
"Satu tambah satu? Dua.
Dua tambah dua? Empat.
Kak Husain tambah April? Jadi cinta sejati!"
***
April duduk di kursinya sembari bertopang dagu menatap Husain yang belum sadarkan diri. Tubuhnya masih dibalut seragam sekolah, April segera ke rumah sakit begitu bel pulang berbunyi bersama Arais. Helaan napas lelah lolos dari bibir April. Ia menenggelamkan kepalanya dalam tangannya yang terlipat di atas bangsal Husain.
Husain terbangun beberapa menit lalu. Menatap April yang tampak terlelap di sebelahnya. Saat Husain hendak menyentuh puncak kepalanya, April mendongak dengan mata yang belum terbuka sepenuhnya. Sadar bahwa Husain sudah tidak tertidur lagi. Gadis yang menjaganya heboh sendiri, sibuk menekan-nekan layar dan menelepon satu per satu orang-orang yang dekat dengannya. Husain menahan tangan April yang hendak menelepon lagi.
"Kak?"
"Jangan sibuk sama hape mulu."
"Akh, gemes. April kena panah Husain." Gadis itu menyentuh pipinya dengan kedua tangan.
"Sori," ujar April lalu memasukkan ponselnya ke saku seragam sekolah—dia belum mengganti seragamnya karena langsung ke sini setelah pulang sekolah.
"Makasih," ucap Husain disertai senyum lemah.
"Ah ...." Ucapan itu membuat April gelagapan. Kentara sekali ia sedang salah tingkah.
Puncak kepalanya sedang dielus oleh tangan yang kasar. Elusan yang lambat dan hangat. Ah, April ingin menangis. Tangis lega, sedih, bahagia, ada banyak emosi tercurahkan pada bulir air matanya kali ini.
"Rasanya, seperti ini pertama kalinya. Setelah bertahun-tahun, April mendambakan ini dan akhirnya mendapatkannya setelah perjalanan amat panjang. Padahal 'kan hubungan April dengan Kak Husain belum sampai sebulan, ya." Canggung sekali perasaan yang dirasakan April saat ini, ia tak pernah mengalaminya.
"Ini memang pertama kalinya gue mengelus kepalamu, April."
"April tahu," tapi, kurasa ada sesuatu yang lebih."
"Samponya ganti, ya? Baunya beda."
"Eh, Kak Husain kok sadar?" Pipi April memerah malu.
"Gue suka bau sampo yang lama."
"Oh! Be-besok April ganti yang lama lagi!"
"Ya, gak usah segitunya juga, sih," ujar Husain, lalu terkekeh meski luka di rahangnya terasa sakit.
Ada suatu trik yang ingin April coba sejak lama. April memikirkannya matang-matang, yakin seratus persen akan menggunakannya pada hari ini. Gombalan maut!
"Kak," panggil April ceria.
"Apa?"
"Satu tambah satu berapa?"
"Gue enggak nyangka selama gue tidur elo makin bodoh sampai soal kayak gitu pun masih nanya." Ada yang patah, tapi bukan tulang.
__ADS_1
"Jawab aja, ish!" protes April dengan tangan mengepal ingin memukul Husain. Tapi, mengingat tubuh Husain sendiri sudah mengenaskan, ia menurunkan tangannya.
"Ulang, ya. Jawab yang bener."
"Hm."
"Satu tambah satu?"
"Dua," jawab Husain masih dalam kebingungan.
"Dua tambah dua?"
"Agak nyeleneh cewek gue semenjak gue tinggal sakit. Eh, nggak sih, nyeleneh dari dulu." Husain tidak habis pikir pada April, tetapi ia ingin tahu sebenarnya ada ide unik apa lagi yg dimiliki gadisnya.
"Empat."
"Kalau Kak Husain ditambah April jadi?"
"Gak jadi apa-apa." Senyum April luntur seketika.
"Manusia enggak bisa ditambah, April. Bisanya, kalau dua manusia ditambah dua manusia, jadi empat manusia."
Oh, susahnya gombal sama orang serius.
April berdecak dengan pipi menggembung kesal. "Jadi cinta sejati, dong!"
***
"Gue mau minta tolong."
"Minta apaan?" ketus Arais.
"Cariin gue barang."
"Dih, lo pikir lo siapa nyuruh-nyuruh gue?"
"Kalau gue udah boleh jalan sendiri pasti gue sendiri yang beli." Itu pernyataan sederhana. Tapi, Arais skakmat.
"Oke, oke. Gue beliin. Barang apa?"
"Itu—"
"Ah, keknya gue tahu kenapa lo beli barang itu. Entar gue cariin, dah." Sambungan telah terputus.
Setelah itu, layar menunjukkan kalender bulan ini, bulan April. Sebentar lagi, akan berganti bulan baru.
Tiga hari setelah itu, Husain diperbolehkan rawat jalan dan ke luar dari rumah sakit. Tepatnya, hari ini. April bersorak dalam hati saat bersiap-siap menjemput Husain dan keluarganya di rumah sakit. Ketika ia sampai, Husain sedang duduk sendirian di kursi tunggu tanpa siapa pun menemaninya. Agak mengejutkan.
"Kok sendirian?" tanya April.
"Oh, udah dateng. Iya, lagi ke administrasi sama tebus obat." April ber-oh-ria dan mengambil kursi di sebelah lelaki itu. Ada sentuhan ringan di bahu April. Gadis itu menoleh ke arah pacarnya yang wajahnya ditutup oleh banyak sekali plester dan kapas. Husain tak terganggu akan tatapan prihatin April sedikit pun.
__ADS_1
"Mana tangannya? Gue mau kasih hadiah."
"Eh?"
Ini metode April pas mau gandeng tangan Kak Husain. Masa, sih?
April mengulurkan tangan kirinya sambil memejamkan mata. Menunggu kulit kasar Husain untuk bersentuhan dengannya.
"Yang satunya."
"Hm?"
Husain menarik tangan kanan April dan meletakkan sesuatu yang berat diatasnya. Saat April membuka mata, kotak musik dengan patung lilin di atasnya berputar seiring musik berjalan. Seorang laki-laki mengenakan jas formal dan wanita bergaun putih yang rambutnya disanggul dihiasi oleh bunga-bunga, adalah patung lilin itu.
"Ini kita?" tanya April polos dan geer setengah mati. "Kak Husain mau ngajak nikah?" Ia memekik gembira di benaknya.
"Bukanlah. Kan kita belum nikah."
Oh. April menatap kotak musik itu kaku. Agak tertohok akan ucapan Husain yang memang benar adanya.
"Happy anniversary one month," ucap Husain.
"Ini tanggal ...." April tak bisa berkata-kata. Ia tak pernah mengecek kalender lagi karena sibuk menjaga Husain dan mengerjakan tugas di penghujung semester.
"Satu mei," jawab Husain menunjukkan layar ponselnya yang menggunakan kalender bulan Mei sebagai wallpaper dengan tanggal satu dilingkari oleh warna merah terang. April merasa spesial.
"Mana tangannya?"
Hadiah lagi?
April mengulurkan tangan kirinya yang kosong. Tanpa berekspektasi apa pun, April sukarela menerima hadiah apa pun yang Husain berikan. Tapi, bukan barang yang ia beri. Melainkan sebuah genggaman tangan hangat. April terpaku.
Baru hitungan detik April merasakan sentuhannya, Husain menepis tangannya tiba-tiba. April mendongak hendak menatap wajah Husain. Yang ia temukan adalah wajah merah padam yang menunduk. Di seberang sana, tampaklah alasan kekasihnya bertingkah malu-malu, ibunya telah kembali dari ruang administrasi.
"Lucunya," batin April.
***
April dewasa mengucapkan kalimat terakhirnya pada pohon beringin sebelum pergi dan menunggu tahun depan untuk kembali. "Kau hidup bahagia dan kita mungkin bersama." Itu adalah kebohongan pahit yang merupakan doa dan harapan April. Air mata mengalir pada pipi kanannya.
April menelepon nomor teratas di log panggilannya. Sapaan biasa dari Citra terdengar. Dasar dewi judes.
"Urusannya udah selesai. Di pantai mana?"
"Pantai Tanjung Pasir," jawab Citra singkat.
"Gue ke sana, ya."
"Gak usah juga enggak apa-apa." April hanya berdeham panjang menanggapi jawaban ketus Citra.
"Pasti dia bete lagi," batinnya.
__ADS_1
Sepertinya sudah lama sekali sejak terakhir mereka berkumpul bersama. April rindu. Atau mungkin, ia ingin memastikan kabar baik mereka saja, dengan mata kepalanya sendiri. Mobilnya berjalan menuju pantai tujuan. Tempat orang-orang yang terus mendukungnya hingga titik ini.