School Myth: When Lies Become Reality

School Myth: When Lies Become Reality
Tanggal 15


__ADS_3

Rencana memutuskan Husain gagal. Rencana mencari cara membatalkan mitos juga gagal. Sekarang April cuma bisa pasrah. Syukur-syukur bisa menghindari Husain hingga saat ini. 


******* lelah lolos dari bibir April. Matanya melirik kalender yang terletak di atas meja rias. Tanggal 15 April dilingkari oleh tinta merah. 


Langit yang sudah menggelap, bulan yang sedang bersinar terang-terangnya. Jam dinding yang sebentar lagi akan menunjukan pukul sepuluh malam. Ia tahu ini waktunya tidur. April membaringkan tubuh dan menatap langit-langit sebelum memeluk guling dan berbaring menghadap ke sebelah kanan. 


"Waktu berlalu cepat banget. Tiba-tiba udah besok aja harinya," gumam April sebelum memejamkan mata. 


***


Tidak sulit menghindari Husain hari ini. April jadi rindu melihat senyumannya. Tapi, ia juga kerepotan jika harus menghindar terus setiap bertemu. Melihat sosok lelaki itu pun tidak. April tak tahu harus sedih atau senang. 


Tak terasa bel pulang telah berbunyi. April menenteng tasnya ke luar kelas. Citra menyusul di belakang. 


"Ceilah murung lagi lo?" 


"Hm." 


"Dih, jutek. Gue inget kok ini hari apa. Tapi, gue lagi bokek, April. Kan kemaren kita jalan habis duit gue hari itu juga." 


"Hm." 


"Ham hem ham hem. Limbad lo? Gak bisa ngomong?" 


"Hm." 


Tangan Citra gatal untuk menabok mulut April atau setidaknya menggosok bibirnya kasar. Tapi, tenang, ia cukup sabar. Setidaknya, untuk hari yang spesial ini. 


Dering notifikasi khusus yang ia setel untuk orang yang juga khusus, berbunyi. Gadis itu mengetik sandi ponselnya, lalu membaca pesan yang baru dikirimkan orang itu semenit yang lalu. 


Ke ruang OSIS. 


"Pril," panggil Citra sembari menahan sebelah tangan April, matanya masih menatap ponsel. 


"Ke ruang OSIS dulu," pintanya. Tanpa menunggu persetujuan April, Citra menarik gadis itu menuju ruang OSIS yang letaknya dekat dengan gerbang sekolah. 


"Ngapain?" 


"Ada urusan gue." 


"Urusan apaan?" 


"Diam ih, ikut aja kenapa sih?" 


"Kok Citra maksa." 


Keduanya kini berdiri di depan pintu ruang OSIS. Seluruh jendela tertutup horden. Tangan Citra meraih kenop pintu dan mendorongnya ke dalam. Baru selangkah kakinya masuk, Citra mundur selangkah. 


"Kenapa mundur?" 


"Lo aja depan," ujarnya, lalu Citra mendorong April untuk berjalan di depannya. 


"What the—" Ucapan April terpotong saat mendengar suara terompet mainan yang biasa dijual di SD. 


"Cieee, yang sekarang 16 tahun!" pekik seseorang yang suaranya amat familiar di telinga April. Meski beberapa hari ini, suara itu sudah tak terdengar lagi di telinganya. 


"Isla?" 


Isla berdiri membawa sebuah kue besar berwarna cokelat gelap. Di sebelahnya, Husain membawa terompet mainan kecil di depan mulutnya, siap untuk ditiup kapan pun. Beberapa teman sekelas yang memang cukup dekat dengan April. Tak lupa teman-teman Husain membawa atribut pesta ulang tahun anak-anak seperti balon, topi kerucut, mainan, dan dandanan menor mirip badut. Dilihat dari ekspresi mereka, April sudah tahu kalau mereka terpaksa. 


"Kaget ya?" Isla tertawa, lalu meminta salah satu teman Husain, yang April ketahui bernama Reno, untuk menyalakan lilin di atas kue. 

__ADS_1


"Tiup dong," ajaknya setelah seluruh api menyala. April meniup semua lilin hingga padam, bersamaan dengan seluruh orang di ruangan itu menyanyikan lagu ulang tahun. Citra di belakangnya mengiringi dengan tepuk tangan. 


Ah, hati April luluh. Air matanya meleleh. 


"Hiks," tangis April. 


"Ehh? Kok nangis?" 


"Buset, bikin nangis anak orang lu, Sen!" kompor Ujang, memukul lengan Husain. 


"April kenapa nangis?" Isla panik, ingin mengelap air matanya tapi tangannya sudah penuh dengan kue.  


"Masa nangis sih?" 


"Jangan nangis." 


"Woi, elap air matanya!" 


Satu ruangan itu heboh cuma karena satu gadis yang menangis di tempatnya.


Duh, kenapa nangis, Pril?" Isla mengelap pipi basah April dengan jari-jarinya setelah menyerahkan tugas membawa kue pada Reno. Ia ingin mengatakan sesuatu, tapi ... sesegukan. Ngomong susah. 


"Kemaren liat lo sama Husain jalan, La," ucap Citra, menggemparkan satu ruangan. 


"Lo jalan bareng sahabat cewe lo sendiri? Parah lo, Sen. Lebih playboy dari gue." Mendengar ucapan Citra, Arais paham kenapa April mencari cara untuk membatalkan mitosnya. Alasannya yang tidak terduga. 


"Jalan doang, gak ada apa-apa," jelasnya, yang sama sekali tidak menyelesaikan masalah. Justru, kesannya saat ini, dia asalah pacar yang mengelak selingkuh padahal sudah dilihat langsung dengan kata kepala sendiri. 


Isla yang tahu bahwa Husain tak dapat diharapkan, menjelaskan seraya memeluk pundak April untuk dituntun ke kursi. "Kak Husain ngechat gue." 


Kalimat pertama yang ke luar dari mulut Isla membuat satu ruangan, kecuali Isla dan April, melotot menatap Husain yang bermuka datar. 


"Dia nanya tanggal ultah lo." Citrw menganggukkan kepala, mendengar dengan seksama. "Ya gue bilang, tanggal 15. Katanya, dia nanya soalnya dia gak tahu kapan lo ultah. Karena nama lo Aprilia, ya dia udah nebak lo lahir bulan apa. Tinggal tanggalnya aja." 


"Kak Husain yang ngajak." Kompak, satu ruangan menoleh dengan mata nyalang menatap Husain. 


"Dia mau nyari kado buat April." Citra mengernyit, sedikit lega hatinya. 


"Ngomong jangan sepotong-sepotong kenapa sih, La? Bikin jantungan aja lo!" 


Isla sedikit tersenyum, "Sori, reaksi kalian lucu." 


"Terus?" tanya April lesu. Isla mengusap puncak kepala sahabatnya itu, lalu berujar, "Gue jelasin semuanya, tapi makan kue dulu, yuk. Laper, kan?" 


Kepekaan Isla memang tingkat pro, karena dalam hitungan detik kemudian, perut April berbunyi. Ia hanya mampu menutup pipinya yang bersemu karena malu. 


***


Kemarin. 


^^^Kak Husain ^^^


^^^Islaini? ^^^


Isla yang baru selesai mengaplikasikan masker kopi ke kulit wajahnya, meraih ponsel di ujung meja. Nomor yang sudah dua tahun lebih tak pernah berinteraksi dengannya, kini mengirimkan pesan. 


Iya, Kak? 


^^^Gue mau nanya. ^^^


Sesaat, Isla bergeming. Memang, pertanyaan apa yang membuat Husain sampai harus bertanya padanya? Jari-jari Isla mengetik balasan dengan ringan di atas keyboard. 

__ADS_1


Nanya apa? 


^^^Lo tahu ultah April? Gue tebak dia lahir bulan April sih dari namanya. Gue belum tahu tanggal berapa, tapi. ^^^


Isla tertegun setelah membaca balasan terbaru dari nomor Husain. Ia berpikir sejenak. Ternyata dia bertanya tanggal ultah April, ya? 


^^^Lo tahu? ^^^


Pada akhirnya, Isla mengetikkan balasan singkat, 


15


^^^Ooh, thanks. ^^^


Harusnya, percakapan mereka berakhir di situ, sesuai dugaan Isla. Tapi, dugaannya salah. Tulisan 'mengetik ...' dibawah nama kontak Husain nampak. Tak lama, ia mengirimkan pesan ini.  


^^^Bantu gue cari kado, mau ga? Gue gak pernah milih kado buat cewek. Kalau ibu biasa juga dibeliin talenan atau daster. ^^^


Kalimat terakhir dari pesan itu membuat Isla terkikik. "Humor Kak Husain lumayan," pujinya, tentu saja ia tak akan menyampaikan pujian itu langsung ke orangnya. 


Bisa, kok, bisa. Hari ini kosong? 


^^^Kosong. Mau sekarang? ^^^


Heem.


Jam?


^^^Satu, deh. ^^^


Oke, aku siap-siap dulu, Kak.


Pesan terakhir dari Isla saat itu terkirim pukul 12:20. Usai itu, Isla secepat yang ia bisa membersihkan masker yang menempel pada wajahnya. Membuka lemari lebar-lebar dan memilih baju untuk dikenakan. Setelah yakin dengan setelan yang ia pilih, Isla menyemprotkan parfum sekitar empat hingga enam kali di sekitar dada dan ketek. Itu titik terbau tubuhnya. 


Sampe. 


Tepat, jam satu, kelewatan dua menit. Ya, karena itulah Isla bersiap-siap secepatnya. Ia cukup berpengelaman akan kecepatan Husain untuk datang saat janjian sesuatu. Pernah, saat SMP dulu, tersebar rumor bahwa Husain mempunyai pintu ke mana saja, karena itu telat tak pernah ada di kamusnya. 


Tak ada kendala yang terjadi hari itu. Semuanya berjalan lancar, terlalu lancar malah. Isla dan Husain, masing-masing bahkan sadar bahwa mereka hampir sedekat saat masa-masa SMP dulu. Canda, tawa, lalu jika terjadi kejadian lucu, tangan Isla pasti reflek memukul bahu lelaki itu.


Perasaan Isla enteng sekali, sejak perjalanan hingga pulang, semuanya menyenangkan. Sampai, ia menjadi takut.


Husain menghentikan motornya di depan gerbang rumah Isla. Membuka kaca helmnya untuk mengatakan sesuatu pada Isla.


"La," panggilnya sebelum Isla membuka pagar.


"Ya, Kak?"


"Bantu siapin surprisenya, mau?" tawar Husain.


"Surprise?"


"Ah, ya. Gue belum cerita. Niatnya, besok mau surprise-in April di ruang OSIS. Tapi, temen-temen gue cowok semua. Jadi, tentu butuh campur tangan cewek."


"Emm, gue pikir-pikir dulu, Kak."


"Sekarang aja deeh," paksa Husain.


"Ya udah, boleh deh. Rayain ultah April bareng-bareng, asik juga."


Husain tersenyum dan mengacungkan jempol pada Isla, kala menutup kaca helmnya dengan tangan yang lain.

__ADS_1


"Makasih," ucap Husain sebelum meninggalkann pekarangan rumah Isla. Tangan Isla yang melambai kini berhenti, lalu membuka pagar.


__ADS_2