." 


"Dinasehatin malah ngeyel lo, ya!" Arais memukul helm Husain yang terpasang di kepalanya. 


Meskipun begitu, nyatanya Husain melakukan sesuai nasehat Arais. Ia berhenti di depan gerbang. Sosok April didampingi dua temannya di sebelah kiri-kanan tampak berjalan ke arahnya. 


"Kak Husain kenapa nungguin di sini?" 


"Oh itu ...." "Gue mesti ngomong apa?"


April teringat akan Citra dan Isla di sebelahnya. "Kak, kenalin sahabat April," ujarnya menunjuk Citra dan Isla bergantian. Benar-benar menolong kekosongan otak Husain.


"Ini Citra." 


"Hai, Kak," sapa Citra santun. 


"Ini Isla." 


"Hai," sapa Isla. Husain tampak lebih lama menatap Isla, seakan mencoba menarik memori lamanya untuk keluar.


"Lo itu Islaini, kan?" 


Deg.

__ADS_1


__ADS_2