
"Pril, mampir ke kafe dulu ya. Mau ketemu temen-temen gue bentar," kata Husain saat lampu merah menyala.
Anggukan April membuat helmnya dan Husain bertubrukan. Keduanya mengaduh bersamaan. "Maaf, Kak. April ngangguknya kekencengan," ujarnya sembari membetulkan posisi helm.
"Iya, Pril. Santai aja."
Motor Husain melaju di jalan raya setelah lampu lalu lintas berubah hijau. Beruntung, mereka pulang dari mall sebelum jam pulang kerja, sehingga waktu yang dibutuhkan untuk sampai ke kafe tidak begitu lama.
Husain memarkirkan motornya di depan Kafe Senja, kafe langganannya dan teman-teman. Setelah melepaskan kaitan helm, April mengikuti Husain yang telah lebih dulu memasuki kafe. Seperti namanya, kafe itu mengusung tema senja. Wallpaper dinding kafe bergambar sunset, lampu-lampu yang menggantung di atap kafe berbentuk matahari yang mengeluarkan cahaya oranye yang estetik. Lantai, meja dan kursi kafe terbuat dari kayu yang telah dipelitur.
Husain meminta April duduk di kursi yang letaknya dekat dengan pintu masuk selama menunggu. Lelaki itu berjalan menuju enam sahabatnya yang seperti biasa, di tangan dua di antaranya memegang rokok sementara empat yang lain memegang segelas kopi. Ujang, lelaki dengan jambul panjang, melambaikan tangan menyapa Husain.
"Gue liat-liat di depan pintu ada cewek cantik tuh," ujar Kipli jahil.
Sontak, mereka—termasuk Husain—menoleh ke arah pintu masuk. Ekspresi Husain yang santai sekejap berubah datar dan alisnya berkerut. Enam temannya justru bersiulan, menggoda temannya yang kepalang bete.
"Ada yang bawa pacar nih, ke tongkrongan kita. Tumben." Kipli mengompori.
"Bisa diem, gak?" tegas Husain seraya menarik kursi dengan kasar, menimbulkan suara berisik karena gesekan antara kaki kursi dan lantai.
Meski Husain sudah memasang muka masam, teman-temannya masih tak berhenti tertawa. Ingin rasanya Husain menjitak satu per satu kepala mereka. Padahal yang menyuruhnya mengajak April kencan kan mereka. Kok malah dia diledekin lagi. Emang enggak ada yang benar di mata enam temannya itu.
Butuh waktu sekitar lima menit hingga tawa mereka reda dan habis ditelan keheningan. Arais telah berhenti tertawa, tapi alis tebalnya dinaik-turunkan sambil menatap Husain jahil. Apa coba keuntungannya godain Husain? Husain enggak ngerti kenapa teman-temannya hobi banget ngejahilin dia. Pas jomlo dijahilin, pas udah punya pasangan tetap dijahilin juga. Untung, Husain orangnya sabar.
"Berarti lo ikut saran kita, dong. Cie, kerasa belum enaknya pacaran?" Arais menyangga dagunya dengan tangan kanan.
"Biasa aja," jawab Husain datar.
Enam lelaki yang mengelilingi satu meja yang sama dengan Husain menyorakinya seakan Husain adalah pecundang. Ujang bahkan terang-terangan memberinya jempol yang mengarah ke bawah.
"Gue gak percaya, sih." Arais mengusap dagunya yang mulus tanpa jenggot semili pun.
"Sama, gue juga," sahut yang lainnya.
"Tahu nih, Husain. Sengaja ya lu jawab biasa aja? Kesannya kek nyindir gue, Kipli, Reno sama Ujang. Secara kita berempat kan jomlo," ujar Cito.
Husain mengernyit tidak paham akan logika teman-temannya. Darimananya dia menyindir?
"Heh, gue lagi pdkt sama adek kelas ya, To. Jangan salah lu," ujar Ujang tak terima.
"Mana ada adek kelas yang mau sama lo, Bambang!"
__ADS_1
"Sembarangan. Gue punya pesona yang tidak terelakan kali." Ujang membusungkan dada seakan itu mampu membuat tubuh kurusnya lebih gagah.
"Terserah, deh. Masih pdkt kan? Belom jadian. Ya sama aja kek kita, jomlo."
Baru Ujang membuka mulut hendak mendebati perkataan temannya itu, Kipli memotong dengan berujar, "Arais juga jomlo kali, kan baru putus."
Mereka refleks menatap Arais, lelaki yang dibicarakan Kipli. Lelaki itu cuman nyengir dan bilang, "Ceweknya sekelas sama Kipli dan heboh pas jam istirahat tadi. Makanya tuh anak tahu."
Enam orang yang mendengar ucapan Arais yang terdengar sombong dan sok cassanova sekali, mendecih jijik.
***
Husain tampak kembalu setelah mengobrol cukup lama dengan teman-temannya. April menatap pacarnya itu dengan senyuman lebar.
"Pulang, yuk."
Akhirnya pulang juga.
"Enggak makan dulu?"
"Laper?"
"Yaudah, nanti di tempat lain aja." Males di sini banyak saiton ngintip.
"Siap, Kak!" jawab April bersemangat.
Senyuman April luruh berganti dengan tatapan penasaran akan enam orang yang duduk berbalik ke arahnya. Mereka melambaikan tangan kuat-kuat disertai senyuman lebar ... yang agak mencurigakan. April menunjukkan cengiran kaku dan melambaikam tangan membalas mereka. Kala itu, ia baru menyadari, bahwa teman Husain memiliki wajah yang cukup memesona.
Husain menarik tangannya ke luar kafe. Kepala April masih menatap enam orang itu tak berubah arah. Butuh Husain menarik kepalanya untuk menghadap depan agar gadis itu berhenti menengok ke belakang.
Dengan kikikan kecil, April tak sengaja berkata, "Temen Kak Husain ada yang ganteng ya." April terperanjat mendengar dirinya sendiri keceplosan mengatakannya. Secepat kilat, ia meralat ucapanya dengan tergagu. "Ta-tapi gantengan Kak Husain, kok, hehe." April tersenyum menampakkan deretan gigi rapinya.
Ujung bibir Husain berkedut. 'Hehe' milik April ternyata memberi damage yang cukup aneh untuknya. Gemas. Husain menggelengkan kepalanya kuat. "Mikir apa gue barusan."
***
Mulut April melongo menatap Abang yang memasak nasi goreng di wajan besar—mungkin sebesar perut ibu hamil sembilan bulan—dengan lincah. Aroma bawang dan bumbunya memasuki penciuman April. Jadi, makin enggak sabar buat makan. Di sebelahnya, Husain menunggu sambil bertopang dagu. Di tangannya, layar ponsel dengan kecerahan nol menampakkan beranda instagram.
Saat Abang itu menyajikan nasi gorengnya ke meja, April bertepuk tangan gembira. Ia mengambil garpu dan sendok, lalu menoleh ke arah Abang yang sedang berjalan menuju meja di sebelahnya. "Makasih, Bang." Abang itu hanya mengangguk dan menyajikan nasi goreng buatannya untuk pelanggan lain.
April dibuat menelan ludahnya sendiri saat mendekatkan sendok yang berisi nasi goreng ke hidungnya. "Baunya enak banget, ya Allah," ujarnya. Sebelum makan, April menangkupkan kedua tangannya untuk membaca bismillah dan mengucao syukur kepada tuhan. Barulah ia menyuapi dirinya sendiri.
__ADS_1
"Kak Husain enggak mau makan juga?"
"Enggak, deh."
"Kenapa? Nih, barengan yuk," tawar April menggeser piringnya mendekati Husain. Lelaki itu menggeleng pelan dan lanjut memainkan ponselnya. April mendengus dan memukul piring cukup keras dengan sendok. Husain terperanjat, ia memandang kekasihnya heran.
"Kenapa?"
"Enggak apa," jawab April singkat.
"Serius, Pril."
Punggung April menegak dan kepalanya terangkat tinggi, mencoba menyamakan posisi antara kepalanya dan Husain—yang tubuhnya jauh lebih tinggi. "Kak, April gapapa kalau mau main hape. Enggak mau makan juga gak apa. Tapi, kalau April ngomong, bisa kan matanya natep April jangan hapeee mulu," protes April. Meski bicaranya terkesan tegas, sesungguhnya dalam hati April ambyar. Kak Husain marah ga nih? Aduh goblok, Pril. Nanti dia marah gimana. Masa baru jadi pacar berapa hari undah ngatur-ngatur.
April kembali menatap nasi gorengnya dan menyantapnya lahap. Mengalihkan pandangan seutuhnya dari kekasihnya. Ia gugup sendiri.
"Katanya mau barengan, kalau lahap gitu gimana gue kebagian?"
Ucapan Husain membuat April membatu. Kepalanya menoleh amat pelan bagai terkena efek slowmo. "Kak Husain mau?" tanyanya.
Lelaki itu mengangguk dan mengambil sendok. Sesendok nasi goreng telah memasuki mulutnya. Indra perasanya perlahan membuatnya merasakan rasa gurih dan asin dari nasi goreng ini. Lumayan, batin Husain.
Mood April seketika terbang tak terbatas dan melampauinya. Dia baper akut. Padahal Husain enggak ngegombal atau melakukan hal yang spesial. Tapi hatinya sudah seberbunga ini.
Itu artinya, Kak Husain dengerin April ngomong dan menanggapinya serius.
***
"Makasih ya, Kak." Gadis berambut pendek bergelombang itu menyerahkan helm yang dipinjamnya ke si pemilik. Ia melambaikan tangan, mengucapkan kalimat perpisahan kepada sang pacar.
Baru Husain ingin menyalakan kendaraannya, pintu rumah tiba-tiba terbuka menampakkan seorang pria berkepala tiga dengan sarung terikat di pinggangnya. Pria itu berdiri di hadapan Husain dengan dada dan perut buncit yang membusung.
"Bapak ngapain?"
Pria yang dipanggil bapak oleh April memberikan tatapan menilai dari ujung sepatu hingga ujung rambut Husain, lelaki yang membawa pergi putrinya.
"Siapa ini, Pril?" tanya sang Bapak pada anaknya yang bergeming.
"Dia ini ... "
"Aduh, April dag-dig-dug serr."
__ADS_1